Perdagangan RI ke APEC Defisit US$7 Miliar - Ekspor Harus Digenjot

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa perdagangan Indonesia dengan negara negara Asia Pacific Economic Coorperation (APEC) masih mengalami defisit sebesar US$7 miliar. Pada 2012, kita defisit perdagangan sebesar US$7 miliar, defisit ini fakta yang dicermati. “Bagaimana Indonesia dengan APEC adalah sesuatu yang kita usahakan minimal menjaga jangan sampai defisit bertambah,\" ujar Bayu di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut Bayu, untuk mengatasi defisit perdagangan dengan APEC adalah menggenjot ekspor. Jika menutup defisit perdagangan dengan membuka pasar baru itu, menurut Bayu akan sulit. Pemerintah tetap konsentrasi pada pasar yang ada saja dulu. \"Membuka pasar baru tidak mudah, ya, memang semangat mencoba mencari perdagangan interaksi baru,\" jelasnya.

Namun demikian pada 2012 ekspor ke APEN mencapai US$140 miliar. Didominasi non migas hampir US$103 miliar. \"Bagi Indonesia APEC menjadi kawasan ekonomi kawasan yang penting. Ekspor Indonesia ke APEC US$139,9 miliar pada 2012 atau 69,8% dari total ekspor. US$103 miliar berasal dari non migas,\" jelas Bayu.

Sementara itu, dengan perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Bali, Oktober mendatang, menurut Bayu, acara tersebut sangat penting bagi Indonesia. Terutama dari sisi peningkatan kapasitas perdagangan dengan negara-negara APEC.

\"Ini adalah fakta penting yang kita pahami mengapa APEC itu penting dan Indonesia berperan aktif di APEC. Ke depan dan jangka panjang, APEC ini kita terus perhatikan. 40% populasi dunia atau 2,8 miliar penduduk ada di negara APEC. APEC juga 45% dari perdagangan dunia totalnya US$ 17-18 triliun/tahun. Ekonomi dunia ini yang berada di negara APEC dengan porsi 55-60% dari total GDP dunia. GDP APEC itu US$ 33-35 triliun/tahun,\" jelasnya.

Tidak hanya perdagangan dengan negara-negara APEC yang mengalami defisit, namun di semester I 2013 neraca perdagangan juga mengalami defisit mencapai US$3,3 miliar. Secara kumulatif, perdagangan migas pada semester I ini mengalami defisit sebesar US$5,8 miliar, sementara perdagangan non migas surplus US$2,5 miliar.

Defisit Perdagangan

Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mengakui, pada bulan Juni 2013, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$846,6 juta. Kondisi tersebut disebabkan oleh terjadinya defisit perdagangan migas sebesar US$772,6 juta, pada bulan sebelumnya, mengalami defisit US$509,2 juta.

Sementara itu untuk non-migas mengalami defisit sebesar US$74 juta pada bulan Juni 2013, sedangkan bulan sebelumnya defisit US$17,9 juta. \"Ini karena konsumsi migas kita masih sangat besar,\" kata Gita.

Dari angka US$5,8 miliar defisit migas pada semester I, terdiri dari minyak mentah defisit US$1,7 miliar, hasil minyak defisit US$11,6 miliar, sementara itu, gas surplus US$7,5 miliar. \"Kelihatan profilnya dari Januari, yang tadinya banyak positive teritory di non migas sampai bulan Maret, setelah itu sampai ke daerah negatif dua-duanya, migas dan non migas,\" kata Gita.

Tekanan neraca perdagangan selama semester I 2013 juga dialami oleh beberapa negara, seperti Brazil yang mengalami defisit sebesar US$3,1 miliar, Thailand defisit US$17,3 miliar dan Hong Kong defisit US$39,5 miliar.

Meski begitu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat berpesan agar pelaksanaan KTT APEC di Bali pada Oktober 2013 harus membumi dan memberi maanfaat nyata bagi masyarakat, terutama dari sektor ekonomi.

\"Pesan Pak Presiden dalam pelaksanaan KTT APEC nanti harus membumi, dekat dengan masyarakat dan memberi manfaat masyarakat dalam negeri. Karenanya pelaksanaan APEC harus didukung oleh semua pihak. Dengan demikian hal itu dapat menggerakkan berbagai sektor sehingga pada gilirannya memberi manfaat nyata secara ekonomi bagi masyarakat,\" ujar Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Yuri Octavian Thamrin.

Yuri mengatakan, semua kegiatan internasional yang dilakukan Indonesia, harus diketahui oleh publik sehingga ada dukungan luas dari publik. \"APEC bukan menara gading, tetapi harus juga dimengerti rakyat dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,\" katanya.

Lebih lanjut Yuri mengatakan, salah satu tema yang diusung dalam KTT APEC 2013 ini adalah masalah promoting connectivity. Kata Yuri, konektivitas ekonomi yang dibangun nantinya harus memberi dampak positif bagi peningkatan ekonomi dalam negeri untuk meningkatkan modal, barang, dan services, yang akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional sehingga menimbulkan kesejahteraan bagi masyarakat.

\"Dan, dalam tataran di APEC akan menciptakan regional integrated economic. Sehingga konektivitas ini ada aspek regionalnya, sehingga hal itu akan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di perbatasan,\" ucapnya.

Yuri mengatakan, alasan tema KTT APEC itu adalah connectivity karena saat ini ada ekses kapital yang masuk di Asia Pasifik. \"Mereka membutuhkan tempat untuk investasi, bagaimana akses kapital ini, memberi dampak pada proyek-proyek MP3EI. Makanya kita akan dorong adalah promoting connectivity dengan elemen aktivitas fisik, konektivitas institusional, orang per orang, dan pemerintah dengan pemerintah,\" tuturnya.

Related posts