Quantum Leap Semen Indonesia Menuju Regional Champion

Siap Bersaing di Pentas Global

Kamis, 24/10/2013

NERACA

Jakarta - Sektor infrastruktur sebagai penggerak roda perekonomian nasional menjadi perhatian utama pemerintah. Oleh karena itu, guna meningkatkan daya saing perekonomian dalam negeri, pemerintah terus agresif mengembangkan proyek-proyek infrastruktur, seperti Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI). Banyaknya proyek MP3EI yang ditawarkan pemerintah dengan nilai hingga puluhan triliun, rupanya memberikan berkah bagi industri semen dalam negeri.

Industri semen merupakan motor penggerak sektor infrastruktur dan properti. Tak heran, jika belanja publik atau pemerintah dan privat (swasta) di sektor properti dan infrastruktur dari tahun ke tahun terus meningkat. Bak gayung bersambut, tentunya ini menjadi peluang emas bagi produsen semen di Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas produksi seiring terus meningkatnya permintaan pasar dalam negeri.

Data ASI menyebutkan, pada Januari hingga April 2012 menunjukkan tingkat pertumbuhan demand semen mencapai 16,6% atau setara dengan volume semen sebesar 16,684 juta ton. Jika diasumsikan terjadi pertumbuhan di level moderate (6,5% per tahun) atas permintaan semen, pada tahun 2015 mendatang tingkat permintaan semen sebesar 56 juta ton, pada 2020 di angka 76 juta ton, dan 2030 mencapai 142 juta ton. Sedangkan sekiranya terjadi pertumbuhan di level optimistis (7,5% per tahun) atas permintaan semen, maka di tahun 2015 dibutuhkan semen sebesar 60 juta ton lebih, 2020 dengan 83 juta ton, dan 2030 dengan 163 juta ton.

Legitnya bisnis industri semen dalam negeri kedepan, memicu ketatnya persaingan industri ini hingga bermunculan pemain-pemain baru. Maka agar tidak kalah bersaing, banyak produsen semen dituntut untuk melakukan inovasi disamping agresif membangun pabrik baru untuk meningkatkan kapasitas produksi. Tak terkecuali PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) sebagai pemain lama. Perusahaan semen plat merah ini, tidak mau lengah ditengah ketatnya persaingan bisnis semen dalam negeri. Perseroan terus meningkatkan sinergisitas antar anak usaha yaitu Semen Padang di Sumatera, Semen Gresik di Jawa Timur dan Semen Tonasa di Sulawesi.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto mengatakan, sinergisitas yang solid adalah kunci untuk memenangkan persaingan bisnis semen dalam negeri, “Selain bangun pabrik, kami juga terus menambah distribution channel dengan jaringan gudang yang ada di seluruh Indonesia. Kami mempunyai 361 distributor, tentu saja itu akan terus bertambah seiring semakin luasnya pasar yang kami bidik,” kata Dwi.

Sinergisitas yang dilakukan perseroan juga dilakukan antar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis lainnya. Seperti, kerjasama patungan dengan PT Krakatau Steel Tbk untuk membangun pabrik slag powder, bahan baku pembuatan semen khusus dari limbah besi dan baja dengan investasi Rp310 miliar. Rencananya, pabrik dibangun di lahan seluas lima hektar milik Krakatau Steel di Cilegon.

Transformasi

Perubahan nama Semen Gresik menjadi Semen Indonesia, menadai langkah kecil perseroan untuk melakukan lompatan lebih besar lagi menjadi perusahaan semen terkemuka di regional dan global. Hal ini sudah dilakukan dengan mengakuisisi perusahaan semen Thang Long Cement (TLCC) di Vietnam dengan kepimilikan saham sebesar 70%. Tidak hanya itu, PT Semen Indonesia Tbk juga berniat untuk mengakuisisi pabrik semen di Bangladesh dan di Myanmar.

Kata Dwi Soetjipto, perseroan masih berencana mengakuisisi beberapa semen lagi di Asia Tenggara serta Bangladesh untuk memperkuat pasar penjualan, “Rencana akuisisi perusahaan semen di Bangladesh adalah sebuah upaya untuk naik kelas, “tegasnya.

Kapasitas produksi perseroan melalui empat pabrik yang dimiliki saat ini telah mencatatkan diri sebagai produsen semen terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dengan kapasitas produksi sebesar 30 juta ton per tahun. Sebelumnya, PT Semen Gresik yang kini menjadi Semen Indonesia berada di urutan kedua setelah Siang Cement dari Thailand dengan kapasitas produksi 22,5 juta ton per tahun. Kapasitas produksi pabrik semen di Thailand itu sebesar 24 juta ton per tahun. "Sekarang Semen Indonesia yang menjadi nomor satu di Asia Tenggara," kata Dwi.

Di dalam negeri, Semen Indonesia masih memimpin pasar semen dalam negeri. Tercatat hingga Agustus 2013, penjualan domestik naik 15,0% menjadi 15,90 juta ton atau mengungguli pertumbuhan penjualan pasar domestik sebesar 5,7%. Pangsa pasar mencapai 43,7%. Total penjualan naik 16,0% menjadi 16,09 juta ton.

Selain itu, perseroan juga mencatat penjualan sebanyak 18,50 juta ton hingga September 2013 atau tumbuh hingga 15,6%, dibandingkan priode yang sama 2012 sekitar 16 juta ton. Adapun untuk ekspor, kata Dwi, perseroan mencatat ada kenaikan signifikan yakni sebesar 485% menjadi 268,93 ribu ton, dibanding 2012 sebesar 45,95 ribu ton.“Peningkatan penjualan Semen Indonesia yang melampaui pertumbuhan industri didukung beroperasinya Pabrik Tuban IV dan Tonasa V, serta meningkatnya market share domestik menjadi 43,8% dari tahun lalu sebesar 40,9%,”ujar dia.

Tekan Efisiensi

Kemudian untuk menekan biaya logistik yang terlalu mahal, PT Semen Indonesia Tbk juga agresif membangun pabrik pengemasan dan pelabuhan khusus yaitu di Padang, Tuban, Gresik, Biringkasi, Dumai, Ciwandan, Banyuwangi, Sorong dan dua pelabuhan di Vietnam. Perseroan menargetkan pembangunan sebanyak 28 unit pabrik pengemasan atau "packing plant" hingga 2015, untuk memperlancar distribusi semen ke berbagai wilayah di Tanah Air.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk, Agung Wiharto mengatakan, hingga awal 2013 ini, sebanyak 19 unit pabrik pengemasan sudah dioperasionalkan, termasuk yang diresmikan terakhir di Kabupaten Sorong, Papua Barat, “Perseroan terus memperbanyak pabrik pengemasan dalam upaya menekan biaya logistik sehingga harga semen semakin terjangkau oleh konsumen,"ungkapnya.

Ke-19 pabrik pengemasan yang sudah dioperasionalkan PT Semen Indonesia, antara lain tersebar di Aceh, Belawan, Padang, Batam, Tanjung Priok, Tuban, Banyuwangi, Bitung, Samarinda, Celukan Bawang, Makassar, Palu, Ambon, dan Sorong. Agung Wiharto menjelaskan, dua pabrik pengemasan yang sedang dalam proses pembangunan adalah di Banjarmasin dengan kondisi 42% dan dijadwalkan beroperasi pada Oktober 2013, serta satu lagi di Balikpapan yang baru mulai dikerjakan. (bani)