Kenaikan UMP Beratkan Industri Sepatu - Upah Buruh 2014 Sudah Ditetapkan

NERACA

Jakarta - Polemik masalah pengupahan, antara buruh dengan pengusaha, memang seakan tidak ada habisnya.Namun, alangkah baiknya, apabila antara buruh, pengusaha dan pemerintah dapat duduk bersama untuk membicarakan masalah tersebut. Di sisi lain, penetapan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2014 akan sangat mempengaruhi industri sepatu dalam negeri, terutama yang bergerak dalam skala kecil dan menengah (IKM).

Ketua Pengembangan Usaha Dalam Negeri Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Marga Singgih mengungkapkan kenaikan UMP ini secara langsung atau tidak, akan menjadi masalah besar bagi industri persepatuan."Kondisi industri sepatu akan kian berat sebab penetapan UMP diprediksi ikut melambungkan harga bahan baku kulit yang mereka pakai. Meski diakui, kondisi ini tidak berlaku bagi industri yang memakai bahan baku biasa," jelas Marga di Jakarta, Senin (4/11).

Lebih lanjut Marga menambahkan, yang membuat beberapa industri sepatu yang awalnya berlokasi di wilayah DKI Jakarta memilih untuk hengkang pada tahun ini.Mereka mulai mencari wilayah dengan besaran UMP yang lebih rendah dari UMP di ibukota. Namun dia enggan menyebutkan secara detail berapa jumlah industri yang memutuskan pindah.

"Ada pabrik yg udah memindahkan pabriknya ke Bogor, Jawa Tengah, Jawa Barat, ke daerah-daerah yang upahnya lebih rendah dari Jakarta. Tapi jumlahnya belum pasti, karena tidak semua produsen sepatu anggota APRISINDO," tandas dia.

Padahal, upah pekerja sepatu di Indonesia saat ini dinilai sudah cukup tinggi dibanding beberapa negara produsen alas kaki lainnya, termasuk China.

Menurut data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo),upah pekerja di Indonesia mencapai US$ 1,03 (Rp 9.888) per jam. Adapun upah pekerja di China US$ 0,91 (Rp 8.736) per jam, Vietnam US$ 0,46 (Rp 4.416) per jam, dan Kamboja US$ 0,29 (Rp 2.784) per jam.

”Upah pekerja kita sudah tidak murah lagi karena, dari sisi produktivitas, pekerja China bisa menghasilkan sepatu dua kali lebih banyak dari di Indonesia. Kami minta pemerintah tidak berlebihan menetapkan kenaikan upah minimum karena biaya buruh sepatu kini sudah 25% dengan margin 5 %. Sisanya 60 % bahan baku dan 10 % lagi biaya overhead,” kata Ketua Dewan Pembina Aprisindo Harijanto.

Secara umum, upah pekerja pabrik sepatu di Tangerang, Banten, untuk 40 jam kerja seminggu kini rata-rata 179 dollar AS (Rp 1,71 juta) per bulan. Pekerja pabrik sepatu dengan 40 jam kerja seminggu di Qingyuan, China, menerima upah 159 dollar AS (Rp 1,52 juta) per bulan dan pekerja di Ho Chi Minh, Vietnam, menerima 95 dollar AS (Rp 912.000) per bulan.

Pabrik sepatu bermerek global terkena imbas unjuk rasa buruh menuntut penghapusan sistem kerja alih daya. Proses produksi sepatu seperti Adidas, Nike, dan Bata pun terganggu meski mereka mengklaim tidak memakai pekerja alih daya sesuai syarat pemilik merek.

Pengusaha sepatu resah karena ribuan buruh tetap mendatangi pabrik mereka dan memaksa pekerja ikut berunjuk rasa. Pabrik Harijanto yang mempekerjakan 10.000 orang saja dua kali berhenti berproduksi karena unjuk rasa itu.

Satu pabrik yang mempekerjakan 80.000 pekerja pun tidak luput dari aksi tersebut. Pabrik berhenti produksi akibat sedikitnya 6.000 anggota serikat buruh memaksa masuk ke pabrik. Harijanto menjamin pabrik- pabrik sepatu yang berorientasi ekspor tidak menggunakan pekerja alih daya sesuai dengan persyaratan pemilik merek yang memesan.

Kalangan pengusaha pun mengkhawatirkan tiga hal. Pertama, ketidakpastian hukum. Kedua, kenaikan upah minimum tidak sesuai mekanisme pengupahan yang ada. Ketiga, penegakan hukum atas perusakan, intimidasi, dan penyanderaan terhadap karyawan dan manajemen pabrik.

Seperti diberitakan, ribuan buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) pimpinan Andi Gani Nena Wea bergabung dalam Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI). Mereka berunjuk rasa di sejumlah kawasan industri di Jawa Barat dan Banten menuntut penghapusan pekerja alih daya (outsourcing), penetapan upah minimum sesuai angka kebutuhan hidup layak, dan iuran jaminan kesehatan pekerja ditanggung pemberi kerja.

Pabrik sepatu termasuk industri padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Setiap investasi satu pabrik sepatu bernilai 100 juta dollar AS (Rp 960 miliar), bisa menyerap sedikitnya 10.000 pekerja langsung dan 40.000 pekerja tidak langsung.

Harijanto mengatakan, industri sepatu merek global baru pulih dalam dua tahun terakhir setelah terganggu beberapa kasus investor kabur tahun 2005-2006. Indonesia pun kini masuk tiga besar produsen sepatu merek terkenal dunia bersama Vietnam dan China.

Related posts