Kenaikan BI Rate Jadi Berkah Investor Obligasi

Momen Tepat Masuk Ke Pasar

Jumat, 20/09/2013

NERACA

Jakarta- Meski dinilai akan menekan kinerja perbankan karena berpotensi memukul pertumbuhan kredit, kenaikan suku bunga acuan perbankan (BI rate) 7,25% sebenarnya menjadi berkah bagi investor yang akan masuk ke pasar obligasi. Pasalnya, dengan terjadinya kenaikan suku bunga akan mendorong naiknya kupon obligasi.

Head of Marketing BNP Paribas Investment Partners, Maya Kamdani mengatakan, harga obligasi sangat berdampak dengan tingkat suku bunga acuan (BI rate). Apabila BI rate naik, maka harga obligasi di pasar sekunder otomatis merosot dan menyebabkan imbal hasil (yield) yang akan diraih investor menjadi lebih besar dari sebelumnya. Karena itu, kondisi ini menjadi momen yang tepat untuk investor masuk ke pasar. “Rata-ratanya kalau suku bunga naik 1%, harga obligasi di pasar sekunder akan turun 2% untuk durasi 2 tahun,” katanya di Jakarta, Kamis (19/9).

Selain itu, kata dia, investor juga dapat untung dua kali jika inflasi dan suku bunga pada tahun depan lebih rendah jika dibandingkan tahun ini. Karena jika suku bunga turun maka harga jual obligasi di pasaran akan naik. Dengan demikian, investor memiliki potensi capital gain di tahun berikutnya.

Menurut dia, dalam hal pemberian kupon, pihak swasta akan memberikan tingkat kupon yang lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah yang menjadi benchmark-nya. Diketahui, yield obligasi terus bergerak naik pasca adanya ekspektasi kenaikan inflasi yang dinilai akan ikut mendorong kenaikan BI rate pada tahun ini. Pemerintah sudah mengumumkan bahwa Obligasi Ritel Indonesia (ORI 010) akan memberi imbalan 8,5% per tahun dengan tenor 3 tahun.

Imbalan tersebut naik jika dibandingkan ORI 009 yang memberikan kupon sebesar 6,25%. ORI 009 sendiri diterbitkan pada September 2012. Dalam kondisi saat ini, pihak penerbit obligasi mau tidak mau harus membayar biaya lebih mahal akibat suku bunga (kupon) yang diminta investor mengalami kenaikan signifikan.

Kenaikan Yield

Senada dengan Maya, analis obligasi PT Penilai Harga Efek Indonesia Fakhrul Aufa mengatakan, karena adanya ekspektasi kenaikan BI rate, investor akan meminta kenaikan yield pada setiap lelang Surat Utang Negara (SUN). “Secara historis, untuk seri SPN ada kenaikan 5-10 bps untuk yield yang dimenangkan. Sementara untuk seri FR itu bervariasi mulai dari 30-70 bps.” ucapnya.

Oleh karena itu, sambung dia, yang bisa dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kupon sehingga dapat terserap pasar dengan baik. “Kalau dari sisi demand saat ini belum ada masalah sehingga yang dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kuponnya sehingga tetap menarik.” ucapnya.

Memang, kata dia, dengan adanya kenaikan BI rate investor konservatif akan cenderung memilih untuk memperbanyak porsinya di perbankan karena dinilai risiko lebih kecil dan terukur. Terlebih dengan kondisi pasar yang bergejolak. Namun sebenarnya, sambung dia, ini saatnya investor masuk ke pasar. “Dengan yield yang tinggi artinya harganya sangat murah. Ini saatnya masuk ke pasar dengan horizon investasi yang lebih panjang.” ungkapnya.

Meski demikian, Fakhrul memproyeksikan, penerbitan obligasi hingga akhir tahun ini bisa mencapai Rp55 triliun. Karena bagaimanapun, penerbitan obligasi akan lebih dipilih perseroan karena waktu pembayaran temponya lebih panjang dibanding cara pencarian dana yang lain. Tercatat, ada beberapa perusahaan yang tengah memproses izin penerbitan obligasi korporasi pada semester kedua tahun ini, antara lain PT Duta Anggada Realty Tbk (DART), PT Profesional Telekomunikasi Indonesia, PT Surya Artha Nusantara Finance, dan PT Ciputra Residence. Diperkirakan emiten tersebut akan mencatatkan obligasi di periode Agustus-Oktober 2013 dengan nilai emisi sekitar Rp5,7 triliun. (lia)