Sido Muncul Pastikan Listing di Akhir Tahun

Bidik Dana Rp 3 Triliun

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta – Meskipun kondisi pasar saham saat ini belum menunjukkan pemulihan, rencana penawaran saham perdana atau IPO PT Sido Muncul tetap berjalan dan bahkan dipastikan segera melantai di bursa pada kuartal ke empat tahun ini.

Direktur Utama PT Kresna Graha Sekurindo Tbk Michael Steven menyatakan bahwa hingga saat ini, proses IPO PT Sido Muncul yang sedang ditangani pihaknya, masih dalam tahap proses di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan telah melakukan mini expose di BEI beberapa waktu lalu, “Kemungkinan besar Sido Muncul melantai di bursa kuartal keempat tahun ini dapat terealisasikan. Sebelumnya kita melihat kondisi market juga, namun diusahakan pada semester ini,”ujarnya di Jakarta, Kamis (3/10).

Sementara, untuk jumlah saham yang akan dilepas ke publik belum dapat di sebutkan. Sebagai penjamin emisi IPO PT Sido Muncul, perseroan berencana melakukan roadshow hingga ke luar kota seperti Semarang, Yogyakarta dan Surabaya dalam menawarkan saham Sido Muncul. Selain itu langkah ini dinilai dapat menjaring investor semakin banyak.“Selain domestik, investor asing juga banyak yang akan masuk ke saham Sido Muncul seperti dari Amerika, Asia, Eropa tentu dari Indonesia juga banyak”, ujar dia.

Sementara dana hasil IPO tersebut rencananya akan digunakan untuk mengembangkan pabrik dan menambah modal kerja perusahaan. PT Sido Muncul hingga saat ini memiliki lahan seluas 35 hektar di Semarang dan pabriknya hanya seluas 10 hektar. Dengan adanya ndana hasil IPO ini, Sido Muncul berharap dapat menambah modal untuk perluasan pabriknya.

Selain itu, kata Michael Steven, pihaknya juga akan mengantarkan tiga perusahaan lagi ke bursa. Total dana target IPO ketiga perusahaan tersebut dan PT Sido Muncul mencapai Rp3 triliun lebih. Namun dia mengakui PT Sido Muncul merupakan perusahaan yang terbesar target capaian dana dibandingkan 3 perusahaan lainnya.

Sebagai informasi, saat itu PT Sido Muncul akan melantai di bursa pada kuartal ketiga tahun ini. Namun, rencana tersebut urung dilaksanakan setelah proses IPO tersebut tersendat kendala proses yang belum selesai dan pasar masih dalam kondisi kurang baik. Sementara itu berdasarkan laporan keuangan tahun 2012, bisnis penjaminan emisi yang digeluti perseroan berkontribusi ke pendapatan sebesar 5%. Sementara bisnis perantara perdagangan efek sebesar 33%, biaya transaksi nasabah sebesar 4%, portofolio efek mencapai terealisasi 40%, manajer investasi 10%, dan pendapatan tetap 8%.

Sehingga dengan adannya pertumbuhan pada bisnis yang dimiliki perseroan, tahun 2013 ini perseroan menargetkan pendapatan tumbuh 30% dari tahun lalu, dan laba bersih dapat naik dua kali lipat dari tahun 2012. Pada 2012, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp122,08 miliar dan laba bersih mencapai Rp10,09 miliar. (nurul)