Bisnis Perikanan Budidaya Kini Tidak Lagi Berisiko Tinggi - Dampak Penerapan Teknologi dan Modernisasi Proses Produksi

NERACA

Sumbawa – Jika dulu sektor perikanan dinilai berisiko tinggi (high risk), maka sekarang, label itu tidak lagi tepat disematkan pada bisnis perikanan, termasuk di dalamnya perikanan budidaya. Karena risikonya semakin bisa dikalkulasi (calculated risk), dunia perbankan mulai getol menyalurkan kredit kepada para petambak. Walhasil, para investor berduyun-duyun menanam modal di sektor perikanan.

“Kalau dulu, perikanan ini memiliki risiko yang hinggi, tetapi budidaya perikanan ini sekarang sudah bisa dikalkukasi. Jadi kalau dulu high risk, sekarang calculated risk. Artinya, risikonya bisa diperhitungkan. Karena apa? Karena sekarang sudah bisa dilakukan dengan teknologi yang cukup maju. Informasi yang mudah kita dapet. Dan yang paling penting adalah modernisasi dalam pengelolaannya,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo di Desa Motong, Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (19/10).

Karena sudah bisa diperhitungkan (calculated risk), sambung Cicip, maka sejak beberapa tahun belakangan, para pengusaha berduyun-duyun menanamkan modalnya di sektor perikanan budidaya, termasuk budidaya udang. “Kita juga mensyukuri dari perbankan ikut membantu kredit permodalan. Perbankan, bukan hanya BRI, tapi juga bank lain, sudah memberikan dana,” imbuhnya.

Sharif Cicip Sutardjo menyebut, karena masalah iklim, perubahan cuaca, gempa dan segala macam, tatanan ekosistem laut berubah sehingga produksi perikanan tangkap stagnan. Bahkan di negara-negara lain, produksinya sudah mulai menurun. Di tengah kenyataan stagnasi produksi perikanan tangkap dalam lima tahun belakangan, Menteri Cicip melihat perikanan budidaya sangat prospektif untuk dikembangkan.

“Revitalisasi tambak udang ini penting karena di seluruh Indonesia, masih dipakai kurang lebih baru 10% daripada lahan yang ada di seluruh Indonesia ini. Ratusan ribu hektar, tapi yang dipakai baru mungkin puluhan ribu. Sehingga kita masih punya kesempatan untuk meningkatkan lagi budidaya perikanan di Indonesia,” ujar Cicip.

Pada tahun lalu, kata dia, KKP telah menjalankan program revitalisasi di Jawa Barat dan Banten. “Tambak percontohan sudah kita lakukan di sana. Maka dengan calculated risk ini, maka berduyun-duyun pengusaha bekerjsama dengan perbankan. Itu hasil dari revitalisasi tahun lalu. Dua menteri sebelum saya sudah mencanangkan revitalisasi ini. Tapi baru tahun 2012, revitalisasi ini berjalan. Dan alhamdulillah, kenaikan produksinya cukup tinggi. Karena dengan adanya pekerjaan atau sistem yang kita lakukan di 2012 ini bisa berjalan,” paparnya.

Nilai Tambah

Selain menggenjot produksi, KKP, menurut Cicip, juga terus berusaha meningkatkan nilai tambah di sektor perikanan. Nilai tambah dan peningkatan daya saing, sebutnya, bisa dicapai dengan percepatan industrialisasi dengan konsep ekonomi biru (blue economy).

“Kenapa industrialisasi, karena selain meningkatkan nilai tambah, lapangan pekerjaan, juga kualitas perikanan dari Indonesia ini bisa diakui oleh dunia. Udang dalam hal ini, adalah salah satu unggulan untuk ekspor. Termasuk rumput laut, bandeng, patin. Dari empat komoditas ini kita harapkan peningkatan produktivitas dan nilai tambah,” ujarnya.

Di samping nilai tambah, Cicip juga meyakini, sektor perikanan adalah salah satu bagian dari menciptakan ketahanan pangan. “Kita harus melihat perikanan sebagai komoditas untuk meningkatkan ketahanan pangan di dalam negeri. Karena selama ini, yang selalu dibicarakan, kekurangan beras dan daging sapi,” ungkapnya.

Cicip merinci, konsumsi daging sapi saat ini hanya 2,5 kg/kapita/tahun. Daging sapi, dengan harnya yang mahal, anya dimakan oleh orang-orang yang punya uang. Tetapi kalau ikan sudah mencapai 32 kg/kapita/tahun.

“Artinya dari masyarakat paling kecil penghasilannya sampai yang paling besar, itu semua makan ikan. Karena ikan punya nutrisi yang baik, gizi yang baik, sehingga ikan itu bisa memberikan kesehatan lebih daripada daging merah. Makanya saya berusaha terus menerus, selain menambah produksinya, saya selalu mensosialisasikan bahwa makan ikan penting bagi kesehatan dan perekonomian kita,” cetusnya.

Dijelaskan Cicip, perikanan adalah salah satu penopang kemajuan perekonomian Indonesia ke depan. “Maka pengusaha, petambak, yang akan membuktikan bahwa perekonomian Indonesia akan maju dengan dukungan dari pengusaha dan petambak. Di situlah sesungguhnya, kita bisa membuktikan, bahwa perikanan ini bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia,” ujar Cicip.

BERITA TERKAIT

Bisnis Angkutan Bis Lorena "Tidak Bertenaga" - Catatkan Rugi Rp 17,66 Miliar

NERACA Jakarta – Performance kinerja keuangan PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) masih membukukan raport merah. Ketatnya persaingan bisnis…

Lagi, CIMB Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) akan melakukan penawaran obligasi berkelanjutan II tahap III tahun 2017 dengan jumlah pokok Rp2…

KIOS Bilang Refleksi Minat Cukup Tinggi - Sahamnya Disuspensi BEI

NERACA Jakarta – Lantaran mengalami kenaikan harga saham dan waran di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya melakukan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Jelang 60 Tahun RI-Jepang - Menperin Pacu Kolaborasi Pengembangan Sektor Industri

NERACA Jakarta – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Industri Transportasi - Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…