Kukuhnya Indonesia Menjadi Negara Liberal

Sabtu, 26/10/2013

Kukuhnya Indonesia Menjadi Negara Liberal

Pergaulan internasional yang bebas dan aktif, pada gilirannya memaksa Indonesia tidak hanya mengenal liberalisasi perdagangan bebas, tapi juga menjadi pelaku utama liberalisasi ekonomi itu sendiri.

Penegasan bahwa Indonesia menjadi bagian dari pakta negara-negara liberal diungkapkan kembali Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka pertemuan tingkat tinggi (KTT) para kepala negara anggota Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Bali, awal Oktober (8/10) ini.

Menurut Presiden, liberalisasi perdagangan itu bakal mampu mewujudkan kesejahteraan seluruh warga negara anggota. Caranya, kata Presiden, harus dipastikan bahwa hubungan perdagangan antar-negara APEC harus seimbang. "Pertama dan yang terpenting, kita semua perlu melaksanakan peran masing-masing guna mencegah kebijakan proteksionis, dan melanjutkan liberalisasi perdagangan di mana cara tersebut akan meningkatkan kesejahteraan semua warga,” kata Presiden.

Dia mengemukakan, sejak APEC didirikan 25 tahun lalu, liberalisasi perdagangan terus berkembang dan mampu menurunkan rata-rata tarif perdagangan hingga 70%. Sedangkan biaya pengurusan bisnis lintas negara juga menurun sekitar 5%. Alhasil, ada penghematan hingga US$ 59 triliun di sector perdagangan. Lalu, tingkat pertumbuhan ekonomi di Negara-negara kawasan APEC diperkirakan mencapai 6,3% pada 2013 dan 6,6% pada 2014. "Yang berarti lebih dari dua kali lipat rata-rata pertumbuhan dunia," ujar Presiden optimistis.

Setidaknya ada tujuh butir kesepakatan yang berhasil dirumuskan dalam pertemuan yang dihadiri seluruh kepala pemerintahan negara-negara anggota APEC minus Presiden Barack Obama. Presiden Obama urung datang ke Bali karena pemerintahannya tengah dilanda krisis likuiditas keuangan akibat perang politik di parlemennya sana.

Langkah-langkah itu adalah, pertama, menyepakati untuk memperkuat agenda Bogor Goals dengan cara memperkuat, mendorong, dan membuka kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan berpartisipasi dalam agenda APEC dan saling memberikan keuntungan bagi semua.

Kedua, para pemimpin APEC sepakat meningkatkan intra-APEC untuk infrastruktur, membangun kapasitas, dan memfungsikan perdagangan multilateral. “Referensi terhadap perdagangan multilateral ini adalah pengenalan pada perdagangan di antara anggota APEC yang membawa keuntungan lebih pada ekonomi dan kesuksesan dalam kerja sama multilateral di kawasan,” kata Presiden. Isu itulah yang nantinya akan diangkat Indonesia dalam pertemuan World Trade Organization (WTO) di Bali pada Desember 2013 nanti.

Langkah ketiga, para pemimpin APEC setuju untuk meningkatkan konektivitas institusi dan sumber daya manusia di antara anggota APEC. Untuk itulah, dibuat konektivitas yang menitikberatkan pada investasi dan infrastruktur.

Para pemimpin APEC menyampaikan bahwa hal ini akan mengurangi biaya produksi dan transportasi, serta memperkuat bahan baku dan memperkuat iklim usaha di antara anggota APEC. Di waktu yang sama, pembangunan infrastruktur akan menciptakan peluang pekerjaan.

Keempat, para pemimpin APEC memastikan pertumbuhan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Hal itu ditempuh dengan cara memfasilitasi dan memperkuat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta di kalangan kaum perempuan pengusaha dan kaum muda.

Berikutnya, kelima, memperkuat ketahanan pangan. Tujuan dari agenda ini adalah menghadapi tantangan pertumbuhan dan perubahan iklim. Keenam, para pemimpin APEC bersepakat untuk meningkatkan sinergi dan melengkapi dengan kerja sama multilateral yang lain seperti East Asia Summit dan G-20. Hal ini menjadi sangat penting karena dunia ini dibentuk dengan berbagai arsitek ekonomi yang berbeda.

Ketujuh, kerja sama di dunia usaha antarnegara APEC sangat penting untuk mencapaifree and open trade investment. Menurut Presiden, para pelaku usaha UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia.

“Sekarang kita memiliki semua perjanjian dan komitmen, kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa APEC akan terus memainkan peran penting dalam ekonomi global. Saya percaya bahwa semua ekonomi APEC akan berbagi tanggung jawab untuk mewujudkan komitmen-komitmen tersebut,” katanya.

Introspeksi Diri

Akhir-akhir ini, banyak stiker dengan gambar wajah mantan Presiden Soeharto. Isinya seolah-olah alm HM Soeharto mengungkapkan bahwa di zamannya berkuasai dulu masih lebih sejahtera dibandingkan era liberalisasi pemerintahan di bawah kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Le, piye, isih penak to jamanku,” ujar mendiang Pak Harto.

Lepas dari siapa yang memasang, isi pesan dari stiker itu ingin menunjukkan bahwa rakyat masih sejahtera jika dibandingkan dengan zaman sekarang. Benarkah demikian? (saksono)