UNTR Suntik Modal Anak Usaha US$1,82 Juta

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Jakarta- PT United Tractors Tbk (UNTR) memberikan pinjaman senilai US$1,82 juta kepada PT Bina Pertiwi, anak perusahaan yang 99,99%% sahamnya dimiliki perseroan. Keduanya telah menandatangani perjanjian pinjaman pemegang saham pada 7 Oktober 2013. “Berdasarkan perjanjian tersebut perseroan telah menyetujui untuk memberikan pinjaman sebesar US$1,82 juta kepada PT Bina Pertiwi yang akan dipergunakan untuk keperluan modal kerja.” kata Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis dalam keterangan resminya di Jakarta.

Secara bisnis, menurut dia, pihak manajemen menilai pemberian pinjaman tersebut lebih menguntungkan dibandingkan apabila perseroan harus menyimpan dana kasnya di bank dengan rate deposito bank pada saat ini. Perseroan memberikan pinjaman ini dengan bunga SIBOR +2,5%, dan merupakan pinjaman berjangka.

Dia menegaskan, transaksi ini tidak termasuk sebagai transaksi benturan kepentingan sebagaimana dimaksud dalam peraturan IX.E.1. Oleh karena itu, tidak memerlukan persetujuan pemegang saham independen. Selain itu juga tidak termasuk dalam transaksi material sebagaimana peraturan IX.E.2 mengenai transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama. “Transaksi ini hanya merupakan transaksi afiliasi yang membutuhkan pelaporan kepada otoritas jasa keuangan.” imbuhnya.

Industri alat pertanian dinilai memiliki potensi pasar yang cukup besar. Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsantani) mencatat, kebutuhan alat dan mesin pertanian seperti traktor setiap tahunnya mencapai 200.000 unit, atau tumbuh minimal 5%. Sebagai salah satu perusahaan yang menggeluti bisnis ini, PT Bina Pertiwi menargetkan pertumbuhan bisnisnya dapat mencapai 16%.

Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk Sara Lubis pernah bilang, tahun ini menjadi tantangan cukup berat karena sektor pertambangan melambat dan kompetisi semakin ketat di penjualan alat berat khususnya non sektor pertambangan. Untuk menyiasati persaingan industri sejak akhir tahun lalu perseroan telah melakukan diversifikasi karena permintaan lebih banyak di konstruksi dan perkebunan.

Namun untuk saat ini, kata dia, banyak pihak lain yang menawarkan produk tipe kecil untuk sektor konstruksi dan kompetisinya cukup kencang. Pihaknya mencatat, pada paruh pertama tahun ini mencatatkan laba setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 25,18% menjadi Rp2,3 triliun.

Padahal priode yang sama tahun lalu perseroan berhasil membukukan laba sebesar Rp3,08 triliun. Pendapatan perseroan juga turun pada periode semester pertama tahun ini mencapai 18,65% menjadi Rp24,90 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp30,61 triliun. Beban pokok pendapatan perseroan turun menjadi Rp20,60 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp25,07 triliun. (lia)