Bahan Pangan Mendominasi Deflasi

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data inflasi September 2013 minus 0,35% atau terjadi deflasi sebesar 0,35%. Terdapat sepuluh komoditas perdagangan yang paling kuat mendorong terjadinya deflasi. Mayoritas dari sepuluh komoditas ini adalah bahan makanan.

“Penyebab deflasi terbesar adalah bawang merah dengan andil 0,49%. Penurunan harga yang terjadi sebesar 38,12%. Ini karena stok bawang merah melimpah. Panen terjadi di sentra-sentra produksi,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Selasa (1/10).

Penurunan harga bawang merah terjadi di 66 kota Indeks harga Konsumen (IHK) atau di seluruh kota yang disurvey oleh BPS. Bima menjadi kota yang mengalami penurunan harga paling dalam, yaitu sebesar 66%. Kemudian disusul Mataram sebesar 58%. Rata-rata kota IHK lain mengalami penurunan harga sebesar 25-56%.

Penyebab deflasi kedua adalah cabe merah dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,12%. Penurunan harga yang terjadi secara total adalah 19,03%. Penurunan harga cabe merah ini akibat stok cabe merah yang cukup, sementara permintaan sudah menurun dibandingkan sebulan sebelumnya saat hari raya lebaran berlangsung. Harga cabe merah turun di 62 kota IHK dengan Gorontalo yang mengalami penurunan terbesar, yaitu 44%. Sementara Sibolga mengalami penurunan harga cabe merah sebesar 43%. Rata-rata kota IHK lain mengalami penurunan harga 10-41%. Namun begitu, terdapat 4 kota IHK yang justru mengalami kenaikan harga, yaitu Kupang, Maumere, Makassar, dan Serang.

Tarif angkutan dalam kota menjadi penyebab deflasi ketiga. Andilnya adalah sebesar 0,09% dan perubahan harga yang terjadi sebesar 11,27%. Sebanyak 40 kota IHK mengalami penurunan harga, dengan Cirebon mengalami penurunan terbesar, yaitu 44%. “Penurunan harga ini karena tarif angkutan antar kota sudah kembali normal dibanding masa hari raya lebaran,” kata Suryamin.

Cabe rawit menempati penyebab deflasi terbesar keempat. Andilnya adalah sebesar 0,08% dengan penurunan harga yang terjadi sebesar 23,48%. Hal tersbut karena permintaan yang menurun, sementara stok meningkat. Sebanyak 60 kota IHK mengalami penurunan, dengan Mataram sebagai kota yang mengalami penurunan harga cabe rawit terbesar, yaitu 50%. Lalu disusul Bima dan Sampit yang mengalami penurunan harga sebesar 43%.

Penyebab deflasi kelima adalah telur ayam ras, dengan andil sebesar 0,05% dan penurunan harga sebesar 5,3%. Tegal mengalami penurunan harga terbesar, yaitu 16%.

Tarif angkutan udara ada dalam posisi keenam penyebab deflasi. Andilnya terhadap deflasi adalah sebesar 0,05% dengan penurunan harga yang terjadi sebesar 4,73%. Pangkal Pinang mengalami penurunan harga terbesar, yaitu 48%. Sementara Sorong mengalami penurunan harga sebesar 47%. Sebanyak 22 kota IHK lainnya juga mengalami penurunan.

“Ini disebabkan permintaan jasa angkutan kembali normal setelah bulan lalu terjadi lonjakan sebelum dan sesudah hari raya,” ujar Suryamin.

Penyebab deflasi ketujuh adalah tomat sayur dengan andil sebesar 0,03% dan penurunan harga sebesar 14,57%. Mataram mengalami penurunan harga terbesar, yaitu 58%. Sebanyak 40 kota IHK lainnya juga mengalami penurunan harga.

Daging sapi ada pada urutan kedelapan dengan andil sebesar 0,02% dan penurunan harga sebesar 1,94%. Sebanyak 46 kota IHK mengalami penurunan harga. Sukabumi, Serang, dan Bekasi mengalami penurunan harga daging sapi terbesar, yaitu 6%.

Penyebab deflasi kesembilan adalah ikan segar, dengan andil sebesar 0,02% dan penurunan harga sebesar 0,43%. “Pasokan dari nelayan cukup, seiring membaiknya cuaca,” kata Suryamin.

Wortel menjadi penyebab deflasi kesepuluh, dengan andil sebesar 0,02% dan penurunan harga sebesar 12,29%. Sebanyak 57 kota IHK mengalami penurunan harga dengan Mataram sebagai kota yang mengalami penurunan paling besar, yaitu 38%. [iqbal]

Related posts