Pemerintah Akan Lindungi Industri Otomotif Domestik

Bendung Mobil Impor

Rabu, 16/10/2013

NERACA

Jakarta - Perusahaan otomotif dunia menyebut Indonesia sebagai negara dengan dengan potensi terbesar pertumbuhan industri dan bisnis otomotif di dunia setelah China dan India. Hal ini disebabkan besarnya jumlah penduduk dan stabilnya pertumbuhan ekonomi.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin, Budi Darmadi mengatakan, pemerintah mengambil tindakan cepat untuk melindungi industri otomotif di Tanah Air. Apalagi zona Free Trade Area (FTA) regional ASEAN dan Asia Timur sudah di depan mata. Pada 2015 nanti, produk-produk otomotif dalam negeri harus mampu bertarung dengan kendaraan yang dibuat di negara-negara tetangga.

“Saat banjir besar melanda Thailand pada akhir 2011 lalu, industri otomotif di Thailand berada di titik nadir. Tapi, demi mendorong pertumbuhan industri otomotifnya, pemerintah mengambil berbagai langkah, salah satunya dengan memberikan diskon sebesar US$ 2.500 atau setara 10% PPnBM kepada warganya yang membeli mobil pertama,” ujar Budi di Jakarta, Selasa (15/10).

Jika pemerintah negeri gajah putih saja mau melakukan langkah apapun untuk menggairahkan kembali industri otomotifnya, Budi menambahkan, sudah selayaknya pemerintah melakukan hal serupa. “Kalau tidak demikian maka mobil-mobil buatan luar negeri akan menguasai pasar dalam negeri,” ujarnya.

Untuk melindungi industri otomotif di Tanah Air, imbuhnya, Kemenperin menggulirkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 33/M-IND/PER/7/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau. Permenperin ini merupakan turunan dari program mobil emisi karbon rendah atau low emission carbon (LEC) yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Dalam program ini, semua pabrikan mobil, baik merek internasional maupun lokal, dipaksa membuat kendaraan beroda empat dengan menggunakan komponen otomotif asal Indonesia. Sekitar 80% komponen tersebut sudah harus sudah dibuat di Indonesia dalam jangka waktu lima tahun.

Dengan begitu, industri komponen otomotif dalam negeri lebih bergairah dan akan meningkatkan kemandirian nasional dibidang teknologi otomotif, terutama teknologi engine, transmisi dan axle (Power Train).

Ada persyaratan lain yang harus dipenuhi pabrikan mobil dalam program yang diberi nama Low Cost Green Car (LCGC) ini, yakni produk otomotif harus hemat energi dengan tetap mengedepankan kualitas dan keamanan produk. Semua pabrikan otomotif disyaratkan menaikan efisiensi penggunaan bahan bakar per kilometer jarak tempuh. Mobil yang diproduksi harus dapat mengkonsumsi bahan bakar minimal 20 km/liter supaya dapat menghemat bahan bakar minyak (BBM) 66 persen per unit mobil.

Dengan berkurangnya BBM yang dibakar per kilometer, maka emisi karbon yang ditimbulkan juga akan lebih sedikit. Maka dari itu mobil ini lebih ramah lingkungan. Program ini tidak berlaku untuk semua kategori kendaraan, melainkan hanya untuk mobil berkapasitas mesin kelas 1.000-1.200 cc untuk bensin dan 1.500 cc untuk diesel.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan harga jual off the road Rp95 juta (belum termasuk biaya balik nama, pajak kendaraan bermotor, dan pajak daerah lainnya) ditambah toleransi untuk penambahan teknologi transmisi otomatis 15%, dan toleransi untuk penambahan fitur safety 10% (airbag, Antilock Braking System, dan lainnya).

Dalam program ini, pemerintah memberikan insentif untuk mengurangi beban konsumen dengan menghilangkan kewajiban membayar PPnBM, namun tetap membayar PPN 10% dan Pajak Kendaraan Bermotor di daerah sebesar sekitar 10%. Dalam PP No. 41/2013 disebutkan bahwa program LCGC ini akan memperoleh potongan PPnBM yaitu dari semula 10% menjadi 0% bila memenuhi persyaratan konsumsi BBM dan pembuatan mobil serta komponen di dalam negeri tersebut.

Investasi US$ 3 Miliar

Budi mengatakan, saat ini program LCGC telah mendatangkan komitmen investasi senilai US$ 3 miliar dari industri otomotif dan US$ 3,5 miliar dari sekitar 100 industri komponen otomotif baru. Sebagian besar komitmen itu sudah terealisasi, dengan telah dibangunnya lima pabrik mobil baru dan sekitar 70 pabrik komponen otomotif baru. Dampak positifnya adalah mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja terampil seperti dalam bidang teknik otomotif dan material, manajemen produksi, dan jasa distribusi serta manajemen logistik.

Dampak lainnya adalah penciptaan lapangan tenaga kerja baru di sektor manufaktur sekitar 30.000 orang. Sedangkan penciptaan lapangan tenaga kerja baru di sektor distribusi mobil dan komponen, dealer dan pemasaran, workshop dan aftersales service diperkirakan 40.000 orang.

Menurutnya, saat ini rasio kepemilikan mobil jika dibandingkan jumlah penduduk masih sangat kecil, hanya sekitar 10% masyarakat yang punya mobil. Jawa dan Bali masih menjadi wilayah paling tinggi menyerap penjualan mobil, yakni berkisar 60-70%. Survei juga menyebutkan bahwa 60 juta pengguna kendaraan roda dua mengidamkan kepemilikan kendaraan roda empat hemat BBM dengan harga terjangkau sebagai alat transportasi untuk keperluan produktif dan keluarga.

“Untuk itu, LCGC ini dicanangkan sebagai program nasional, sehingga distribusi kendaraan tidak hanya untuk warga kota-kota besar, melainkan juga untuk masyarakat di 508 Kabupaten/Kota di Indonesia yang masih memerlukan alat transportasi beroda empat,” ujarnya.