Walikota: "ODNR Selesaikan Problema Kelaparan"

Kota Depok

Jumat, 20/09/2013

Depok – Pemerintah Kota Depok sebagai pelopor gerakan One Day No Rice (ODNR) mendapatkan banyak sikap sinis dari beberapa pihak. Namun, seiring berjalannya waktu dan pemahaman yang terus digulirkan, ODNR pun mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebenarnya, nilai strategis dari gerakan ODNR adalah berdampak pada kepedulian atas penyelesaian problema kelaparan internasional. Juga, berdampak pada terciptanya lapangan kerja di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

“Bahkan, juga mampu meningkatkan kualitas kesehatan serta kesejahteraan. Hal ini, jika menilik sumber pangan lokal yang lebih sehat dan memiliki glikemik indeks rendah, sehingga resiko terkena diabetes pun rendah,” demikian dijelaskan Walikota Depok H Nur Mahmudi Isma’il saat memimpin Upacara Hari Kesadaran Nasional, di Depok, Rabu,

Menurut dia, di berbagai kesempatan, seperti saat Rakor Apkasi dan Apeksi beberapa hari lalu di Bali, dan saat menjadi narasumber di Universitas Sahid Jakarta, selalu dijelaskan bahwa gerakan ODNR bukanlah sebuah gerakan yang mengharamkan makan nasi padi dan tidak menghambat intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman padi.

Gerakan ODNR merupakan gerakan untuk meningkatkan budaya pangan lokal, dengan mengurangi makan nasi dan menggantinya dengan karbohidrat lokal lainnya, seperti jagung, singkong, ubi, gembili, sukun, dan masih ada 77 jenis karbohidrat yang tersedia di Indonesia.

Dikemukakannya, kebanyakan orang Indonesia, makan nasi sebanyak 3x dalam sehari, dan gerakan ODNR bisa diimplemtasikan dengan 1x makan nasi dan 2x makan karbohidrat lainnya, maka kita tidak lagi meng-import beras, karena kita bisa mengkonsumsi karbohidrat yang bisa disediakan oleh bangsa sendiri.

“Bila dua pertiga kita ganti dengan jagung, cadangan 22,1 ton. Produktivitas jagung adalah 4,8 ton/ha dengan jumlah tenaga kerja/ha sebanyak 15 orang. Untuk menghasilkan 22,1 juta ton, dibutuhkan 22,1 juta ton/4,8 ton, yaitu 4.604.167 ha. Yang artinya, akan terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 69 juta tenaga kerja, bila kita gunakan jagung sebagai pengganti beras<” ujar Nur Mahmudi meyakinkan.

Bahkan, tandasnya, tak hanya dapat mengurangi jumlah pengangguran, ODNR pun dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Dimana untuk mengukur kemiskinan, dapat menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, dengan metode menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).

Dijelaskan lagi, komoditi kebutuhan dasar makanan (GKM) diwakili oleh 52 jenis komoditi (seperti padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, dll), dan GKNM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, dll, yang diwakili oleh 51 jenis komoditi. Dan, meenurut BPS, komoditi yang memberikan pengaruh besar pada kenaikan GK pada September 2012, adalah Beras dan Rokok. Untuk itu, ayo kita kurangi konsumsi beras dan rokok.

Nur Mahmudi mengemukakan, Garis Kemiskinan (GK) saat ini Rp. 259.520,- atau sekitar 11,6 % dengan total konsumsi 1.865,30 kkal/kap/hr. Dimana konsumsi padi-padian sebanyak 886,84 kkal/kap/hr, 81,73 % adalah nasi/beras dan 14,35 % jagung. Misalkan harga beras Rp. 9000/kg dan harga jagung Rp. 3.500/kg, dan bila kita 2x makan jagung dalam sehari, maka konsumsi beras akan turun menjadi 32,02 % dan konsumsi jagung akan naik sebesar 64,05 %.

“Artinya dapat menurunkan GK sebesar 31,5 % atau GK menjadi Rp. 177.770,-, kemiskinan pun terselesaikan dengan ODNR,” paparnya yang berharap dapat memahami gerakan ODNR, karena memiliki dampak yang sangat positif dan luas, sebagai sebuah gerakan membangun kembali dan menyempurnakan budaya makan aneka pangan lokal menuju Indonesia Sehat dan Sejahtera.