Rupiah Loyo Hambat Pertumbuhan Manufaktur

Industri Non Migas

Selasa, 22/10/2013

NERACA

Jakarta - Industri manufaktur suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan dan tenaga kerja dan suatu proses untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi untuk dijual. Istilah ini bisa digunakan untuk aktivitas manusia, dari kerajinan tangan sampai ke produksi dengan teknologi tinggi, namun demikian istilah ini lebih sering digunakan untuk dunia industri, dimana bahan baku diubah menjadi barang jadi dalam skala yang besar.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengungkapkan melemahnya nilai tukar rupiah dan neraca transaksi berjalan menjadi penghambat dari pertumbuhan manufaktur atau industri non migas di dalam negeri.“Sekarang tinggal mengendalikan kestabilan nilai tukar rupiah dan currency account supaya tidak makin defisit. Saya kira ini problem kita sekarang. Akhir tahun, current deficit pasti masih ada, tapi tidak akan lebih dari tahun sebelumnya,” ungkapnya di Jakarta, Senin (21/10).

Lebih lanjut Hidayat memperkirakan sampai akhir tahun ini, pertumbuhan industri non migasmencapai kisaran 6-6,5 %."pertumbuhan industri non-migas akan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional karena krisis ekonomi yang diharapkan sudah berakhir. Dengan berakhirnya perlambatan ekonomi tersebut, pertumbuhan industri non-migas berpeluang tumbuh di atas," kata dia.

Faktor pemicu lain, imbuh Hidayat adalah banyaknya investasi yang mulai terealisasi, yaitu mulai beroperasinya pabrik Posco dan Honam pada akhir tahun. Posco dan Honam merupakan dua investor kakap asal Korea Selatan yang berinvestasi di sektor baja dan kimia.

Posco menggandeng PT Krakatau Steel Tbk mendirikan perusahaan patungan PT Krakatau Posco dengan rencana investasi total mencapai US$ 11 miliar atau lebih dari Rp 110 triliun untuk membangun pabrik baja. Adapun Honam berinvestasi melalui anak usahanya, PT Titan Kimia Tbk, membangun kompleks petrokimia terintegrasi di Cilegon, Banten, senilai US$ 5 miliar atau lebih dari Rp 50 triliun.

“Beberapa industri besar, kan, mulai berjalan. Akhir Desember ini, industri baja terbesar kita mulai berproduksi karena akan diresmikan Presiden pada 23 Desember. Industri besar petrokimia kita bisa mulai berjalan tahun depan. Kita juga, kan, masih mengejar industrialisasi dari mineral, smelter besar,” papar Menperin.

Pertumbuhan industri non-migas semester I tahun ini mencapai 6,58 %. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama, yaitu 5,92 %. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, cabang industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri logam dasar besi dan baja sebesar 12,98 %; industri alat angkut, mesin dan peralatan 9,40 %; industri barang kayu dan hasil hutan lainnya 8,45 %; serta industri pupuk, kimia, dan barang dari karet 8,03 %.

Pertumbuhan industri pengolahan non-migas yang tinggi tersebut ditopang oleh tingginya investasi di sektor industri serta konsumsi dalam negeri. Nilai investasi modal dalam negeri sektor industri pada semester I tahun 2013 sebesar Rp 26,92 triliun atau meningkat sebesar 30,61%, sedangkan nilai investasi modal asing sektor industri mencapai US$ 8,01 miliar atau meningkat sebesar 46,72% dibandingkan periode yang sama tahun 2012.

Sekedar informasi Industrialialisasi di Indonesia mulai berkembang pesat saat Bapak Soeharto menjabat sebagai presiden. Puncaknya adalah mampunya Indonesia menerbangkat pesawat buatan anak negeri sendiri, yaitu N250 – Gatotkaca yang pada waktu itu dipelopori oleh BJ. Habibie. Setelah sukses melakukan peluncuran tersebut, makin banyak industry-industri di Indonesia yang berdiri. Kawasan Industri pun semakin bertebaran. Di Jawa Timur sendiri, terdapat beberapa kawasan industri yang terkenal. Seperti di daerah Surabaya, Gresik, Malang, dan lainnya. Mulai dari Industri berat sampai industri-industri kecil.

Dengan semakin berkembangnya Industri tersebut, maka dalam Industri tentunya diperlukan sebuah keilmuan yang berhubungan dengan proses produksi industri tersebut, khususnya industri manufaktur. Salah satu ilmu yang diperlukan adalah Proses Manufaktur. Yaitu proses pembuatan produk manufaktur mulai dari pencampuran bahan baku, proses pengecoran, pembentukan, hingga finishing. Dalam kehidupan manusia, ilmu ini dapat diimplementasikan untuk membuat alat-alat kehidupan sehari-hari.