Golden Energy Longgarkan Kredit Anak Usaha - Perpanjang Waktu Hingga 2015

NERACA

Jakarta-PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) kembali memberikan perpanjangan fasilitas pinjaman kepada anak usahanya PT Kuansing Inti Makmur. Keduanya sepakat mengubah tenggat waktu pinjaman hingga akhir tahun 2015. Informasi ini disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Disebutkan, kedua perusahaan telah menandatangani perjanjian kredit pada 6 November. Plafon pinjaman GEMS pada anak usahanya yang bergerak di bidang pertambangan ini mencapai US$50 juta dengan suku bunga 8% per tahun untuk yang berdenominasi dolar, dan 12% per tahun yang dalam bentuk rupiah.

Sekretaris perusahaan PT Golden Energy Mines Tbk, Sudin mengatakan, dengan adanya perjanjian kredit yang disepakati, jangka waktu pinjaman yang seharusnya jatuh tempo pada 25 Oktober 2013 diperpanjang menjadi 31 Desember 2015. Menurut dia, perjanjian pinjaman sejatinya telah dilakukan sejak 25 Oktober 2010 lalu dan telah diubah beberapa kali. “Tujuan penggunaan pinjaman tersebut untuk modal dan biaya pengembangan infrastruktur pertambangan batubara.” ujarnya.

Selain Kuansing Inti Makmur, perseroan juga memberikan perpanjangan jangka waktu fasilitas pinjaman kepada PT Bara Harmonis Batang Asam pada 14 Agustus 2013 untuk pinjaman senilai US$50 juta, dengan tingkat suku bunga yang sama. Jangka waktu pinjaman tersebut berubah dari 19 Juli 2011-31 Juli 2013 menjadi 19 Juli 2011-31 Juli 2014.

Dana pinjaman ini juga digunakan untuk pengeluaran modal dan biaya pengembangan infrastruktur pertambangan batu bara. Sementara untuk fasilitas pinjaman yang diberikan kepada PT Karya Cemerlang Persada (KCP), perseroan telah memberikan penambahan fasilitas pinjaman dari US$20 juta menjadi US$25 juta.

Jangka waktu pinjaman pada 15 Oktober 2012-14 Oktober 2014 dengan suku bunga pinjaman 8% untuk dolar AS dan 12% untuk rupiah per tahun. Asal tahu saja, perseroan mencatat penurunan laba bersih menjadi Rp 179 miliar di tahun 2012 dibandingkan laba di tahun sebelumnya Rp 319 miliar. Penurunan laba tersebut diklaim sejalan dengan melemahnya harga jual batubara.

Meski demikian, perseroan mencatatkan peningkatan produksi sebesar 22% dari 4,39 juta ton di tahun 2011 menjadi 5,345 juta ton di tahun 2012. Volume penjualan meningkat sebesar 35% dari 5,689 juta ton di tahun 2011 menjadi 7,687 juta ton di tahun 2012, dengan volume trading 2,176 juta ton (1,576 juta ton di tahun 2011). (lia)

Related posts