Delisting, Sanksi Tepat Untuk Saham Tidur

OJK Perlu Selidiki

Jumat, 20/09/2013

NERACA

Jakarta – Otoritas pasar modal dinilai harus menyeleksi saham-saham emiten yang dinilai sebagai saham tidur. Sehingga otoritas pasar modal dapat mengetahui penyebab dan langkah tepat mengatasi saham tidur yang masih ada di pasar modal.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, kedua pihak tersebut harus mencari tahu penyebab saham emiten tidak likuid sehingga dapat mengambil langkah tepat.“Tahap awal BEI bisa memanggil managemen emiten tersebut untuk mencari tahu penyebabnya, jika ditemukan masalah seperti tidak adanya aksi korporasi, pembagian dividen sehingga membuat investor tidak tertarik terhadap saham emiten tersebut, BEI dapat memberi teguran sebagai wujud ketegasan,”ujar dia saat dihubingi Neraca, Kamis (19/9).

Selanjutnya, jika setelah diberikan teguran emiten tidak kunjung merealisasikan anjuran atau teguran yang telah diberikan, menurut dia BEI dapat memberi peringatan berupa ancaman delisting. Biasanya, setelah diberikan ancaman delisting, emiten akan melaksanakan apa yang telah diannjurkan.

Namun, jika setelah peringatan dan ancaman delisting tidak juga membuat emiten tersebut memberi respon positif, pemanggilan untuk dinyatakan delisting merupakan langkah yang tepat sebelum merealisasikan delisting tersebut.“Jika emiten tersebut memang sudah tidak memiliki kemampuan untuk melakukan aksi korporasi atau yang dianjurkan otoritas, langkah delisting merupakan yang paling tepat diambil”, ujar dia.

Dia menjelaskan seperti salah satu emiten yang meproduksi minuman beralkohol dengan harga saham yang cukup tinggi. Dia menilai aksi korporasi yang dilakukan emiten tersebut cenderung minim, selain itu harga saham yang ditawarkan juga cenderung mahal. “Dengan konndisi seperti ini, harus ada perhatian dari BEI,” ujar dia.

Menurut dia, seharusnya BEI mempertanyakan dengan harga saham yang ditawarkan cukup tinggi, apa ada investor yang mau dan berani mengambil resiko dengan membeli saham tersebut. Harga saham yang tervbentuk diakui dia sebagai wujud dari pelepasan saham yang minim, namun seharusnya sebagai perusahaan publik harga yang ditawarkan adalah harga yang mampu dibeli investor.“Kondisi ini memperlihatkan manajemen yang enggan berbagi saham dengan publik. Sehingga tercipta harga saham yang tinggi akibat minimnya jumlah saham yang dilepas,”paparnya.

Sementara itu, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, BEI harus memperkenalkan dan mempromosikan saham tidur di pasar modal. Dia menilai, saham tidur disebabkan karena tidak ada investor yang mengetahui saham tersebut. Sehingga ini menjadi tugas bagi BEI untuk mengenalkan saham-saham “tersembunyi” tersebut.“Jangan langsung delisting tetapi dikenalkan terlebih dahulu. Tetapi yang utama dilihat dulu berapa banyak sahamnya yang ada ditangan publik, jumlah minimum investornya. Selain itu harus diperhatikan juga free float-nya,”kata dia. (nurul)