BNI Belum Mau Buyback Saham

Kamis, 12/09/2013

Jika sebagian beberapa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana melakukan buyback saham seperti yang dilakukan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan juga PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), maka sebaliknya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mengaku belum berniat melakukan pembelian saham kembali atau buyback.

Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo mengatakan, perseroan belum melakukan buyback saham di tengah gejolak pasar saat ini. Sebaliknya, perseroan lebih memilih menggunakan dana yang ada untuk penyaluran kredit, “Kami belum mau buyback saham dan sebaliknya ada uang yang ada untuk penyaluran kredit yang kaitannya dengan pendapatan perseroan, “ujarnya di Jakarta kemarin.

Gatot meengatakan, pemilihan penggunaan dana untuk penyaluran kredit dari pada buy back juga dinilai hanya menimbulkan risiko non performing loan (NPL) yang tentunya dapat dijaga. Sementara, buy back hanya akan menghasilkan saham simpanan (treasury stock) saja.

Hingga akhir tahun, BNI mematok kredit dapat bertumbuh 18-22%. Target ini masih tergolong optimis di tengah kondisi seperti saat ini.”Kita dari dulu menargetkan growth moderat di level 20%-21%,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengakui, pihaknya telah mengajukan permintaan izin buyback saham dan telah disetujui OJK. Namun, pihaknya tidak mau langsung melakukan buyback karena masih menunggu hingga harga sahamnya dibawah book value,”Saat ini tim Bank Mandiri sedang memantau kondisi market dan ketika harga saham perseroan di bawah hitungan, maka kami langsung melakukan buyback. Secara teori seluruh investor support kalau harga saham di bawah book value,”kata dia.

Dia juga menambahkan, pihaknya tidak mau jika setelah melakukan buyback harga sahamnya justru turun lagi. Sehingga dengan kondisi sahamnya yang masih berbanding seimbang, 50 banding 50, perseroan belum akan melakukan buyback.“Kita memang masih diposisi menunggu waktu yang tepat, misalnya harga saham di level 12.000 dan itu berarti masih mencerminkan 2 kali book value. Saat ini masih 1,5 kali book value, sehingga kita buyback, tapi kalau di atas bookvalue kita tidak buyback”, jelas dia