Terapkan Busmetik, KKP: Pacitan Punya SDM Handal

Jumat, 18/10/2013

NERACA

Pacitan – Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Suseno Sukoyono mengakui, pengembangan percontohan Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) di Pacitan baru pertama kali dilakukan. Namun, lanjut Suseno, karena punya Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, Suseno yakin, Busmetik di daerah tersebut bakal berjalan sukses.

“Kalau di Pacitan ini yang bagus SDM-nya. Ini kelebihannya di manusianya,” kata Suseno pada acara penebaran benih udang vannamei bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di area tambak plastik dengan teknologi Busmetik yang dikembangkan di Kedong Gombang, Dusun Soge, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Rabu (16/10).

Suseno juga bercerita, tingkat kesulitan yang lebih tinggi telah dialami program Busmetik di daerah lain. Di Aceh dan Bone, misalnya, yang menurut dia, memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi karena selain dilakukan oleh para pembudidaya pemula, juga karena infrastruktur yang kurang memadai dan lokasi yang jauh dari jalan raya. Toh, dengan segala kesulitannya, Busmetik di daerah-daerah tersebut berlangsung mulus.

Sementara itu Kepala Pusat Pendidikan BPSDMKP I Nyoman Suyasa menggarisbawahi bahwa salah satu teknologi yang berhasil dikembangkan oleh STP di Serang adalah Busmetik. “Busmetik setelah diuji-coba, sampai 24 kali, tidak pernah gagal. Produksinya meningkat terus. Terus kita mulai melatih masyarakat. Melalui penyuluh, kita bersinergi dengan pembudidaya. Secara teknis, Busmetik langsung di bawah bimbingan STP Serang. Sampai panen, kita akan kawal.,” beber Nyoman.

Ketua Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Mulyo Sari Widodo menjelaskan, pengerjaan empang (kolam, tambak) Busmetik tersebut menggunakan alat berat sehingga hanya butuh waktu dua minggu. Dia merinci, benih yang ditebar per meter perseginya 200 ekor. Jumlahnya satu petak empang yang luasnya 600 meter persegi adalah 120.000 ekor benih. “Ada, empat petak, tapi yang satu buat tandon air. Yang diisi benih tiga petak,” jelasnya.

Widodo yang sebelumnya bekerja di bidang penangkaran kelapa dan kakao, sejak adanya Busmetik pindah ke tambak sebagai pembudidaya meskipun usaha penangkaran kelapa masih tetap jalan. Harap dia, usaha budidaya Busmetik bisa menjangkau orang kecil, pengerjaannya mudah, dan murah. Apalagi masa masa panen relatif singkat, hanya tiga bulan per siklus. Dia perkirakan, untuk pertama kali, hasil udang yang didapat dari tambak percontohan ini bisa mencapai 4 ton.

Tingkat Keberhasilan

Kepala BAPPL-STP Serang Tb. Haeru Rahayu selaku pengarah dan inisiator Busmetik di Pacitan mengatakan, Busmetik adalah sebuah inovasi. Latar belakangnya, sambung “Pak TB”, sapaan akrab Haeru, ada tiga. Pertama finansial, karena dengan Busmetik, tambak bisa dilakukan dengan skala kecil, dan oleh masyarakat menengah ke bawah. Kedua, teknologi, karena penyakit dapat dikontrol lebih mudah ketimbang empang berukuran besar. Latar belakang ketiga adalah pendidikan, karena STP adalah lembaga pendidikan, Busmetik bisa untuk media pembelajaran.

“Perpaduan secara teknologi, secara finansial, dan secara sosial, maka muncullah yang disebut Busmetik ini. Ini terobosan dan inovasi yang kami persembahkan kepada Ibu Pertiwi. Kami melihat Pacitan sebagai salah satu prioritas karena SDM-nya handal,” ujar Haeru.

Kenapa Busmetik sampai di Pacitan, Haeru menjawab, karena tingkat keberhasilan program ini di daerah sangat memuaskan. “Di Aceh, Lampung, Bone, sudah ada. Di Papua, sudah kita lakukan. Di Pacitan ini adalah embrio pemberdayaan masyarakat. Kami mentransfer teknologi. Kenapa bank memberi pinjaman, karena modalnya kecil dan prospeknya bagus,” tandasnya.

Haeru mencontohkan, untuk penebaran 200.000 benih, paling sedikit bisa menghasilkan 1,5 ton udang. “Kalau tiga petak tadi, paling sedikit 4,5 ton. Kalau di Serang, di tempat kami, hanya dengan 200.000, kami bisa dapatkan 1,8-1,9 ton,” sebut dia.

Kelebihan sistem Busmetik ini terutama terletak pada kebutuhan lahan yang tidak luas, sehingga pengelolaannya relatif lebih mudah dengan biaya produksi lebih murah dan terjangkau apabila dibandingkan dengan budidaya udang dengan sistem konvensional.

Setiap meter persegi kolam, jumlah benur vannamei yang ditebar sekitar 200 ekor. Sehingga per petak tambak diisi oleh 120.000 ekor benih udang. Perkiraan hasil produksi, setelah dibudidayakan selama 100 hari, mencapai 1.542 kilogram alias 1,5 ton dengan tingkat kematian hanya 10%.

Melalui kunjungan Presiden di lokasi Busmetik Kabupaten Pacitan, diharapkan teknologi ini dapat berkembang pesat di masyarakat setempat, hingga menyebar ke daerah-daerah sekitarnya. Diharapkan pula Kabupaten Pacitan dapat menjadi contoh yang baik dalam penerapan Busmetik untuk ditiru oleh Kabupaten/Kota lain di Indonesia.