Antara Pewarisan Nilai Budaya vs Kreativitas

REVITALISASI DAN MODERNISASI MENDU:

Senin, 28/10/2013

Oleh: Yos Rizal, Kandidat Doktor di Fakultas Budaya Universitas Budaya USU Medan

Upaya pelestarian budaya daerah sebagai aset bangsa dalam membangun kepribadian bangsa (nation building) memang mutlak diperlukan. Apalagi dalam budaya daerah tersebut terkandung nilai-nilai luhur untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat, yang lebih dikenal dengan istilah kearifan lokal (local wisdom).

Bahkan menurut Prof. Dr. Robert Sibarani, MS; pakar tradisi lisan dari Fakultas Ilmu Budaya USU, the local wisdom is the value of local culture having been applied to wisely manage the community’s social order and social life, Atau dapat diartikan bahwa kearifan lokal merupakan nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif atau bijaksana.

Sehubungan dengan itu, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan c.q. Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, menggelar acara Revitalisasi Mendu sebagai upaya pelestarian warisan pengetahuan tradisional (indigineous knowledge) dan ekspresi budaya tradisional, di Tanjung Pinang mulai tanggal 18 – 20 Oktober 2013. Sayangnya upaya ini dilakukan dengan tidak maksimal sementara tenaga pelaksana banyak melibatkan tokoh-tokoh, pejabat daerah di lingkungan Kemendikbud seluruh Indonesia, dan masyarakat kota Tanjung Pinang serta budayawan dan seniman dari Natuna dan Penyengat. Ini terlihat dari persiapan pagelaran pada malam kedua (19/10) yang terkesan lamban dan lokasi yang kurang memadai untuk pertunjukan sebuah kesenian.

Padahal event ini digagas oleh sebuah lembaga besar dan tentu saja, secara notabene, menganggarkan dana yang besar pula. Alangkah mubazir rasanya bila tidak dikemas dengan baik dan sedap dipandang mata. Sebab nilai estetika dari reportoar kesenian yang disuguhkan tidak dapat secara maksimal tertampilkan kepada audiensnya. Terkesan hanya menghabiskan anggaran saja karena tidak tahu lagi kemana akan dibuat anggaran yang telah dicanangkan. Hal ini tentu saja sangat mengganggu pandangan para pengamat dan kritikus budaya yang berhadir pada event tersebut. Tulisan ini merupakan hasil pengamatan penulis terhadap pagelaran kesenian dalam acara dimaksud di atas pada malam kedua, yakni pagelaran kesenian Melayu oleh salah satu grup kesenian di Kota Tanjung Pinang dan pementasan Mendu dari Kalimantan Barat.

Reportoar Kesenian “Lembayung”

Tanjung Pinang sebagai ibukota Provinsi Kepulauan Riau yang terkenal sebagai Kota Gurindam Dua Belas, ternyata tidaklah hanya isapan jempol belaka. Sudah banyak kegiatan kebudayaan yang berbau tradisi telah diselenggarakan, di antaranya event Tamaddun Melayu dan Revitalisasi Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Drama Mendu dan Cerita Rakyat di Kota Tanjungpinang, walaupun tingkat keberhasilan dalam upaya pelestarian budaya kepada generasi muda, masih perlu penelitan dan kajian yang lebih mendalam lagi.

Sebagai “tuan rumah”, Tanjung Pinang sebagai ibukota setelah pada malam sebelumnya (18/10) menampilkan kesenian Gazal dan Pementasan Mendu dari Natuna. Reportoar kedua bentuk kesenian tersebut tidak dapat penulis deskripsikan karena penulis tidak menyaksikannya. Pada malam kedua, tuan rumah, yang diwakili oleh Sanggar Lembayung, menampilkan tiga jenis atraksi kesenian yakni visualisasi Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, Marawis, dan Tari Zapin.

Pada reportoar visualisasi Gurindam Dua Belas, kreativitas anak-anak muda dari sanggar ini dapat kita beri acungan jempol. Keberhasilan menyampaikan pesan-pesan dalam gurindam tersebut sampai kepada audiens, apalagi iringan musiknya begitu merdu dan syahdu terdengar. Kemerduan ini terasa begitu syahdu terdengar dengan adanya suara vokal para pelantun gurindam sehingga menciptakan harmonisasi yang indah antara lagu, vokal, dan musik.

