Tempe Lamtoro, Atasi Mahalnya Kedelai

Tempe Lamtoro, Atasi Mahalnya Kedelai

Tak ada kedelai, petai cina atau lantoro pun jadi. Para perajin tempe di Pacitan tak mau gulung tikar gara-gara harga bahan baku tempe, yaitu kedelai membumbung tinggi. Mereka tetap membuat tempe tapi bahan bakunya dari petai cina atau lamtoro.

“Tempe lamtoro rasanya seperti tempe kedelai, dan tentu saja harganya lebih murah dari tempe kedelai,” kata Utari, perajin tempe dari Desa Kebon Agung, Pacitan, Jawa Timur. Menurut Utari, proses pembuatan tempe lamtoro gung tak beda dengan tempe kedelai, yaitu melalui proses peragian.

Menurut Utari, sebagai perbandingan, 1 kg kedelai saat ini seharga Rp9.600, jika dijual menjadi tempe hanya mendapat keuntungan Rp2.000 per kg. Sedangkan 1 kg lamtoro harganya Rp6.000. Setelah diolah, dapat menghasiulkan sekitar 120 bungkus tempe lamtoro dengan keuntungan Rp 10 ribu.

Pembeli pun lebih memilih tempe lam karena harganya lebih murah dibanding tempe kedelai. Satu tempe lam Rp100 sedang tempe kedelai Rp500. Perajin memilih membuat tempe ini untuk menyiasati pasar dan bisa melangsungkan usahanya.

Pembuatan tempe lam mampu menjadi alternatif, setelah harga kedelai sudah tak mampu dijangkau para pembuat tempe. Dengan cara ini perajin tetap terus bekerja dan pembeli tetap bisa menikmati lauk murah meriah.Mahalnya harga bahan baku pembuat tempe, yaitu kedelai, membuat sejumlah perajin tempe kedelai beralih bahan baku. Perajin tempe di Pacitan mulai melirik untuk membuat tempe dari bahan baku petai cina.

Kasus Keracunan

Namun, yang harus diantisipasi adalah perlunya penelitian laboratorium bahwa tempe lamtoro aman dikonsumsi. Sebab, dalam beberapa waktu lalu, ada sejumlah orang meninggal dunia tak lama setelah makan tempe daun. (saksono)

Related posts