BEI Tidak Berani Pasang Target Muluk

Masuki Tahun Politik

Jumat, 18/10/2013

NERACA

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai tahun pemilihan umum (pemilu) 2014 akan berpengaruh terhadap minat pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). Oleh karena itu, pihak otoritas tidak mengubah target jumlah emiten baru yang akan melepas sahamnya di pasar modal. “Tahun depan, BEI tidak menaikan target perusahaan yang melaksanakan IPO, masih sama dengan tahun 2013, yaitu sebanyak 30 emiten.” kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito di Jakarta, Kamis (17/10).

Menurut dia, pada tahun pemilu ada kekhawatiran dari para calon emiten untuk melepas sahamnya dan lebih memilih untuk wait and see. Salah satunya, terkait penyerapan sahamnya di pasar. “Bukan pesimis, tapi banyak yang melakukan wait and see di tahun Pemilu, jika tetap IPO di saat itu takut berdampak kurang baik terhadap penyerapan sahamnya,” ujarnya.

Meski demikian, sambung dia, secara historis pada tahun pemilu tidak berdampak pada transaksi perdagangan, dan bahkan mengalami peningkatan. “Biasanya di tahun pemilu, belanja negara dan masyarakat meningkat maka perdagangan saham juga ikut meningkat karena kapasitas investasinya tentu mengalami peningkatan. Pemilu di 2009 misalnya, IHSG bisa naik 87%.” tuturnya.

Targetnya, kata dia, rata-rata nilai transaksi saham selama 2014 mencapai Rp7 triliun dengan jumlah hari 244. Angka tersebut lebih tinggi dari tahun ini yang mencapai Rp6,5 triliun per hari. Selain itu, pihaknya juga menargetkan sebanyak 60 emiten melakukan pencatatan tambahan (right issue dan saham bonus), 57 emisi obligasi korporasi, dan 65 seri negara.

Pihaknya mengasumsikan, indikator ekonomi di tahun depan yang meliputi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 6,5%, inflasi 4,5-5,5%, suku bunga SPN 3 bulan 6,5%, suku bunga deposito 6,5% dan nilai tukar rupiah Rp10,500 per USD. Dengan beberapa asumsi tersebut, pihaknya pun optimistis dapat memperoleh pendapatan usaha bersih Rp653,54 miliar. Jumlah tersebut berasal dari pendapatan usaha Rp706,53 miliar dikurangi dengan biaya tahunan seebagai setoran atas penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp52,99 miliar.

BEI juga diproyeksikan akan memperoleh pendapatan lain-lain sebesar Rp93,65 miliar, sehingga pendapatan BEI pada 2014 bisa mencapai Rp7477,19 miliar. Dengan demikian, setelah dikurangi biaya usaha selama 2014 sebesar Rp620,34 miliar, laba yang diperoleh sebelum pajak akan mencapai Rp126,85 miliar. “Setelah dikurangi estimasi beban pajak Rp11,02 miliar, maka nilai laba bersih bisa menjadi Rp115,83 miliar,” jelasnya.

Di sisi lain, investasi yang akan dilakukan BEI tahun depan diproyeksikan mencapai Rp103,81 miliar atau meningkat 15,85% dibandingkan dengan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2013–revisi yang sebesar Rp89,61 miliar. Kenaikan tersebut disebabkan ada beberapa inisiatif investasi strategis baru di bidang teknologi informasi yang akan dilakukan BEI, di antaranya pada sistem perdagangan, sistem edukasi pasar modal, sistem pelaporan emiten, dan sistem perkantoran yang terintegrasi.

Dengan demikian, total aset BEI pada tahun 2014 diproyeksikan akan mencapai Rp1,7 triliun atau naik 10,32% dari RKAT 2013. “Adapun saldo akhir kas dan setara kas di 2014 diproyeksikan bisa mencapai Rp1,08 triliun,” ucapnya. (lia)