Menikmati Suasana Pagi di Candi Cangkuang

Sabtu, 28/09/2013

Tidak banyak yang tahu bahwa Jawa Barat memiliki situs candi. Candi Cangkuang adalah satu-satunya candi Hindu diJawa Baratyang berhasil dipugar hingga saat ini. Candi ini terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.

Lokasinya di ketinggian 700 m di atas permukaan air laut melewati keindahan sawah menghijau dan 4 gunung besar di Jawa Barat, yaitu Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. Pemerintah daerah Kabupaten Garut menjadikan daerah ini sebagai obyek wisata budaya dan wisata alam.

Candi Cangkuang berdiri di daratan mirip pulau kecil di tengah danau bernama Situ Cangkuang, jadi Anda perlu menggunakan rakit untuk mencapainya. Di dataran ini juga Anda akan melihat pemukiman adat Kampung Pulo dan makam Embah Arief Muhammad.

Embah Dalem Arief Muhammad adalah leluhur Kampung Pulo dimana awalnya adalah utusan Kerajaan Mataram yang ditugasi menyerang VOC di Batavia. Akan tetapi, penyerangan tersebut gagal, karena malu dan takut untuk kembali melapor ke Mataram maka ia dan pengikutnya memilih berdiam di Desa Cangkuang dan menyebarkan agama Islam di sini.

Candi Cangkuang merupakan candi peninggalan Hindu abad ke-8 yang direkonstruksi tahun 1978. Bangunan aslinya hanya tersisa sekitar 40% dari reruntuhan saat ditemukan, dan selebihnya candi ini dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir dan besi.

Pagi hari adalah waktu yang tepat dan lebih indah menikmati candi ini ditemani kabut pagi menyembul di antara pohon-pohon besar sekitar candi. Untuk mencapai Candi Cangkuang Anda akan menyeberangi danau berjarak sekitar 500 meter dari tempat gerbang masuk. Rakit dari bambu siap mengantarkan Anda. Danau kecil ini dihiasi bunga teratai dan eceng gondok. Pemandangan alamnya sungguh luar biasa seakan kembali ke zaman dahulu.

Sekitar 10 menit berada di atas rakit maka sampailah di Daratan Pulau Panjang tempat Candi Cangkuang bediri sekaligus Kampung Adat Pulo. Pulau ini adalah daratan kecil berbentuk memanjang dan membujur dari arah Barat ke Timur berukuran 16,5 hektar. Ada juga pulau lain yang letaknya di sebelah selatan dan tenggaranya. Kedua pulau ini berukuran lebih kecil dan berbentuk agak bulat. Di sekeliling pulau kecil ini merupakan daratan rawa yang berair. Di daratan Pulau Panjang Anda akan mendapatkan suasana pedesaan yang terasa tenang dan damai.

Candi Cangkuang pertama kali ditemukan tahun 1966 oleh tim peneliti berdasarkan laporan tulisan Vorderman dalam buku“Notulen Bataviaasch Genootschap”tahun 1893. Buku itu menyebutkan adanya sebuah arca yang rusak serta makam leluhur Arief Muhammad di Leles. Nama Candi Cangkuang sendiri diambil dari nama desa sekaligus adalah nama tanaman(Pandanus furcatus)yang banyak terdapat di sekitarnya. Daun tanaman cangkuang sering dimanfaatkan penduduknya untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren.

Awalnya penemuan situs ini hanyalah berupa batu fragmen dari sebuah candi dan makam kuno serta arca Siwa yang telah rusak. Arca ini wajahnya datar, bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang. Posisi arca bersila di atas padmasana ganda dengan kaki kiri menyilang datar, alasnya menghadap ke sebelah dalam paha kanan.