Pemerintah Akui Sulit Dongkrak Perdapatan Perkapita - Target Per Kapita US$ 15.000 Pada 2025

NERACA

Jakarta ----Pemerintah mengakui mendongkrak pendapatan perkapita negara menjadi US$15.000 pada 2025 bukanlah hal yang mudah. Alasannya pengembangan potensi SDA belum optimal. “Visi pemerintah untuk menaikan pendapatan per capita negara menjadi US$45.000 pada 2025 bukan pekerjaan yang mudah,” kata Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa saat membuka The 4th Master Journey in Management, The 6th International Conference on Business and Management Research (MJM & DJM) di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, 7/7.

Menurut Hatta, saat ini pendapat per capita Indonesia hanya sebesar US$3000 per tahunnya. Padahal potensi sumber daya alam (SDA) Tanah Air sangat besar. Hal ini disebabkan kurangnya optimalisasi pemanfaatan SDA. “Bahkan pemerintah malah menyerahkannya ke pihak asing, keuntungan yang dirasakan Indonesia sangat kecil,” tambahnya.

Lebih jauh kata Hatta, kehadiran pihak asing di Indonesia memang tidak sekedar mengadalkan kecanggihan tekonologi. Tapi juga kemampuan mengelola sumber daya yang ada dengan baik. Realisasi visi pemerintah juga terbentur pada masalah kesenjangan pembangunan pada tiap daerah serta keterbatasan infrasktrukturnya. “Selain itu, dinamika global saat ini menyebabkan semakin tingginya persaingan antar negara,” paparnya.

Pendapatan Indonesia pada bidang ekspor sebesar 30% berasal dari (SDA) seperti gas alam, batu bara, panas bumi, minyak kelapa sawit, kakao, timah, nikel, dan bauksit dengan kualitas yang baik. Sisanya berasal dari sektor lain seperti Industri dan jasa.

Hatta menilai Indonesia akan bisa merealisasikan visi tersebut apabila pemerintah bisa memanfaatkan sendiri potensi SDA di dalam negeri. "Pengembangan koridor ekonomi prioritas berbasis komoditi atau sektor unggulan wilayah pada tiap daerah pasti akan memberi nilai positif. misalnya, wilayah Jawa mengembangkan potensinya di bidang jasa, lalu Sulawesi dengan Nikelnya, Bali dengan pariwisatanya, Kalimantan dengan batu baranya, dan Papua dengan emasnya," katanya.

Hatta menegaskan Indonesia telah berhasil menghadapi krisis global dan semestinya siap untuk menghadapi dinamika global yang menuntut Indonesia bersaing ketat dengan negara lain.

Kegiatan MJM & DJM sendiri merupakan kegiatan yang diselenggarakan UI yang bekerjasama dengan Bisnis Indonesia untuk memperkuat hubungan dunia riset para mahasiswa doktor dengan praktek manajemen. Tahun ini, MJM di ikuti oleh 50 tim yang masing-masing terdiri dari 3 orang yang harus mempresentasikan studi kasus 2 perusahaan institusi jasa keuangan, yaitu BCA dan Adira Finance.

Sedangkan DJM diikuti oleh mahasiswa program doktor yang mempresentasikan hasil penelitiannya yang di bagi menjadi konsentrasi keuangan, pemasaran, manajemen stratejik, manajemen sumber daya manusia, dan konsentrasi syariah. (vanya)

BERITA TERKAIT

KKP Bikin Percontohan Teknologi RAS Pada Unit Pembenihan Rakyat

NERACA Yogyakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan tinjauan langsung ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di desa wisata…

Target Penjualan Agung Podomoro Stagnan - Mengandalkan Proyek Eksisting

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menargetkan marketing sales atau prapenjualan senilai Rp 4,9 triliun.…

Pemerintah Serap Dana Rp8,47 triliun dari Lelang SBSN

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana sebesar Rp8,47 triliun dari lelang enam seri Surat Berharga Syariah Negara…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sektor Riil - Menperin Nilai Indonesia Siap ke Arah Industri Berbasis Digital

NERACA Jakarta – Pelaku industri nasional perlu memanfaatkan perkembangan bisnis dan teknologi dari era ekonomi digital saat ini, seperti yang…

KKP Bikin Percontohan Teknologi RAS Pada Unit Pembenihan Rakyat

NERACA Yogyakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan tinjauan langsung ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di desa wisata…

Dunia Usaha - Penerapan Industry 4.0 Buka Peluang Kerja Baru Lebih Spesifik

NERACA Jakarta – Penerapan sistem Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi…