Kearifan Lokal Pembentuk Karakter Pemuda

Oleh: Yos Rizal, Kandidat Doktor di Fakultas Ilmu Budaya USU Medan

Rabu, 30/10/2013

Di era globalisasi saat ini, mengatur masyarakat Indonesia yang heterogen bukanlah pekerjaan mudah. Arus globalisasi menjadi tantangan besar yang bersifat eksternal selain dari tantangan internal, yakni keanekaragaman budaya dan suku bangsa. Arus globalisasi yang membawa perkembangan dalam bidang teknologi dan informasi menjadi salah satu sebab semakin cepatnya terjadi perubahan pada masyarakat suatu bangsa. Perkembangan itu terbuka dan telah menjadi kebutuhan primer.

Bagi masyarakat yang belum memiliki kemampuan teknologi informasi dinilai belum mengikuti perkembangan globalisasi. Seperti dua sisi mata uang, globalisasi juga memberikan hal-hal yang positif tetapi banyak juga ada hal-hal yang negatif. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus mampu memfilterisasi perkembangan teknologi informasi tersebut sehingga tidak memberikan dampak negatif pada masyarakat, terutama budaya-budaya asing.

Menurut Edward B. Taylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Mengacu pada hakikat budaya maka akan timbul suatu permasalahan klasik yang sedang dihadapi oleh budaya itu sendiri terutama setelah adanya modernitas di segala bidang. Pelan-pelan budaya yang ada terutama tradisi-tradisi mulai ditinggalkan dan berdampak pada hilangnya beberapa tradisi kuno.

Tradisi yang ditinggalkan adalah tradisi-tradisi yang menurut kebanyakan orang tidak rasional atau tidak masuk akal. Modernitas tidak hanya dalam bentuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga perubahan pola pikir yang lebih mengedepankan rasionalitas. Perkembangan pemikiran rasionalitas mengancam keberadaan budaya-budaya kuno. Yang lebih mengerikan lagi, pemuda-pemuda indonesia banyak yang menggunakan pola pikir rasional dalam kehidupan sehari-hari.

Pemuda menjadi tumpuan keberlangsungan budaya-budaya tradisonal peninggalan leluhur bangsa Indonesia. Perkembangan yang menghawatirkan ditunjukan oleh pemuda-pemuda Indonesia berkaitan dengan kepedulian terhadap budaya yang ada. Banyak diantara mereka lebih tertarik pada budaya-budaya asing yang dianggap modern.

Budaya menjadi pegangan utama agar tingkah laku sebagai orang timur akan selalu terlaksana. Budya malu, andep asor, tata krama akan selalu dilaksanakan oleh masyarakat indonesia. Budaya-budaya seperti itu kini mulai pudar dan digantikan oleh budaya modern yang berasal dari luar. Padahal dalam budaya tradisi Indonesia terkandung nilai-nilai luhur dalam pemenuhan kebutuhan di era globalisasi ini. Salah satu nilai luhur tersebut adalah kearifan lokal.

Dalam hubungannya dengan kearifan lokal, setiap bangsa atau suku bangsa memiliki sumber yang berbeda dalam pembentukan karakter (character building) generasi penerus bangsanya. Dalam pembangunan karakter bangsa Indonesia, kearifan lokal menjadi sumber penting yang harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa. Meskipun pembangunan karakter itu berlaku universal, unsur-unsurnya ada di setiap suku bangsa di belahan dunia ini karena tujuannya adalah membentuk karakter yang baik, sumber dan perwujudannya berbeda karena apa yang dimaksud dengan tindakan “jujur” dalam suatu budaya tertentu tidak sama perwujudannya dalam budaya lain; apa yang dimaksud dengan “kerja sama” dalam budaya Melayu tidak sama dengan “kerja sama” dalam budaya Belanda.

Oleh karena itu, perlu dipahami, sumber dan perwujudan unsur-unsur karakter tersebut. Bagi bangsa Indonesai yang terdiri atas beragam etnik, sumber, dan perwujudan karakter itu berasal dari kearifan lokal, yang merupakan warisan nilai budaya leluhur kita.

Dengan demikian, pembangunan karakter sebenarnya relevan dengan kearifan lokal, yang berasal dari tradisi budaya bangsa kita. Pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan untuk pembentukan karakter pemuda kita.

