Saham Big Caps Perbankan Bisa Jadi Andalan

NERACA

Jakarta- Menyikapi volatilitas pasar yang masih tinggi, masih sangat memungkinkan bagi pelaku pasar untuk meraih untung dari pasar saham. Utamanya, dengan mencemati fundamental emiten dari pertumbuhan laba yang dicatatkan perseroan dan pintar memilih sektor saham yang masih berpotensi tumbuh positif. “Pelaku pasar bisa fokus pada fundamental dari laba bersih emiten, dan memilih sektor yang berpotensial tumbuh di tengah gejolak ekonomi.” kata Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan di Jakarta, Senin (23/9).

Menurut dia, sektor yang dapat dipilih saat ini antara lain sektor perbankan. Secara historical, pada 2005-2013, sektor perbankan masih dapat tumbuh positif dengan pertumbuhan pinjaman yang masih tinggi karena ditopang oleh konsumsi masyarakat. “Net Interest Margin perbankan kita cukup tinggi sehingga investor global akan melihat ini sebagai peluang.” ujarnya.

Diakui Alfred, pada saat ini pasar saham masih sangat fluktuatif. Hal tersebut ditengarai kondisi global dan dalam negeri yang saat ini masih belum mendukung. Salah satunya, terkait current account deficit Indonesia dan adanya isu pengetatan ekonomi yang akan dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan perdebatan mengenai utang anggaran AS. Karena itu, pasar saham masih berpotensi mengalami koreksi.

Meskipun turbulensi ekonomi cukup kuat, sambung dia, laba yang dicatatkan perbankan pada 2013 masih akan tumbuh. Adanya kenaikan BI rate pun baru akan terasa pada tahun depan. “Meskipun bukan berarti kebal terhadap kejutan ekonomi, kinerja emiten perbankan cukup solid.” ucapnya.

Oleh karena itu, untuk dua-tiga bulan ke depan, dia memproyeksikan sektor ini masih akan mencatatkan kinerja positif. Utamanya, pada saham-saham bigcaps perbankan karena memiliki daya tahan yang cukup kuat saat terjadi guncangan ekonomi dengan tingkat permodalan yang besar.

Beberapa saham perbankan pilihan Alfred antara lain PT Bank Mandiri TBk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Namun, dari keempat saham tersebut, Alfred lebih menjagokan saham BBRI karena menyasar segmen mikro yang menurut dia memiliki peluang besar untuk bisa tumbuh.

Selain perbankan, kata dia, sektor konstruksi juga dapat menjadi pilihan bagi pelaku pasar seperti saham PT Adhi Karya (ADHI) dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP) yang relatif masih murah dibandingkan PT Wijaya Karya (WIKA). Sementara di sektor properti, dia lebih menjagokan saham PT Alam Sutera Realty (ASRI) dan PT Summarecon Agung (SMRA) yang pertumbuhan kinerjanya cukup kuat dalam beberapa tahun mendatang. “Outlooknya masih positif dalam 2-3 bulan ke depan sehingga tidak usah ragu untuk kondisi harga saat ini.” Imbuhnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham - Siapkan Sanksi Tegas

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…

Mahaka Media Klaim Sentimen Positif Pasar - Harga Saham Melesat Tajam

NERACA Jakarta – Keluar masuknya saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) dari suspensi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat kekhawatiran…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…