Kenaikan BI Rate Bakal Hambat Industri Manufaktur

Senin, 16/09/2013

NERACA

Jakarta - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin (bsp) dari 7% menjadi 7,25% diprediksi akan menghambat laju pertumbuhan industri manufaktur.

Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Benny Wachjudi mengatakan hal tersebut merupakan sebuah pilihan yang memang harus diambil pemerintah. "Sudah pasti (menghambat). Itu kan suatu pilihan ya. Kita kan juga ingin menjaga stabilitas mata uang kita. Jadi pasti akan ada beban, mungkin ada imbalannya, mungkin nilai rupiah akan menguat lagi. Itu kan pilihan-pilihan," ujar Benny di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, dampak kenaikan BI rate terhadap oleh masing-masing sektor industri berbeda-beda. Salah satu sektor yang diuntungkan terutama yang memakai bahan baku dari dalam negeri. Industri tersebut, dia mencontohkan, seperti industri furnitur yang memakai berbahan baku dalam negeri tetapi gencar melakukan ekspor."Seperti industri furnitur, industri makanan berbasis lokal, itu untung. Tapi kalau industri yang bahan bakunya impor, itu akan merasakan kerugian," tandas dia.

Dampak Sementara

Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia, Nina Sapti menegaskan kalau kenaikan BI rate dinilai hanya memberikan dampak sementara bagi perekonomian nasional yang sedang lesu. Kebijakan ini pun hanya memperbaiki sektor moneter dan bukan sektor industri produksi atau sektor riil yang masih menjadi tumpuan perekonomian Indonesia.

Nina menegaskan kenaikan BI rate bisa menarik aliran modal kembali masuk ke Indonesia yang diharapkan mampu membangkitkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). "Tapi kebijakan ini mungkin hanya untuk 3 sampai 6 bulan, sementara jangka panjangnya harus mulai dipikirkan pemerintah," kata dia.

Dia mengatakan, kenaikan BI rate memang menjadi kewenangan BI untuk mengatur sektor moneter di Indonesia. Sebab itu, kebijakan ini hanya sebagian besar memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia. Menurut dia, kenaikan BI rate akan membuat aliran modal masuk. Tapi di sisi lain sektor riil menjadi terhambat pertumbuhannya sebagai tindak lanjut dampak kenaikan BI rate.

Sebab itu selain moneter, pemerintah diminta ikut memikirkan kebijakan sektor lain seperti riil. Seperti mencari cara bagaimana mengurangi ketergantungan pada impor yang masih besar. Apalagi, impor tersebut menyangkut kebutuhan pangan dan energi nasional.

Dia mengingatkan saat ini harga kebutuhan pokok seperti daging, sayur dan bahan bakar minyak (BBM) masih cukup tinggi di dalam negeri. Hal itu karena sebagian besar masih dipasok dari negara lain."Jadi BI rate memberikan kepercayaan di pasar uang tetapi memberikan stigma buruk bagi sektor riil karena masyarakat masih harus membayar lebih mahal untuk pangan dan minyak," tutur dia.

Kebijakan jangka panjang yang bisa diambil pada sektor riil, dia mencontohkan bagaimana pemerintah membangun kilang BBM yang selama ini menjadi kendala memberikan pasokan energi lebih besar bagi negara. Kemudian menggenjot swasembada daging, kedelai, sayur, buah dan lainnya.

"Jadi sektor riil harus dibangun secepatnya. harus ada insentif dan cara bagaimana pemerintah secepatnya bekerja mengurangi impor agar harga pangan dan energi tetap murah dan inflasi tetap karena inflasi dan tekanan defisit bagi sinyal untuk rupiah," lanjut Nina.

Menurut dia, jika sektor riil tak segera diperbaiki maka perekonomian nasional bisa memburuk secara permanen. Ini mengingat produk yang diimpor Indonesia merupakan bahan utama dan menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

"Karena jika kita masih bergantung impor kemudian ada kejadian seperti ini lagi maka akan sulit. Harga pangan jadi tambah mahal karena rupiah anjlok, dan masyarakat kelas menengah bawah yang kena, karena pangan dan minyak tidak bisa diganti, " jelas dia.

Masalah Pembiayaan

Sementara itu, pengamat LPEM-UI Eugenia Mardanugraha mengungkapkan menaikkan suku bunga acuan BI Rate akan mendorong perbankan menaikkan lagi suku bunga deposito dan kredit sehingga mempersulit ruang gerak pengusaha yang selama ini mengandalkan pembiayaannya melalui perbankan. Kini, terbukti suku bunga bank mulai merangkak naik lebih tinggi lagi. "Padahal,kebijakan menaikan suku bunga ini bisa membahayakan sektor rill dalam negeri, karena kredit yang tidak terserap di masyarakat," ujar Eugenia.

Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan untuk meredam tekanan inflasi dan gejolak nilai tukar (kurs) rupiah, menurut dia, jelas mendatangkan konsekuensi lain bagi industri perbankan dan sektor rill yang ada. Karena, paradigma yang berlaku di Indonesia adalah bahwa investasi sektor riil akan masuk dengan sendirinya jika pasar uang dan pasar modal domestik dijaga tetap atraktif.

Hal ini juga menyebabkan upaya mendorong kegiatan sektor riil, yang membutuhkan suku bunga rendah dari perbankan, sekarang ini tidak dapat lagi dilakukan secara optimal. "Selama ini ekonomi didominasi oleh konsumsi. Pertumbuhan konsumsi lebih didorong oleh golongan menengah atas yang punya investasi dan tabungan. Banyak investor domestik menaruh dananya pada portofolio keuangan dari pada berinvestasi di sektor riil. Suku bunga tinggi akan mengurangi minat orang untuk berinvestasi di sektor riil. Artinya, suku bunga tinggi menghambat laju sektor riil," ujarnya.

Padahal, Eugenia melihat gejolak kurs rupiah terhadap US$ bukan cuma disebabkan dari defisit perdagangan, tapi juga akibat penarikan dana asing secara masif dan tiba-tiba (sudden reversal). Hal ini diakui BI bahwa dana asing yang lari (capital outflow) berasal hot money dalam beberapa bulan ini mencapai Rp 34 triliun. Sementara cadangan devisa dalam 6 (enam) bulan terakhir merosot menjadi US$98,1 miliar (Juni 2013) dari semula US$112 miliar (Desember 2012), atau tergerus sekitar US$14 miliar untuk menjaga fluktuasi nilai rupiah.

Kondisi ini berawal dari kebijakan Bank Sentral AS ( The Fed) yang sedang mempertimbangkan kemungkinan menghentikan kebijakan pelonggaran likuiditas (quantitative easing/QE) sejalan dengan mulai pulihnya ekonomi negara adidaya itu. Situasi ini akhirnya memicu penarikan dana besar-besaran dari luar negeri masuk kembali ke AS, sehingga membuat US$ menguat terhadap valas lain, termasuk rupiah.