KKP Kejar Produktivitas Lewat Swasembada Induk dan Benih

Perikanan Budidaya

Kamis, 10/10/2013

NERACA

Sidoarjo – Dari tahun ke tahun produktivitas dan target perikanan budidaya selalu meningkat, dan untuk tahun 2014 peningkatan target produksi perikanan budidaya mencapai 16,8 juta ton. Maka dari itu, memerlukan dukungan ketersediaan benih bermutu dan induk unggul secara berkesinambungan. Agar target itu tercapai perlu adanya percepatan produksi dengan melakukan swasembada induk dan benih di setiap kawasan. Dengan adanya swasembada itu maka target benih dapat selalu tercapai setiap tahunnya baik secara kuantitas maupun kualitas.

“Target tahunan perikanan budidaya selalu meningkat, langkah efektif yang harus dilakukan dalam melakukan percepatan produktivitas dengan adanya swasembada induk dan benih di setiap kawasan,” kata Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), sesaat setelah membuka Forum Perbenihan Nasional di Hotel Sun, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (8/10).

Di samping itu, untuk lebih menggenjot hasil produksi ikan budiidaya perlu ada satu desain sistem penebaraan. Seperti harus ada peneberan yang berkelanjutan bukan hanya disatu tempat atau satu musim saja.

“Disinilah pentingnya adanya swasembada induk dan benih disetiap kawasan agar produksinya bisa lebih merata dan berkelanjutan. Dan prosesnya bisa dimulai dari kawasan kawasan minapolitan yang kemudian dapat ditiru oleh daerah lainnya. Dan untuk mencapai itu salah satunya dengan menerapkan Cara Perbenihan yang Baik (CPIB), sehingga selain kebutuhan benih tercukupi, kualitas benih tetap terjaga ” paparnya.

Diakui Slamet Soebjakto, memang banyak yang perlu diperhatikan dalam pembenihan, kerena memang setelah digulirnya industrialisasi perikanan budidaya sejak tahun 2011, kebutuhan benih bermutu semakin hari semakin meningkat. Oleh karenanya perlu dilakukan pemetaan sentra-sentra produsen benih secara nasional. Ada pun pemetaan sentra produsen benih untuk komoditas unggulan seperti udang vaname, patin, nila atau bahkan lele perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan distribusi benih dari sentra produsen benih ke sentra produksi perikanan budidaya.

Selain itu, peningkatan kemampuan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) maupun Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) perlu dilakukan agar mereka mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi benih. “Maka dari itu perlu ada sinergi dan sinkronisasi antara program pemerintah dengan masyarakat budidaya,” ujarnya.

Selain benih, saat ini untuk induk juga harus mempunyai perhatian penuh karena memang induk yang ada saat ini sudah terlalu tua, dan sudah kurang produktif. Dan diharapkan induk-induk memang berasal dari dalam negeri. “Kami menginginkan pembibitan induk memang dari lokal, terutama udang saat ini kita masih impor untuk induk udang, dan akan kami coba pembuatan induk udang dari lokal, diharapkan semua induk-induk yang dihasilkan dari pembudidaya nasional,” harapnya.

Karena memang, dalam rangka menghadapi pasar bebas, tidak ada lagi benih-benih dari luar yang terjangkit penyakit. “Selama ini banyak penyakit-penyakit yang dibawa dari induk-induk impor,” tegasnya.

Biaya Produksi

Selain pembenihan dan induk unggul, problematika yang dihadapi saat ini yaitu tingginya biayaproduksi yang dikeluarkan oleh para pembudidaya. “Agar bisa terus berjalan para pembudidaya juga hurus bisa menerapkan efisiensi dalam menekan cost produksi, karena memang disamping kelangkaan pakan harganya juga sangat tinggi,” ungkapnya.

Namun begitu, perlu diketahui bahwa produksi benih sampai dengan triwulan ketiga pada tahun 2013 telah mencapai 47,94 miliar ekor (70,11%), sedangkan ketersediaan induk mencapai 6,4 juta ekor (47,83%). “Produksi ini akan terus ditingkatkan khususnya untuk induk unggul, untuk mendukung semakin bergairahnya usaha budidaya ikan nasional. menuju pasar bebas ASEAN tahun 2015 nanti,” bebernya.

Kecuali meningkatkan produksi perikanan budidaya untuk menghadapi Asean Economic Comunity 2015, Ditjen Perikanan Budidaya juga akan melakukan sertifikasi untuk semua produk-produk perikanan budidaya. Dan Sertifikasi ini akan menjadi penting, karena memang semua produk-produk ekspor harus bersertifikasi.

“Sertifikasi ini bukan semata-mata karena kita ingin ekspor saja, tapi memang berupaya untuk meningkatkan kualitas produk. Jadi ptoduk yang berkualitas ini bukan hanya karena untuk ekspor saja, tapi untuk konsumsi dalam negeri,” jelasnya.

Bicara ekspor, saat ini sumbangsih terbesar untuk ekspor perikanan budidaya masih didominasi oleh udang, menyusul rumput laut, dan peluang yang potensial saat ini yaitu ikan patin. Pasar nya merambah ke Eropa dan Amerika“Untuk ekspor yang masih menjadi primadona yaitu udang tapi rumput laut juga bagus, dan kami sedang menggarap untuk ekspor ikan patin,” paparnya.

Untuk mendukung ketersediaan benih bermutu dalam rangka menunjang percepatan peningkatan produksi udang nasional, diperlukan adanya koordinasi dan komunikasi antar pelaku usaha pembenihan udang. “Melalui Forum Komunikasi ini, saya harapkan dapat tercipta kebersamaan dan saling mendukung dalam mengupayakan pemecahan masalah ketersediaan benih terutama udang bermutu dengan jumlah yang mencukupi. Sehingga program revitalisasi tambak yang sedang kita jalankan mendapat dukungan benih unggul secara optimal dari para pelaku usaha pembenihan udang nasional,” tuturnya.