Persoalannya, sejauh mana kearifan lokal itu telah dimanfaatkan untuk pembentukan karakter pemuda? Padahal, dampak manusia berkarakter atau manusia yang mengamalkan kearifan lokal sangat besar untuk keberhasilan seorang individu, bahkan keberhasilan suatu bangsa.

Di sinilah urgensinya kajian tradisi budaya untuk mendapatkan kearifan lokal sebagai warisan leluhur kita. Dengan kata lain, kita mengharapkan karakter bangsa kita berasal dari kearifan lokal kita sendiri sebagai nilai leluhur bangsa kita.

Atas dasar itu, karakter pemuda yang diharapkan adalah karakter yang berbasis kesejahteraan dan kedamaian. Karakter yang cinta kesejahteraan meliputi karakter yang bertipe pekerja keras, disiplin, senang belajar, hidup sehat, cinta budaya, gotong royong, tidak bias gender, dan peduli lingkungan; sedangkan karakter yang cinta kedamaian meliputi sikap yang berkomitmen, berpikir positif, sopan santun, jujur, setiakawan social, suka bersyukur, dan hidup rukun.

Pendidikan karakter berarti pendidikan kepribadian yang cinta kesejahteraan dan cinta kedamaian. Cinta kesejahteraan didasari oleh kearifan lokal inti etos kerja (core local wisdom of work ethics), sedangkan cinta kedamaian didasari kearifan lokal inti kebaikan (core local wisdom of goodness).

Beberapa Negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Cina, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Hasil penelitian di Negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Setelah kita mengenal kearifan yang kita miliki, baik sekali jika kita mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan metode kecerdasan yang dikemukakan oleh Daniel Goleman dengan melakukan secara berturut-turut (1) the ability to identify our emotion ‘kemampuan mengenali emosi diri’, (2) the ability to control our emotion ‘kemampuan mengendalikan emosi diri’, (3) the ability to motivate ourselves ‘kemampuan memotivasi diri’, (4) the ability to understand one’s emotion ‘kemampuan memahami emosi orang lain’, dan (5) the ability to make social relationship ‘kemampuan melakukan hubungan sosial’.

Penerapan pendidikan karakter yang berasal dari kearifan lokal sebagai warisan budaya leluhur akan menjadikan pemuda bangsa ini akan berhasil dalam bidang akademis dan ekonomi yang dapat mempersiapkan mereka menjadi sumber daya manusia yang beradab dan sejahtera di masa depan. Kita dapat melihat Negara-negara yang menerapkan pendidikan karakter di atas, semuanya menjadi Negara maju yang sejahtera.

Tiga Negara tersebut (Cina, AS, dan Jepang) masing-masing memiliki peringkat pertama dunia, kedua, dan ketiga tersejahtera. Apapun alasannya, inilah yang diidam-idamkan oleh semua manusia dan semua bangsa. Indonesia harus memberikan prioritas pada pembentukan karakter bangsanya berdasarkan budaya bangsanya demi persiapan masa depan generasi mendatang.

Dengan demikan, pemhaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter pemuda. Persoalannya sekarang, sejauh mana kearifan lokal itu telah dimanfaatkan untuk pembentukan karakter pemuda dan bangsa ini. Padahal, dampak manusia berkarakter atau manusia yang mengamalkan kearifan lokal sangat besar untuk keberhasilan individu, bahkan keberhasilan sebuah bangsa.

Tradisi budaya etnik, terutama yang ada di Kepulauan Riau, perlu digali, dilestarikan, dan direvitalisasi karena tradisi budaya itu memiliki nilai dan norma budaya yang bisa dimanfaatkan menjadi kearifan lokal untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan rakyat terutama melalui pembentukan karakter generasi muda (pemuda).

Karakter yang berbasis kearifan lokal akan menjadikan sumber daya manusia yang kuat dan memiliki modal sosiokultural yang kuat untuk memasuki dunia global. Mereka akan menjadi sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan emosional. Dengan karakter berbasis kearifan lokal, generasi muda akan mampu bertindak global untuk meraih kesuksesan karena kesuksesan merupakan milik orang-orang yang cerdas secara emosional dengan karakter berbasis kearifan lokal. (haluankepri.com)