Multipolar Serap Belanja Modal Rp 128,8 Miliar

NERACA

Jakarta – Sampai dengan September 2013, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) telah menggunakan dana hasil penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sebesar Rp128,8 miliar atau 71,56% dari total dana IPO. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Dijelaskan bahwa total dana IPO sebesar Rp180 miliar dan setelah dikurangi biaya penawaran umum menjadi Rp177,32 miliar. Berdasarkan rencana dalam prospektus, dana IPO tersebut dialokasikan untuk belanja modal sekitar 28 persen dari toal dana IPO atau sekitar Rp50 miliar, sekitar 26 persen atau Rp46,5 miliar untuk pembayaran utang pemegang saham dan sisanya 46 persen atau Rp80,82 miliar untuk modal kerja.

Sementara realisasi dari dana IPO hingga akhir bulan lalu telah digunakan untuk pembayaran utang pemegang saham dan modal kerja. Sedangkan belanja modal baru digunakan sekitar Rp1,5 miliar. Dengan demikian, sisa dana IPO perseroan sebesar Rp48,53 miliar. Dana tersebut disimpan dalam bentuk giro di Bank CIMB Niaga dan Bank Permata. MLPT mencatatkan sahamnya di BEI pada 8 Juli 2013 dengan melepas 375 juta lembar saham ke publik pada harga Rp480/lembar saham.

Wakil Presiden Direktur PT Multipolar Technology Tbk, Wellianto Halim pernah bilang, pelemahan nilai tukar rupiah atas mata uang dolar tidak berdampak signifikan terhadap kinerja perseroan. Meskipun, 90% dari biaya operasional untuk pembelian barang (pengeluaran) dalam bentuk mata uang dolar. “Kalau masih di kisaran Rp10.000-Rp10.500 transaksi justru diuntungkan. Namun, kalau sudah di atas 11.000 ada kekhawatiran consumer akan menahan belanjanya,”ujar dia.

Meski demikian, sambung dia, pihaknya optimistis melemahnya nilai tukar rupiah tidak akan berlangsung lama seiring kebijakan yang diambil pemerintah. Selain itu, sekitar 60%-70% transaksi pembelian (pendapatan) perseroan juga dalam bentuk mata uang dolar. Karena itu, pihaknya optimistis perseroan dapat mempertahankan kinerja yang positif ke depan.

Menurut dia, secara rata-rata pertumbuhan teknologi meningkat sekitar 13% setiap tahun. Selain itu, perseroan juga fokus melakukan pengembangan usaha untuk meningkatkan kinerja sekaligus memenuhi permintaan pasar. Hingga semester pertama 2013, pihaknya mencatat pendapatan bersih konsolidasi sebesar Rp16,8 miliar, atau naik 42% dari Rp11,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Hasil ini diperoleh dari meningkatnya permintaan pasar akan solusi teknologi informasi antara lain dari sektor perbankan, telekomunikasi dan ritel. Sementara, laba yang diatribusikan pada entitas induk meningkat menjadi Rp20,3 miliar per 30 Juni 2013 atau meningkat dibandingkan Rp12 miliar pada 30 Juni 2012.

Presiden Direktur MLPT Harijono Suwarno mengatakan, perseroan akan segera membangun data center di wilayah Cikarang dan Karawaci. Pembangunan unit data center tersebut dimaksudkan untuk mendukung peningkatan kapabilitas penyediaan data infomasi teknologi perseroan. “Pada tahap awal pembangunan data center akan dilakukan di Cikarang. Target operasionalnya akhir 2014.” ucapnya.(bani)

BERITA TERKAIT

Ekonomi Global Melambat - Fund Rising di Pasar Modal Masih Rendah

NERACA Jakarta – Kendatipun minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal cukup besar dan berbagai aksi korporasi berupa penerbitan…

Pangkas Beban Utang - Sidomulyo Cari Modal Lewat Rights Issue

NERACA Jakarta -Perusahaan jasa angkutan kimia PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) berencana mencari pendanaan di pasar modal lewat aksi korporasi…

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…