Industri Susu Nasional Tertolong Pasokan Lokal - Rupiah Loyo, Harga Bahan Baku Impor Melambung Tinggi

NERACA

Jakarta - Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku susu impor perlu dibenahi. Apalagi, saat ini kondisi perekonomian Indonesia sedang tidak begitu baik. Sehingga, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyebabkan kenaikan harga bahan baku susu di pasar dalam negeri. Akan tetapi, pasokan bahan baku susu yang sebagian besar diimpor dari luar negeri tertolong susu segar produksi peternak lokal.

Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Budiana mengatakan, industri pengolahan susu sangat tertolong dengan keberadaan susu segar yang dihasilkan para peternak dalam negeri. "Di saat harga bahan baku susu impor naik, susu segar sangat menolong IPS karena ada selisih harga cukup lumayan," kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Harga susu segar saat ini, lanjut Teguh, dipatok sebesar Rp 4.900 per liter. Angka ini telah mengalami kenaikan dari bulan April lalu yang masih Rp 4.200 per liter. "Sedangkan harga bahan baku impor sebesar Rp 6.000 setara per liter, jadi ada selisih 20%. IPS akan sangat diuntungkan dengan susu segar," ujarnya.

Dia memperkirakan, pelemahan rupiah akan berlangsung lama sehingga diharapkan industri pengolahaan susu dapat menaikkan harga beli susu segar ke peternak. Susu segar, lanjutnya, memiliki keunggulan dibandingkan bahan baku susu impor yang masih perlu melalui proses pencairan dan pengolahan. "Susu segar aromanya khas, benar-benar fresh langsung dari sapi perah. Dan dari segi kualitas, susu segar punya kandungan gizi, seperti protein dan sebagainya," jelas Teguh.

Ke depan, dia mendesak pemerintah untuk merilis kebijakan pro peternak sapi perah lokal, misalnya dengan menggalakkan kampanye besar-besaran supaya masyarakat Indonesia gemar minum susu segar.

Sapi Produktif

Di samping itu, mengurangi penjanggalan sapi betina produktif untuk menjaga ketahanan produksi susu nasional. Pasalnya, diakui Teguh, pemerintah selama ini kurang memperhatikan nasib peternak lokal sehingga produksi susu di tanah air setiap tahun tidak mengalami perubahan alias stagnan.

"Setiap hari penyerapan susu segar hanya 1.800 ton per hari. Itu tidak berubah sudah sejak lama. Padahal peternakan sapi perah di Indonesia punya potensi membuka kesempatan lapangan kerja, dan lainnya," papar dia.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, Teguh memperkirakan produksi susu di tanah air hanya akan mampu memenuhi 10% susu dari kebutuhan nasional. Sedangkan perkiraan konsumsi susu mencapai 20 liter-23 liter per kapita per tahun.

Di tempat berbeda, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Syukur Iwantoro menyayangkan kalau saat ini kita belum punya industri susu setengah jadi, sementara yang seperti itulah yang dibutuhkan.

Industri membutuhkan susu setengah jadi untuk diolah menjadi berbagai macam produk, seperti susu bubuk. Kebutuhan ini masih ditambal oleh impor sebanyak 80 %. Sementara itu, produksi susu segar yang dihasilkan peternak sebagian besar untuk konsumsi masyarakat, bukan industri. Produksi susu segar mencapai 1,7 ton - 1,8 juta ton tahun ini. Angka ini naik sekitar 5 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Keberadaan industri susu setengah jadi diharapkan bisa memberikan nilai tambah pada peternak. Apalagi harga bahan baku susu impor mencapai Rp 6000 per liter. Sedangkan harga susu yang ditetapkan Industri Pengolahan Susu (IPS) sekitar Rp 4.300 hingga Rp 4.500 per liter. "Harga ini tergantung kualitas susu, semakin baik, insentifnya bisa diambah. Tapi kalau kualitasnya buruk bisa kena pinalti," ujar Syukur.

Saat ini Kementan juga tengah membenahi budidaya sapi perah agar bisa meningkatkan hasil produksi. Salah satu program yang sedang digenjot yaitu subsidi pakan yang diterapkan pada 100 kelompok peternak di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Anggaran untuk program ini sekitar Rp 100 miliar yang dimulai tahun ini.

Syukur mengatakan keterbatasan lahan membuat peternak sulit mendapatkan pakan hijauan. Padahal pakan ideal untuk sapi yakni yang proporsi hijauan lebih banyak dibandingkan konsentrat. Untuk itu, Kementan memberikan bantuan pakan yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan harapan terjadi peningkatan hasil setelah mutu pakan diperbaiki.

Kasubdit Mutu Pakan Olahan Direktorat Pakan Ternak, Kementerian Pertanian, Sri Basuki mengatakan sejauh ini sudah terlihat peningkatan produksi pada kelompok peternak yang diberikan subsidi pakan. Sapi yang umumnya hanya mengasilkan 10 hingga 12 liter per hari, produksinya bertambah 1 hingga 2 liter per hari.

Related posts