Tingkatkan Efisiensi, INCO Konversi Energi Ke Batubara

Mampu Menghemat Hingga 2%

Rabu, 25/09/2013

NERACA

Jakarta – Guna meningkatkan penghematan dan efisiensi energi, perusahaan tambang PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berencana mengganti minyak bakar bersulfur tinggi (HSFO) dengan batu bara. Perseroan menargetkan, realisasi penghematan bahan bakar akan dilakukan pada kuartal pertama 2014.

Chief Financial Officer PT Vale Indonesia Tbk, Febriany mengatakan, perseroan bakal menghemat 2% dari biaya bahan bakar setelah proyek konversi batubara tahap 1 (Coal Conversion Project 1/CCP1) direalisasikan, “Perseroan sudah melakukan efisiensi energi dengan menggunakan HSFO biaya bahan bakar dan biaya pelumas pada triwulan 2 tahun 2013 meningkat 8%,”katanya di Jakarta, Selasa (24/9).

Dia mengungkapkan, penghematan bahan bakar tercermin dari konsumsi 679.306 barel HSFO dengan biaya rata-rata US$100,76 per barel dibandingkan 607.539 barel dengan biaya rata-rata US$103,05 per barel pada triwulan pertama. Selain itu, perseroan juga menggunakan 14.732 kiloliter bahan bakar diesel dengan biaya rata-rata US$0,85 per liter, sementara pada triwulan pertama 14.433 kiloliter dengan rata-rata biaya yang sama.

Lanjutnya, diharapkan perseroan akan merealisasikan tanur pengering (dryers) pada kuartal pertama tahun depan. Perseroan mengaku nilai investasi untuk konversi tersebut mencapai lebih dari Rp200 miliar dan diharapkan konversi tersebut berhasil dan berdampak terhadap pengeluaran perseroan dalam biaya bahan bakar, “Penghematan 2% cukup besar untuk smelter. Sehingga kami harapkan berhasil. Nantinya batubara yang akan kami gunakan pasti berasal dari domestik, ini untuk menekan biaya pengiriman juga, “ungkapnya.

Ekspansi Ke Sulsel

Kata Febriany, dalam memperoleh batu bara perseroan akan melalui tender agar didapat hasil yang baik. Selain itu, perseroan juga berencana melakukan ekspansi usaha di Sorowako, Sulawesi Selatan dengan nilai investasi sekitar US$ 2 miliar. Namun, hingga kini masih dalam proses negosiasi.

Menurut dia realisasi ekspansi perseroan tergantung dari hasil negosiasi tersebut. Sehingga, perseroan hingga kini belum dapat memastikan kapan realisasi tersebut akan dilakukan. Rencana konversi CCP1 akan mengganti dryers untuk menggunakan batubara yang sebelumnya menggunakan HSFO. Dengan kondisi harga nikel yang terus bergejolak, penting bagi perseroan untuk mengontrol pengeluaran biayanya. Karena berdasarkan laporan keuangan perseroan pada semester 1, diketahui beban pokok pendapatan meningkat 6% seiring dengan peningkatan volume penjualan.

Sebagai informasi, triwulan kedua tahun ini, perseroan membukukan penjualan nikel matte naik 6% dibandingkan triwulan pertama. Volume produksi juga meningkat menjadi 19.218 ton pada triwulan pertama 2013 dibandingkan periode sebelumnya sebanyak 18.514 ton. Produksi naik 30% pada semester 1 2013 menjadi 37.732 metrik ton dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 28.993 metrik ton.

Penjualan naik 33% menjadi 39.008 metrik ton dari periode sama sebelumnya 29.266 metrik ton. Pendapatan perseroan juga naik menjadi US$505,7 juta dari periode yang sama sebelumnya _4$425,4 juta. Laba perseroan naik cukup signifikan menjadi US$44,1 juta dari periode semester 1 tahun lalu US$5,5 juta."Kami terus berusaha melakukan pengembangan efisiensi biaya. Kami juga memastikan rencana pertumbuhan jangka panjang yang menguntungkan dan memaksimalkan produksi melalui keunggulan operasional,”kata Febriany.

PT Vale Indonesi Tbk memiliki 3 lokasi kontrak karya dengan total luas 190.513 hektar. Ketiga lokasi tersebut terletak di Sulawesi Selatan seluas 118.386 hektar, Sulawesi Tengah 35.492 hektar dan Sulawesi Tenggara 36.635 hektar.

Perseroan memiliki market share sebanyak 5% di dunia. Produksinya dijual ke Vale Canada Limited sebanyak 80% dan sisanya 20% ke Sumitomo Metal Mining Co.,Ltd melalui perjanjian pembelian jangka panjang. Rata-rata tiap tahunnya perseroan memproduksi 75.000 metrik ton nikel matte. Saham perseroan yang dimiliki publik sebanyak 20,14% dengan Vale mendominasi sebanyak 58,73%. Sisanya dimiliki Sumitomo Metal Mining, Vale Inco Japan Limited, Mitsui&Co.,Ltd dan Sumitomo Corporation. (nurul)