Indeks Belum Stabil, Tunda IPO Tahun Ini - Beresiko Bagi Emtien dan Penjamin Emisi

NERACA

Jakarta – Kondisi pasar yang masih belum stabil dan indeks yang masih fluktuatif dinilai cukup beresiko bagi emiten dan penjamin emisi untuk melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Banyak yang menilai, rencana IPO sebaiknya ditunda atau jika dipaksakan sebaiknya mengurangi jumlah saham yang dilepas.

Menurut Direktur utama PT Danareksa Sekuritas Marciano Herman, resiko bagi calon emiten yang akan IPO yaitu tidak terserapnya saham yang dilepas ke publik sehingga berdampak pada penjamin emisi yang harus membeli saham yang dilepas tersebut, “Bagi perusahaan yang bakal melakukan proses IPO sebaiknya wait and see terlebih dahulu,”katanya di Jakarta, Senin (9/9).

Dia mengakui, saat ini Danareksa telah mengajukan rekomendasi IPO dua emiten ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu rencana obligasi sejumlah emitenjuga telah diajukan. Namun prosesi selanjutnya akan menunggu kondisi pasar.

Sehingga pihaknya tengah mencermati situasi pasar agar rencana IPO 2 emiten yang sedang ditangani dapat berjalan sesuai rencana.“Kami punya fokus pasar tersendiri untuk menangani IPO dan obligasi. Kami tangani yang besar-besar saja secara optimal, terakhir tangani IPO Electronic City. Selain itu, kami juga masih menunggu karena dengan adanya volatilitas ini, bukan emiten saja yang beresiko tapi penjamin emisi juga beresiko tinggi”, jelas dia.

Perusahaan sekuritas plat merah ini juga terkesan tidak optimis dengan pergerakan indeks, Danareksa hanya memprediksi IHSG hingga akhir tahun berada di level 4.680. Target ini sama dengan gambaran kondisi krisis di tahun 1998 lalu.“Kemungkinan akan ada koreksi di Oktober, tetapi di bulan November dan Desember nanti akan up sekitar 50%. Mengutip analisa S&P, kondisi pasar modal Indonesia sangat sensitif terhadap faktor eksternal. Jika ada faktor negatif di pasar global, investor pun meninggalkan pasar modal. Akibatnya harga saham di pasar modal berjatuhan”, jelas dia.

Sehingga saat ini, Danareksa tengah berusaha memperkuat basis pasar domestik dengan mengefisiensikan informasi di pasar modal. Dalam acara CEO Day yang diselenggarakan Danareksa, dia menyatakan bahwa investor asing yang diundang dalam acara tersebut akan diminta untuk berinvestasi berdasarkan fundamental indonesia, bukan seperti biasanya dengan fundamental emerging market atau global.“Sebagai sekuritas yang 100% dimiliki negara, kami harus cepat merespon kondisi pasar seperti sekarang ini karena memang kita masih sangat sensitif. Contoh, Filiphina sebanyak 80%-90% investornya domestik. Makanya kita perlu perbaiki struktural market kita”,ujarnya.

Pada acara CEO Day tersebut, Danareksa memfasilitasi berbagai emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta untuk membahas strategi bisnis dengan melihat kondisi perekonomian saat ini dan ke depannya. Acara ini diharapkan dapat menguntungkan dari kedua belah pihak, antara emiten dan investor.

Diharapkan emiten dapat menyampaikan kondisi terkini perusahaan dan strategi bisninya ke depan, dan pihak investor dapat memberikan masukan serta berdiskusi secara aktif.“Investor yang hadir dari berbagai institusi, seperti asuransu, dana pensiun, perusahaan investasi baik domestik ataupun afiliasi institusi internasional”, jelas dia. (nurul)

Related posts