IKM Didorong Masuk Arus Perdagangan RI-Jepang

Kerjasama Ekonomi Bilateral Akan Dievaluasi

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Nusa Dua - Serangkaian pertemuan bilateral dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik, KTT APEC Indonesia 2013 sudah memasuki hari terakhir. Ajang internasional ini akan diakhiri dengan pemaparan hasil event internasional tersebut paska menggelar meeting bersama 21 Kepala Negara.

Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat mengatakan dari pertemuan bilateral, antara lain adanya beberapa kesepakatan bilateral dengan pemerintah Jepang. Salah satunya, Indonesia akan melakukan evaluasi dan negosiasi ulang Japan Indonesia Economic Partnership Agreement.

"Karena sudah 5 tahun berjalan dan harus dilakukan evaluasi supaya ada ukuran bagi industri kecil agar bisa masuk sektor-sektor di dalam perdagangan tersebut," kata Hidayat di Nusa Dua, Bali, Selasa (8/10).

Lebih lanjut lagi Hidayat memaparkan ada lagi, kesepakatan yang terkait pelaksanaan Undang-undang Mineral di mana Indonesia berharap ada pembangunan industri hilir di dalam negeri. Jepang, , berkomitmen mengembangkan industri baja.

Sementara hasil pertemuan bilateral dengan Rusia, Menteri Perkonomian, Hatta Rajasa bilang, Presiden Rusia Vladimir Putin akan mengembangkan sektor hilirisasi dan pembangunan infrastruktur kereta api di kalimantan. "Nanti kami akan pikirkan terkait insentif apa yang bisa diberikan Indonesia," tutur dia.

Manfaat lain, memastikan peningkatan investasi dan perdagangan untuk mencegah terjadinya defisit perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Karena Cina telah berkomitmen untuk berinvestasi sebesar US$ 28,2 juta.

"Hongkong juga tertarik menjadi mitra strategis dengan membuka kantor perdagangan di Indonesia dan meningkatkan currency swap. Jadi kalau bisa perdagangan dilakukan tanpa mata uang dolar AS, maka kita bisa mengurangi ketergantungan dolar AS untuk mengembangkan perdagangan karena tidak melanggar central bank," terang dia.

Sebelumnya, setelah acara APEC Ministerial Meeting Officials Dinner di Amanusa Hotel, Nusa Dua, Bali, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengadakan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pariwisata Peru Magali Blanca Silva Velarde Alvarez.

Pertemuan ini mengawali pertemuan bilateral kedua negara dengan menindaklanjuti hasil kesepakatan kedua Kepala Negara Indonesia dan Peru pada pertemuan APEC di Vladivostok, Rusia, pada tahun 2012 dan kunjungan kerja Menteri Perdagangan Indonesia ke Peru pada tahun yang sama. “Untuk itu, kita perlu meningkatkan jaringan dan komunikasi yang lebih baik di sektor perdagangan, investasi, dan beberapa sektor lainnya,” kata Menteri Gita Wirjawan dalam keterangan pers yang diterima Neraca, akhir pekan kemarin.

Langkah selanjutnya yang telah digagas dan diusulkan oleh Menteri Perdagangan Indonesia adalah pembentukan Indonesia-Peru Preferential Tariff Agreement (IP-PTA) yang akan difokuskan pada pembahasan beberapa produk tertentu terlebih dahulu, serta sektor pendukung yang memperlancar arus barang.

Menanggapi usulan Indonesia, Menteri Magali Blanca menyampaikan bahwa pihaknya sangat memahami kepentingan Pemerintah Indonesia dan sepakat atas pembentukan IP-PTA. Di samping itu, Menteri Magali Blanca juga mengusulkan peningkatan kerja sama di sektor pariwisata, selain di sektor perdagangan dan investasi. “Pariwisata adalah area yang dapat dikerjasamakan secara saling melengkapi tanpa harus berkompetisi,” ujar Menteri Magali Blanca.

Menteri Magali Blanca, juga menyampaikan bahwa pihaknya setuju untuk menjadi third country atas usulan Indonesia case study for sustainable trade development di Forum APEC, dimana Papua New Guinea (PNG) telah setuju sebagai supporting country. Menteri Gita Wirjawan menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dukungan Peru atas proposal Indonesia di forum APEC.

Selain itu, Menteri Gita juga menyampaikan update perundingan isu penting lainnya pada pertemuan APEC yang sedang berjalan saat ini, serta proses persiapan KTM WTO ke-9 di Bali pada Desember mendatang dan meminta dukungan Peru untuk menyukseskan KTM WTO.

Lebih jauh, Menteri Magali Blanca menggarisbawahi bahwa dalam pengembangan produk olahan atau yang bernilai tambah dan UKM, pihaknya ingin mengajak Menteri Gita untuk meningkatkan kerja sama untuk sektor industri bernilai tambah dan UKM. Peru sangat bangga terhadap pengembangan industri UKM di Indonesia yang sangat pesat dan dapat mendongkrak ekonomi dan mengembangkan kreativitas industri.

Menteri Magali Blanca menginginkan agar UKM Peru dan UKM Indonesia dapat bekerja sama dan lebih maju dalam memanfaatkan teknologi. “Kami memandang Indonesia adalah contoh yang bisa ditiru,” ujarnya.