Kuartal Tiga, BRI Bukukan Laba Rp 15,1 Triliun

Jumat, 25/10/2013

NERACA

Jakarta – Pada kuartal ketiga tahun 2013, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil membukukan laba Rp15,1 triliun atau tumbuh dibandingkan priode yang sama tahun lalu Rp13,01 triliun. Kata Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni, kinerja mendapat dukungan dari pendapatan bunga bersih Rp30,3 triliun dari Rp25,9 triliun, “Perseroan meraih pendapatan bunga sebesar Rp40,4 triliun namun menanggung beban bunga sebesar Rp10,3 triliun,”katanya di Jakarta, Kamis (24/10).

Kemudian untuk laba operasional mengalami kenaikan menjadi Rp17,6 triliun dari Rp15,5 triliun. Demikian juga dengan laba sebelum pajak naik menjadi Rp18,7 trilun dari Rp16,2 triliun. Dengan beban pajak 3,4 triliun maka laba bersih sebesar laba bersih menjadi Rp15,2 triliun dari Rp13,01 triliun. Selain itu, perseroan juga meraih kenaikan total aset menjadi Rp569 triliun dari Rp535,2 triliun per 31 Desember 2012. Untuk laba per saham menjadi Rp634,95 dari Rp542,64 per saham.

Achmad Baiquni menambahkan, perseroan meyakini pertumbuhan kredit ada di kisaran 22-23% pada tahun ini, seiring dengan melambatnya perekonomian domestik dan global.“Kredit sampai akhir tahun 22-23%. Kita perlambat. Biasanya pada akhir tahun ada BUMN-BUMN besar kita (debitor) dapat dana dari pemerintah jadi menurunkan outstanding-nya,”ujarnya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia meminta perbankan tidak terlalu ekspansif dalam penyaluran kredit dan mewaspadai gejolak perekonomian global serta perlambatan ekonomi nasional. Untuk mengawalnya bank sentral menurunkan batas atas aturan rasio kredit terhadap DPK atau loan to deposit ratio (LDR) dari 100% menjadi 92%, agar perbankan punya cukup likuiditas dalam menghadapi gejolak ekonomi.

BRI sendiri masih mencatatkan pertumbuhan kredit cukup tinggi sebesar 29,96% dalam setahunan menjadi Rp413,27 triliun pada triwulan tiga 2013, dibanding Rp318,01 triliun pada periode sama tahun lalu. LDR meningkat dari 85,23% pada September 2012, menjadi 90,88% pada September tahun ini.“Sekarang tinggi karena ada penarikan komitmen kredit. LDR sampai akhir tahun di 90-91% akan kita jaga,” imbuh Baiquni.

Sementara terkait dengan kondisi perekonomian saat ini, dengan tingkat inflasi masih cukup tinggi mencapai 8,40% pada September akibat imbas penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dinilai Baiquni tidak akan membuat tingkat kredit bermasalah (NPL) melonjak secara signifikan dan relatif masih bisa dijaga.“Apakah inflasi dampaknya NPL tinggi? Tahun 2005, inflasi 18,38% karena kenaikan BBM, ini NPL naik industri 8,33%, BRI 5,09%. Kita tidak perlu kuatir berlebihan. Saat itu inflasi hampir 20%, NPL masih 8% secara industri,” tukasnya.

Kendati terjadi gejolak ekonomi dan inflasi naik, perseroan masih mampu menjaga kualitas kredit yang terlihat lewat penurunan NPL dari 2,33% secara gross pada triwulan tiga 2012, menjadi 1,77% pada triwulan tiga tahun ini. (bani)