KKP: Laut Bisa Dilihat dari Berbagai Aspek Ekonomi

Ajang Vision internasional Image Festival di Bali

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Denpasar - Plt Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Anang Noegroho mengungkapkan pemanfaatan hasil laut bisa dilihat dari beberapa aspek ekonomi dan manfaat.

"Seperti aktivitas di atas laut, ada perkapalan. Kalau di dasar laut ada budidaya mutiara dan yang terakhir aktivitas di kolam air ada banyak sekali budidaya yang bisa dikembangkan untuk perekonomian masyarakat," ungkapnya di sela-sela pre event Vision internasional Image Festival di Bali, Selasa (8/10).

Lebih lanjut lagi Anang memaparkan, festival ini menyandingkan karya-karya visual mengenai kelautan Indonesia dan dunia. Acara diselenggarakan oleh Yayasan Indonesia Horizon bekerja sama dengan Matamera Communications.

Di tempat yang sama, Arif Budiman dari Matamera Communications mengatakan acara ini melibatkan berbagai organisasi, komunitas, pemerintah dan publik luas.

"Festival ini digagas oleh Prabhoto Satrio dan Oscar Motuloh, yang kemudian digarap secara kolektif bersama Veda Santiaji, Arief Budiman dan Marlowe Bandem. Mata acara Vision International Image Festival termasuk diantaranya Pameran Foto, Pemutaran Film Pendek/Slides, Pertunjukkan Musik, Diskusi, Workshop, Seminar, Pertunjukkan Visual Kolaboratif, dan Instalasi Seni," kata dia.

Rangkaian acara berlangsung dalam beragam agenda yang tersusun dalam kategori Pre-Events dan Summit Events. Pre-Events adalah serial acara yang bersifat promotional, workshop dan pameran yang akan dilangsungkan dalam kurun waktu bulan Mei sampai akhir September 2013, sedangkan Summit Event adalah masa pelaksanaan acara puncak di bulan Oktober 2013.

Festival ini pertama kalinya diselenggarakan oleh Indonesia, dan di tahun perdananya, Bali akan menjadi provinsi pertama. Semangat yang melatarbelakangi festival ini, adalah merespon keadaan sosial terutama di Indonesia, dimana masyarakat membutuhkan alat berikut dengan cara dan tempatnya, untuk mengekspresikan diri dan suaranya masing-masing dalam melihat dan merekam kehidupan seputar kelautan. "Laut menjadi bagian utama dari Indonesia sebagai negara maritim," kata Arif.

Sebagai festival citra yang berfokus kepada kelautan, festival ini direncanakan menjadi festival 3 tahunan keliling Indonesia. Angasraya diambil sebagai tajik pameran yang merupakan sebutan yang berasal dari kamus peradaban maritim Indonesia di zaman Majapahit. Catatan mengenai Angasraya di abad modern, didapatkan dari sebuah buku yang berjudul "Majapahit Peradaban Maritim Nusantara: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia" karya Irawan Djoko Nugroho terbitan 2011.

Di dalam buku itu disebutkan, disaat kerajaan-kerajaan se-nusantara dirundung kemelut perselisihan dan kegalauan menghadapi serangan pasukan asing, mereka tersadar untuk bersatu secara sejajar menjadi kerajaan maritim nasional kembali. Peristiwa ini dicatat oleh Empu Prapanca dengan sebutan Angasraya, yang memiliki arti sebuah sikap penggabungan kembali yang didasari atas kesadaran diri sendiri, spontanitas, bukan dengan paksaan.

Masa Depan RI

Sebelumnya, terkait dengan kekayaan laut, KKP menyebut masa depan Indonesia sesungguhnya ada di laut. Jika seluruh aset dan potensi kelautan dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal, seharusnya kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bisa jauh lebih besar daripada saat ini. Apalagi, seperti diproyeksikan Mckinsey Global Institute, sektor kelautan dan perikanan termasuk 4 pilar utama selain sumber daya alam, pertanian dan jasa, akan membawa Indonesia menjadi negara dengan perekonomian terbesar nomor 7 dunia di tahun 2030.

Demikian dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Soetardjo, pada peluncuran buku "Our Blue Economy: An Odyssey to Prosperity" pada forum APEC 2013 di Nusa Dua Bali, dalam rilisnya, akhir pekan lalu.

Sebagai negara kepulauan dengan 17.499 pulau dan memiliki garis pantai sepanjang 104 ribu kilometer atau terpanjang kedua di dunia, potensi kelautan sangat besar. Diperkirakan, potensi ekonomi di sektor kelautan, baik yang berhubungan dengan sumber daya alam dan pelayanan maritim nilainya mencapai lebih US$ 1,2 triliun per tahun.

Pertumbuhan ekonomi kelautan juga sangat positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II 2013 sektor kelautan dan perikanan tumbuh 7% dibandingkan periode yang sama tahun 2012. Tingkat pertumbuhan ekonomi sektor kelautan dan perikanan lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,81%.

“Saat ini dan di masa depan sektor kelautan dan perikanan semakin memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendorong perekonomian Indonesia. Buktinya, sejak strategi industrialisasi perikanan mulai dicanangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2011, produktivitasnya terus meningkat,” katanya.

Menurut Sharif, potensi kelautan dan perikanan Indonesia sangat besar. Bahkan sejak berabad-abad lalu, lautan Indonesia dan selat-selatnya merupakan alur transportasi internasional yang ramai, menghubungkan antara Benua Asia, pantai Barat Amerika dan Benua Eropa. Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang.