Perkuat Armada, Garuda Ngutang US$1,7 Miliar

Beli Sebelas Pesawat

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta-PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memperoleh pinjaman US$ 1,7 miliar atau senilai Rp 19,6 triliun dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Limited. Pinjaman tersebut untuk membiayai pembelian lima pesawat Boeing 777-300 ER dan enam pesawat Airbus A320. “Kerja sama pendanaan pesawat dengan pola “sale and lease back” terdiri dari lima pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia dan enam pesawat Airbus A320 Citilink, dengan total nilai kerjasama sebanyak US$1,7 miliar,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (3/10).

Lima pesawat Boeing 777-300ER tersebut, menurut dia, akan mulai diterima Garuda pada Mei 2014 hingga September 2015. Nantinya, pesawat Boeing 777-300ER ini akan dioperasikan untuk beberapa rute penerbangan, antara lain Denpasar-Jepang, Denpasar-Korea, Denpasar-Cina, dan Denpasar-Sydney. Selain itu, pesawat tersebut juga akan dioperasikan untuk melayani rute penerbangan langsung ke luar negeri. “Penerbangan langsung Jakarta-London pada 2014 dan Jakarta-Amsterdam pada 2015,” ucapnya.

Sementara untuk enam Airbus A320 yang akan digunakan untuk operasional Citilink, kata dia, akan diterima pada Juni-Desember 2014. Pesawat ini akan dioperasikan Garuda untuk destinasi Surabaya, Medan, Denpasar, dan wilayah Indonesia lainnya untuk mendukung pengembangan konektivitas daerah. Namun, ada juga sebagian pesawat lainnya yang akan melayani penerbangan ke rute regional, seperti Singapura dan Kuala Lumpur sehingga dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan ke Indonesia.

Senior Executive Vice President Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Limited, Zhang Hongli, mengatakan ICBC Limited merasa senang dengan adanya perjanjian kerja sama ini. ”Kami merasa bangga dapat turut mendukung maskapai terbesar dan kebanggaan Indonesia untuk menjadi world-class airline,” jelasnya.

Selain rencana pembelian pesawat tersebut, Garuda Indonesia baru saja menandatangani pengadaan 35 pesawat ATR 72-600 yang terdiri dari 25 pesawat berupa firm order dan 10 pesawat lagi berupa option. Garuda mendatangkan pesawat-pesawat tersebut melalui mekanisme sewa operasi dari perusahaan leasing pesawat asal Denmark, Nordic Aviation Capital.

Mekanisme tersebut dinilai lebih menguntungkan karena tidak akan memberatkan neraca keuangan perusahaan maupun neraca Indonesia, di mana nilai tukar rupiah terhadap dollar sedang melemah. “Pengadaan pesawat ini melalui metode sewa dengan pembiayaan dari Nordic Aviation Capital, sehingga tidak memberatkan neraca keuangan,” jelasnya.

Dijelaskan Emirsyah, utang atas penyewaan pesawat yang digunakan untuk operasional Garuda Indonesia tersebut bukanlah utang yang berasal dari Republik Indonesia, melainkan telah diambil alih oleh Nordic Aviation Capital. Dengan demikian, defisit neraca Indonesia karena pembelian pesawat dari luar negeri bisa dikurangi. “Jadi nanti Garuda menyewa dan itu dinamakan sebagai operating lease. Kita hanya membayar biaya sewa per bulan, sementara investasi tidak semuanya ada di pihak Garuda,” ujar Emirsyah. (lia)