Penjualan Unilever Tembus Rp 23,03 Triliun

NERACA

Jakarta – Dikuartal ketiga tahun ini, PT Unilever IndonesiaTbk (UNVR) mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp23,03 triliun atau naik 13,23% dibanding periode yang sama 2012 senilai Rp20,34 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (30/10).

Dijelaskan, naiknya penjualan bersih seiring dengan naiknya beban pokok penjualan menjadi Rp11,2 triliun dari Rp9,98 triliun. Selain itu, beban pemasaran dan penjualan bertambah menjadi Rp4,86 triliun dari Rp4,28 triliun serta beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp1,53 triliun dari Rp1,16 triliun. Namun penghasilan lain-lain berhasil naik menjadi Rp50,31 miliar dari Rp7,72 miliar.

Sementara itu, laba usaha perusahaan naik menjadi Rp5,49 triliun dari Rp4,93 triliun. Kendati demikian, penghasilan keuangan perusahaan menurun menjadi Rp7,72 triliun dari Rp26,13 triliun dan biaya keuangan berhasil dikurangi menjadi Rp29,22 miliar dari Rp53,74 miliar.

Adapun, laba periode berjalan pada akhir kuartal III/2013 tercatat sebesar Rp4,09 triliun atau naik 12,05 persen dibanding kuartal III/2012 senilai Rp3,65 triliun. Laba bersih per saham dasar meningkat menjadi Rp536 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp479 per saham. Jumlah aset perseroan per akhir September 2013 tercatat sebesar Rp13,34 triliun, bertambah dibanding posisi akhir tahun lalu senilai Rp11,98 triliun, dengan total utang akhir bulan lalu turun menjadi Rp7,83 triliun dari posisi akhir Desember 2012 sebesar Rp8,02 triliun.

Direktur PT Unilever Indonesia Tbk, Sancoyo Antarikso pernah bilang, hampir seluruh produk consumer goods mengalami kenaikan harga sekitar 5%. Kenaikan harga yang disebutkan tersebut merupakan kenaikan harga rata-rata dari seluruh produk. “Per 7 Oktober kami naikkan harga produk 2% karena pelemahan rupiah terhadap dolar," jelasnya.

Selain pelemahan rupiah, sambung dia, terjadinya kenaikan upah minimum provinsi (UMP) di awal tahun, dan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi pada Juni juga telah membuat beban pokok penjualan perseroan ikut naik. Oleh karena itu, hal tersebut menyebabkan harga produk yang dijual perseroan mengalami kenaikan hingga tiga kali sepanjang tahun ini.

Pihaknya mencatat, jumlah biaya produksi perseroan naik 7% dari Rp 6,575 triliun di Juni 2012 menjadi Rp 7,056 triliun di Juni 2013. Namun, secara over all pada semester pertama tahun ini perseroan mencatatkan kenaikan laba ke pemilik entitas induk naik 21,21% menjadi Rp2,82 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp2,32 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

Momentum Ramadhan dan Lebaran - Kimia Farma Bukukan Penjualan Tumbuh 20%

NERACA Jakarta – Selama Ramadhan dan Lebaran, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 10%-20%. “Kenaikan penjualan terjadi…

Yanaprima Bidik Penjualan Ekspor Naik 7%

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan pendapatan lebih besar lagi, PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) terus perluas pasar ekspor. Oleh karena…

Momentum Lebaran Kerek Penjualan Mega Perintis

NERACA Jakarta – Berkah momentum Ramadhan dan Lebaran kemarin, menjadi keyakinan bagi PT Mega Perintis Tbk (ZONE) bahwa penjualan perseroan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Surya Semesta Siapkan Capex Rp 770 Miliar

NERACA Jakarta – Emiten pengembang kawasan industri, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) mengalokasikan belanja modal sebesar Rp770 miliar pada…

Ketua DPR Dorong Perusahaan Go Public

Ketua DPR Bambang Soesatyo menginginkan lebih banyak lagi perusahaan yang melantai atau mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena…

Tetapkan IPO Rp193 Persaham - Satyamitra Kemas Oversubscribed 1,5 Kali

NERACA Jakarta - PT Satyamitra Kemas Lestari (SKL) menetapkan harga penawaran umum saham perdana sebesar Rp193 per saham. Harga penawaran umum…