Dua Emiten Masuk Dalam Pengawasan BEI - Bergerak Tidak Wajar

NERACA

Jakarta – Mengalami kenaikan harga saham di luar kewajaran, pergerakan saham PT Nipress Tbk dan Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (10/10).

BEI menilai perdagangan kedua saham tersebut telah terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham NIPS dan AIMS di luar kebiasaan dibandingkan periode sebelumnya atau Unusual Market Activity (UMA).

Selain itu, BEI juga telah meminta konfirmasi kepada Nipress pada 3 Oktober 2013 lalu. Jawaban perseroan sudah masuk keterbukaan informasi pada 8 Oktober 2013. Sedangkan untuk AIMS, BEI telah meminta konfirmasi kepada perseroan pada 19 September 2013. BEI pun telah memasukan jawaban perseroan dalam keterbukaan informasi pada 24 September 2013. Pada perdagangan kemarin, saham NIPS menguat Rp1.300 ke Rp19.050 dan untuk saham AIMS naik Rp140 ke Rp 700.

Asal tahu saja, PT Nipress Tbk berencana melakukan pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:20 menjadi Rp50 per saham Dengan pemecahan saham ini, perseroan mengharapkan perdagangan saham NIPS akan semakin likuid. Sebelum dilakukan pemecahan, harga per lembar saham perseroan mencapai Rp1.000. Pada harga saham Rp1.000 tersebut, perseroan menilai perdagangan sahamnya tidak terlalu likuid.

Direktur Utama PT Nipress Tbk Jackson Tandiono pernah menyampaikan, perseroan akan menyelenggarakan RUPSLB pada tanggal 25 Oktober mendatang, untuk meminta persetujuan stock split pada pemegang saham.“Kami akan selenggarakan RUPSLB dengan para pemegang saham untuk meyetujui realisasi stock split saham perseroan. Dengan stock split tersebut, akan meningkatkan jumlah saham perseroan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI)”, kata dia.

Sebelumnya, perseroan juga menerbitkan saham bonus senilai Rp16 miliar. Saham bonus yang akan dibagikan oleh perseroan berasal dari kapitalisasi agio saham per tahun buku 2012, dengan harga per sahamnya sebesar Rp1.000 dengan rasio sebesar sepuluh banding delapan (10:8).

Jumlah saham modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan tercatat sebanyak 20 juta lembar saham atau senilai Rp 20 miliar sebelum dilakukan penambahan saham bonus. Dengan demikian, pasca penerbitan saham bonus jumlah saham perseroan berubah menjadi 36 juta lembar saham atau senilai Rp36 miliar.“Dengan dua aksi korporasi ini baik penerbitan saham bonus dan Stock Split, kami berharap perdagangan saham NIPS di BEI akan menjadi lebih likuid”, ujar dia.

Hingga periode semester I tahun ini, perseroan membukukan kenaikan laba bersih sekitar 150% menjadi Rp25,1 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp9,8 miliar. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan penjualan bersih sebesar Rp461,8 miliar dari Rp300,5 miliar. (bani)

BERITA TERKAIT

Kepala Daerah Kita Memang Tidak Kapok-Kapok

Kepala Daerah Kita Memang Tidak Kapok-Kapok NERACA Jakarta - Pasca Putusan MK tentang Pilpres 2019, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya…

KELAS BERGERAK

Direktur PT Blue Bird Tbk Sigit Priawan Djokosoetono (tengah) bersama Presiden Direktur English First (EF) Lars Berg (kanan) dan Direktur…

BID Zona Empat Harus Menjadi Opsi Pilihan Dalam Pembangunan Desa

BID Zona Empat Harus Menjadi Opsi Pilihan Dalam Pembangunan Desa NERACA Kuningan – Bursa Inovasi Desa (BID) Zona empat yang…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Menjawab Tantangan IKM From Zero To Hero

Pesatnya pertumbuhan pengguna internet di Indonesia memacu geliat pertumbuhan industri e-commerce terus berkembang pesat. Berdasarkan prediksi McKinsey, penetrasi belanja online…

Penjelasan Belum Memuaskan - BEI Pastikan Suspensi KIJA Masih Berlanjut

NERACA Jakarta – Meskipun PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) sudah memberikan penjelasan terkait potensi gagal bayar atau default atas…

Rajawali Nusindo Buka Gudang Baru di Solo

Dalam rangka peningkatan omzet dan kinerja operasional, PT Rajawali Nusindo sebagai anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) yang bergerak…