Sedikit saja yang mengurangi nilai estetis tersebut, reportoar itu tidak dilakukan di atas panggung utama melainkan dilantunkan dari sisi Barat panggung utama, tepatnya ditenda yang pencahayaannya sangat kurang sekali sehingga tidak kelihatan dengan jelas wajah dan ekspresi dari para pelantun visualisasi tersebut. Ini tentu saja mengganggu pemandangan penikmat atau audiens yang menghadiri reportoar pada malam itu. Hanya ada dua kemungkinan mengapa itu terjadi, pertama, kurang siapnya para pelantun untuk melantukan gurindam tersebut di hadapan ratusan penonton atau kedua, ada kebijakan yang diberlakukan pihak panitia penyelenggara. Sangat disayangkan apabila memang kedua kemungkinan itu memang kondisi riil dari reportoar yang ditampilkan pada malam itu.

Untuk reportoar Marawis sungguh sangat indah. Rentak gendang dan perkusi sungguh sangat harmonis dengan lead vocal yang menyanyikan dendang marawis. Harmonisasi yang tercipta membius penonton dan membuat penonton memberikan aplaus terhadap reportoar ini. Perlu dipertimbangkan lagi bila hendaknya ada harmonisasi vokal dengan menambahkan pendendang marawis untuk menampilkan suara dua dan tiga sehingga bisa lebih memperkaya dan menambah indah harmonisasi tersebut.

Begitu pula reportoar Tari Zapin yang kaya akan gerak dan langkah sebagai perlambang dinamisnya masyarakat Melayu di Kepulauan Riau khususnya di Tanjung Pinang. Pemilihan syair lagu Barakallah karya Mahir Zein, penulis anggap kurang tepat karena masih banyak lagu-lagu Melayu yang dapat mengiringi kedinamisan tarian zapin yang ditampilkan malam itu, sebagai perwujudan dari tema kegiatan yakni pelestarian budaya tradisi Melayu.

Terlepas dari segala kekurangan, reportoar yang disuguhkan oleh para generasi muda yang tergabung dalam sanggar Lembayung cukup memiliki nilai artistik dan estetis, mengingat sudah semakin jauhnya pengaruh globalisasi lewat media informasi dan teknologi kepada generasi muda saat ini.

Reportoar Mendu

Secara umum, genre (baca: sangre) atau jenis drama tradisional Melayu terbagi atas 4 (empat) yaitu Mendu, Menora, Mak Yong, dan Drama Bangsawan. Keempat jenis drama tradisional Melayu ini eksistensinya masih belum diketahui dengan pasti, apakah masih ada atau tidak, khususnya pada masyarakat Melayu di Sumatera. Berdasarkan informasi yang didapat, keempat jenis ini masih ada di Kepulauan Riau, namun intensitas reportoarnya masih diragukan karena semakin berkurangnya pewaris aktif maupun pasif.

Keempat jenis drama Melayu ini memiliki cirri-ciri tersendiri dan antara yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan dalam penyampaian atau pertunjukkannya. Kalau pun ada persamaan di antara keempat jenis drama ini, tidak lebih karena adanya intertekstualitas dalam berkarya dari para pendukung masing-masing jenis drama tersebut. Namun tetap saja keempat jenis ini memiliki keunikan masing-masing dan harus tetap dipelihara dan dijaga pelestariannya. Oleh karena itu, wajar saja bila Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk lebih proaktif dalam melestarikan seni tradisi ini agar jangan punah ditelan perkembangan zaman.

Dalam setiap pementasan teater, baik teater tradisional maupun teater modern, selalu ada dua hal yang saling mendukung. Kedua hal itu adalah Art dan Non Art. Art dimaksudkan sebagai orang-orang yang terlibat langsung dengan pementasan teater tersebut, sebut saja sutradara dan para actor, sedangkan Non Art dimaksudkan sebagai orang-orang yang mendukung terlaksananya pementasan tersebut, termasuk di dalamnya menejemen teaternya, seperti pimpinan produksi, penata musik, penata lampu, penata rias, dan penata panggung.

Kedua bidang ini saling menunjang dan tidak dapat dipisahkan dalam sebuah reportoar atau pertunjukkan teater. Begitu pula dengan reportoar yang dilakukan oleh rombongan teater Mendu dari Kalimantan Barat yang menggelar kesenian Mendu. Ada beberapa catatan kecil yang perlu diperhatikan dalam reportoar tersebut, seperti berikut ini.

Reportoar drama Mendu yang ditampilkan dari Kalimantan Barat didukung oleh 12 (dua belas) tokoh: Raja, Permaisuri, Putri Raja, Datuk Panglima, Punakawan, Bujang, Ibu Bujang, Raksasa 1, Raksasa 2, Kera Putih (Hanuman?), Ahli Nujum, dan Putra Raja Kerajaan Tetangga. (haluankepri.com)