Tiga Perusahaan Rusia Minati Sektor Tambang

Selasa, 10/09/2013

NERACA

Jakarta - Tiga perusahaan tambang asal Rusia tetap ingin berinvestasi ke Indonesia Timur pada tahun 2014 nanti meski situasi ekonomi global sedang tak menentu. Minat 3 perusahaan tambang itu terungkap setelah hasil kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melakukan rangkaian lawatan ke sejumlah negara sejak 1-7 September 2013. Presiden terakhir mengunjungi St. Petersburg, Rusia untuk menghadiri KTT ke-8 dari G-20. Presiden didampingi sejumlah menteri termasuk Menteri Perindustrian MS Hidayat.

"Tentu dalam situasi global yang seperti ini dalam investasi kita tidak mempunyai target. Tapi saya sendiri menerima tiga perusahaan pertambangan yang berasal dari rusia yang tetep ingin masuk ke sini tahun depan kalau semuanya selesai," kata Hidayat di Jakarta, Senin (9/9).

Namun Hidayat belum mau menyebut nama 3 perusahaan itu. Yang jelas ketiganya ingin masuk ke wilayah timur Indonesia. "Di Indonesia Timur," cetus Hidayat.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) saat ini paling besar berasal dari sektor pertambangan, atau mencapai sebesar US$ 2,6 miliar. Jumlah tersebut setara 18,4% dari total keseluruhan PMA yang masuk.“Berdasarkan sektor terbagi menjadi lima besar. Di semester pertama ini sektor pertambangan sebesar US$ 2,6 miliar,” kata Kepala BKPM Chatib Basri.

Sementara itu, lanjut Chatib, posisi kedua ditempati sektor alat angkut dan transportasi lainnya sebesar US$ 1,9 miliar, disusul industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi sebesar US$ 1,8 miliar.

Sedangkan untuk industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik menempati urutan keempat yang diminati PMA, yakni sebesar US$ 1,7 miliar.“Sisanya industri makanan sebesar US$ 0,9 miliar, dan US$ 5,3 miliar berada disektor lainnyan,” jelasnya.

Chatib menuturkan, tahun ini tepatnya di semester kedua sendiri bakal banyak lagi investor asing yang akan masuk, ke sektor otomotif, karet sintesis, baja untuk industri otomotif dan petrokimia.

Sebagai catatan saja, realisasi PMA berdasarkan wilayah di semester pertama 2013, paling besar berada di Jawa Barat yakni sebesar US$ 3,0 miliar, Banten US$ 2,4 miliar, DKI Jakarta US$ 1,4 miliar, Jawa Timur US$ 1,4 miliar, Papua US$ 1,3 miliar dan wilayah lainnya US$ 4,7 miliar.

Chatib mengatakan investasi sektor pertambangan merupakan yang terbesar, yang kemudian diikuti beberapa sektor lain. Total nilai investasi langsung sepanjang 2012 mencapai Rp 313,2 triliun atau 110,5% dari target Rp 283,5 triliun. Nilai investasi itu tumbuh 24,63% dari tahun 2011 yang sebesar Rp 251,3 triliun.

Investasi asing tercatat Rp 221 triliun atau 106,9% dari target Rp 206,8 triliun dan investasi dalam negeri Rp 92,2 triliun atau 120,2% dari target Rp 76,7 triliun."Investasi asing setara 70,6% dari total penanaman modal 2012," kata Chatib. Sekitar 56,1% investasi masuk-Jawa dan 43,9% ke luar Jawa. "Ini sudah mulai membaik, ke depan harus dorong infrastruktur agar mereka mudah masuk investasi ke luar Jawa".

Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, mengatakan realisasi saat ini merupakan tren pertumbuhan investasi yang baik dari tahun ke tahun. Target investasi 2013 sebesar Rp 390 triliun diperkirakan bisa terlampaui.

Menurut Purbaya, realisasi investasi langsung 2013 dapat tumbuh 10% secara riil atau 15% dari realisasi investasi yang tercatat BKPM."Investasi dari tahun ke tahun masuk fase baru di mana akan tumbuh cukup tinggi, terlebih pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa di atas 6,5%,"jelasnya.

Aviliani, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional, mengatakan dalam upaya mendorong investasi lebih besar masuk ke Indonesia, pemerintah diharapkan dapat memberikan beberapa kemudahan khususnya di sektor hilir. Selama ini investasi yang meningkat baru sektor tambang."Sekarang investasi lebih banyak di hum seperti pertambangan sehingga membuat investasi sektor padat karya belum terjamah atau kecil,"kata dia.

Di pihak lain, berdasarkan laporan survey World Economic Forum (WEF) 2013-2014, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan saya saing terbaik dan berhasil naik 12 peringkat menjadi posisi ke-38 yang sebelumnya menempati peringkat 50 dunia dari total 148 negara. WEF juga menilai Indonesia berhasil memperbaiki sektor infrastruktur yang naik 17 tingkat ke posisi 61 dunia yang awalnya di peringkat 78 dunia. Hal tersebut menunjukkan pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap positif sehingga dapat meningkatkan investasi di dalam negeri.