Risiko Memilih Pemimpin - Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Pemimpin itu ibarat pilot. Jika tidak memiliki keahlian dan rasa tanggung jawab tinggi terhadap tugas yang diembannya, akan mencelakakan seluruh penumpangnya. Pemimpin itu ibarat sopir bus.

Penumpangnya ingin duduk tenang, nyaman, selamat sampai tujuan. Pemimpin itu ibarat imam dalam salat. Jika bacaannya tidak bagus dan tidak punya wibawa ilmu serta akhlak, makmumragu berdiridibelakangnya, salatnya tidak khusyuk. Pemimpin itu pelindung anak buahnya, mesti berani ambil risiko demi keselamatan yang dipimpinnya. Ada teori, bakat kepemimpinan itu bawaan lahir.

Seperti ragam pepohonan yang tumbuh di hutan, memang ada jenis pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi di antara pohonpohon lain yang rendah. Namun, ada juga pendapat, pemimpin itu terlahir dan tumbuh berkat pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dengan demikian, pemimpin itu bisa dididik dan dikondisikan.

Semua orang berhak dan berbakat jadi pemimpin. Bahkan ada lagi pandangan, pemimpin itu tugas mulia, merupakan panggilan suci yang mesti diperebutkan untuk sarana memperbanyak amal kebajikan dengan melayani rakyat. Demikianlah, dalam kehidupan sosial diperlukan berbagai ragam jenis jabatan kepemimpinan, baik formal maupun informal. Baik yang berskala besar maupun kecil.

Dalam panggung politik, yang lagi heboh dan selalu heboh adalah peristiwa pilkada untuk memilih bupati, wali kota, atau gubernur. Juga pemilu untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden. Sekarang ini orang bilang kita berada pada tahun politik. Tahun persiapan untuk memilih presiden. Peristiwa ini dianggap sangat penting, bahkan vital, karena rakyat sudah lelah dengan kondisi sosial-politik yang pengap, yang penuh dengan berita korupsi, kriminal, peredaran narkoba, serta pembengkakan angka pengangguran dan kemiskinan.

Tahun politik ini juga terasa semakin hangat karena para parpol yang maju menjadi kontestan semakin agresif mempromosikan calon-calon wakil rakyat untuk duduk di DPR serta jago-jagonya untuk bertanding menjadi capres-cawapres. Tak kalah aktif adalah peranan media televisi, lembaga survei, dan konsultan politik yang ikut mengondisikan munculnya industri politik.

Media dan parpol adalah mesin untuk menyulap agar sebuah figur menjadi populer, mirip mempromosikan sebuah produk industri mobil agar terkenal dan membangkitkan minat masyarakat untuk membeli. Padahal produk industri mobil dan produk parpol sangat berbeda kualitas dan peran sosialnya. Jika kita salah memilih dan membeli motor atau mobil, tak akan berdampak besar secara sosial. Tapi, salah memilih wali kota, bupati, gubernur, atau presiden sangatlah besar implikasinya.

Sedihnya, rakyat tidak cukup punya pengetahuan akurat terhadap tokoh-tokoh yang ditawarkan parpol. Lebih menyedihkan lagi kalau rakyat memilih hanya karena dibagi uang yang diistilahkan ”serangan fajar” menjelang hari pencoblosan. Di beberapa daerah dilaporkan, malam hari sebelum hari pemilihan warga desa sudah menunggu ”uang pembagian”, siapa calon yang paling besar membagi uang, dia yang akan dipilih.

Praktik ini jelas menipu dan merusak proses demokrasi, baik yang memilih maupun yang dipilih berkonspirasi menghancurkan etika dan tatanan politik yang menyuburkan korupsi dan akan menyengsarakan rakyat. Menjelang pemilu ini menarik diamati sikap politik anak-anak muda yang apatis terhadap pemilu. Kalau saja jumlah mereka yang sekitar 50 juta itu mau menggunakan haknya untuk mencoblos, lalu tertuju untuk memilih presiden yang benar dan tepat, sesungguhnya mereka punyaandilbesarmengubahsejarah bangsanya.

Karena itu, menjadi sangat penting merangkul anakanak muda agar menggunakan haknya. Di pihak lain parpol agar menampilkan putra bangsa yang benar-benar bermutu dan memiliki semangat dedikasi membangun bangsa, bukan berebut jadi presiden dengan kalkulasi bisnis. Dalam setiap pilkada maupun pemilu, nasib bangsa dan rakyat dalam pertaruhan.

Apakah akan bangkit untuk maju ataukah akan semakin terpuruk. Peristiwa pencoblosannya hanya dalam hitungan menit. Namun, akibat yang ditimbulkan bagi kehidupan sosial-politik amat sangat besar dan berlangsung lama. Kalaupun yang terpilih adalah pemimpin yang bagus, itu pun memerlukan waktu lama dan kerja keras untuk memperbaiki kondisi bangsa ini.

Tapi, jika salah memilih, proses kerusakan dan kemunduran akan berlangsung sangat cepat. Lebih mudah dan cepat merusak keadaan ketimbang membangun dan memperbaiki keadaan. (uinjkt.ac.id)

BERITA TERKAIT

Dunia Apresiasi Upaya Pencegahan Virus Corona Pemerintah Indonesia

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Penyebaran Virus Corona ke berbagai belahan…

Tantangan Perizinan Investasi

  Oleh: Wignyo Parasian, Analis Ekonomi dan Keuangan Kemenkeu *)   Banyak negara khawatir dengan melihat kondisi perekonomian global belakangan…

KUT: Utang Pemerintah yang Belum Lunas

  Oleh:  Teguh Boediyana, Pengamat Perkoperasian dan UKM                   Memasuki tahun 2020  ini tanpa terasa sudah sekitar 20 tahun…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Dampak Positif Penyederhanaan Birokrasi

  Oleh : Evi Kurnaesih, Pengamat Sosial Politik   Pemerintah terus merealisasikan penyederhanaan birokasi. Selain bermanfaat untuk mempercepat pengambilan keputusan,…

Jangan Gagap Memahami Regulasi

  Oleh : Otjih S, Pengamat Kebijakan Publik   Kepala daerah dinilai masih gagap dalam memahami regulasi sehingga acapkali melahirkan…

Layanan Terintegrasi: Solusi Menarik Investasi

    Oleh: Citra Handayani N, Konsultan Pemerintah Estonia pada 2018-2019   Di tengah upaya menarik investasi asing tahun lalu,…