Curah Hujan Tinggi, Produksi Garam dan Ikan Anjlok

Kamis, 12/09/2013

NERACA

Jakarta - Target produksi garam dan perikanan tahun 2013 mengalami penurunan. Itu diakibatkan karena cuaca, dimana musim hujan yang berkepanjangan membuat produktifitas garam maupun ikan terganggu. “Anomali cuaca, tingginya curah hujan mengakibatkan tingkat produksi garam dan ikan menurun,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, saat rapat kordinasi dengan Komisi IV DPR, di Jakarta, Rabu (11/9).

Tingginya curah hujan, lanjut Sharif, mengakibatkan penurunan suhu sehingga menyebabkan penurunan produktivitas dan pertumbuhan ikan khusunya ikan kakap dan kerapu. Disamping ikan produktifitas rumput laut juga ikut menurun mengingat banyak rumput laut yang terkena penyakit ice-ice. “Memang untuk ikan mengalami penurunan. Tapi di tahun 2014 mendatang budidaya perikanan ditargetkan meningkat akibat kenaikan produksi udang,” ujarnya.

Sedangkan untuk garam, sambung Sharif, sisa stok garam sampai dengan saat ini berkisar 400.000 ton, dan stock ini hanya mencukupi 1,5 bulan kedepan kebutuhan nasional. Maka dari itu, untuk mendorong produktifitas hingga akhir tahun KKP akan melakukan penerapan tekhnologi perbusan. Disamping itu, KKP juga akan mengembangkan tekhnologi mesin cetak garam. “Harapannya untuk memenuhi kuota kebutuhan nasional garam, pemerintah tidak perlu impor,” imbuhnya.

Secara komulatif produksi kelautan menurun, penurunan itu pun ungkap Sharif, berdampak pada penurunan target ekspor di tahun 2013 ini. Ini diakibatkan menyusul menurunnya pertumbuhan ekonomi amerika dan japang sebagai pasar tujuan ekspor hasil perikanan dunia. “Tapi saya optimis target ekspor tahun depan dapat dipenuhi, mengingat meningkatnya produksi udang, nilai tambah produk perikanan, dan prediksi tingginya permintaan pasar dunia terhadap produk perikanan,” terangnya.

Walaupun secara target tahunan belum terpenuhi. Tapi, secara pertumbuhan ekonomi nasional dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan terus tumbuh positif. Dilahat dari data tahun 2012 pertumbuhannya 6,48% dan untuk triwulan kedua tahun 2013 meningkat menjadi 6,96%. Dan dilihat dari nominalnya tahun 2012 Rp 255,3 trilliun, dan sampai dengan triwulan kedua tahun 2013. Secara kumulatif PDB perikanan telah mencapai 137, 5 trilliun. Angka ini belum termasuk PDB dari industry pengolahan dan kegiatan perikanan lainnya disektor hilir. “Pembangunan kelautan dan Perikanan sampai saat ini masih memberikan kontribusi pada perkembangan perekonomian nasional,” tegas Sharif.

Fokus RPJMN

Tahun 2014 merupakan tahun terakhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang mulai dari tahun 2010 lalu. Maka dari itu, KKP telah berkomitmen untuk fokus pada pencapaian pembangunan yang belum terlaksana sesuai target.

“Saat ini KKP fokus pada target sasaran dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) yang bersinergi dengan kebijakan minapolitan, industrialisasi, dan blue economy, yang akan menjadi pencapaian utama KKP pada tahun 2014,” paparnya.

Selain itu, sesuai dengan tema pembangunan kelautan dan perikanan, maka arah kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan diarahkan pada 8 kebijakan, diantaranya dititikberatkan pada peningkatan daya saing produk kelautan dan perikanan. “Program KKP berbasis pada sumber daya alam. Maka dari itu kebijakan yang diambil sesuai dengan konservasi dan pelestarian sumberdaya alam serta pengawasan sumber daya yang akan menjadi kebijakan,” terangnya.

Adapun total pagu anggaran yang didapat KKP sesuai dengan rapat dengan Komisi IV DPR Juli, lalu sebesar Rp 5,6 trilliun. 55% dialokasikan untuk pusat, untuk belanja bantuan sosial untuk kegiatan PNPM mandiri yang akan disalurkan kepada lebih 11.000 kelompok serta alokasi dana kegiatan yang bersumber dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). “Anggaran tahun 2014 difokuskan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan pro poor sebesar 29%, dan pro growth sebesar 60%, dan untuk pro environment sebesar 11%,” pungkasnya.