PNM Eksis Bantu Pengembangan Usaha Mikro

NERACA

Jakarta – PT Permodalan Nasional Madani (Persero) menawarkan lebih banyak nilai tambah bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam pengembangan usaha mereka. Direktur Utama PT PNM, Parman Nataatmadja mengatakan BUMN ini terus mengembangkan berbagai cara untuk membantu nasabah dalam mengembangkan usaha mereka, tidak sekedar menyalurkan pembiayaan.

“Kami memberikan nilai tambah mulai dari pelatihan manajemen sederhana, motivasi, hingga berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk mereka dengan membentuk kelompok bisnis, hingga pengembangan produk sesuai dengan pasar,” kata Parman dalam keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin (9/9).

Parman menjelaskan PNM telah melakukan pengembangan kapasitas usaha berkelanjutan dan berkembang ke tahap baru, seperti pembentukan kelompok bisnis, hingga pelatihan intensif. Salah satu contohnya pelatihan kepada para pengusaha sawit di Pekanbaru.

“Petani sawit biasanya mengalami kesulitan ketika musim buah berkurang. Kami memberikan pelatihan agar mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan lain di luar sawit selama masa tersebut,” ujar dia.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat jumlah total UMKM sebesar 55,2 juta unit usaha, sebanyak 98,82% diantaranya merupakan pengusaha mikro, 1,09% pengusaha kecil, dan 0,08% menengah

Parman menambahkan masih banyak UMKM yang kesulitan dalam membuat laporan keuangan dan dokumentasi usaha mereka. Jika dibiarkan hal ini berbahaya, walaupun secara bisnis UMKM tersebut tumbuh cukup progresif.

“Mereka harus meningkatkan kemampuan manajerial untuk menopang pertumbuhan bisnis, jangan sampai nanti bisnisnya bagus tapi gulung tikar karena pengelolaannya tidak tepat,” ungkap dia.

“Apabila dilihat dari Gross Domestic Product (GDP), pertumbuhan UKM semakin meningkat dari 57,9% di 2011 menjadi 59% di 2012. Dalam tiga tahun ke depan, bukan tidak mungkin pertumbuhan UKM bisa mencapai 74%,” tambah Parman.

Sedangkan Pengamat UMKM, Guritno Kusumo mengatakan, di tengah gejolak ekonomi saat ini, pelaku UMKM pasti ada yang dirugikan, tetapi juga ada yang diuntungkan. Tentu saja, secara umum semuanya akan lebih baik jika kondisinya stabil.

“Pontensi penyediaan pembiayaan atau permodalan bagi UMKM masih sangat besar, mengingat kebutuhan dan ketersediaan modal masih belum seimbang. Peluang ada dan sangat bisa dikembangkan,” jelas dia.

Hingga Agustus 2013, PNM telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp2,99 triliun, naik 42,23% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,62 triliun.

Jumlah nasabah pun mengalami kenaikan menjadi 68.983 nasabah hingga Agustus 2013, naik 13,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 48.500 nasabah.

Sekadar informasi, salah satu contoh usaha UMKM yang mempunyai prospek yang baik adalah Usaha Batik yang digeluti oleh Sri Lestari (38). Putri Jawa yang konsisten melestarikan batik sebagai warisan budaya leluhur ini besar di lingkungan keluarga pembatik di wilayah Laweyan, Solo.

Hal tersebut membuat keseharian Sri tidak bisa lepas dari batik. Bahkan, ibu dua orang anak ini rela menjadikan kediamannya di Jodag RT. 02/RW.11 Sumberadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta sebagai pusat produksi sekaligus galeri batik tulisnya.

Ide dan hobi Sri ini pun berkembang menjadi bisnis dengan merek dagang Batik Allussan. Sejak dirintis pada Maret 2005, Batik Allussan kini telah menghiasi berbagai etalase pusat perbelanjaan modern di kota-kota besar Indonesia.

Upaya Sri Lestari memperkenalkan batik karyanya tak tanggung-tanggung. Mulai dari mengikutsertakan dalam berbagai pameran fashion hingga membuka galeri di sejumlah hotel berbintang, seperti Hotel Santika Slipi Jakarta, Hotel Melia Purosani Yogyakarta, Galeria Mall Yogyakarta dan Hotel Inna Garuda Yogyakarta. Sri juga mengembangkan pemasaran Batik Allussan hingga ke mancanegara, seperti Singapura, Filipina dan Brunei Darussalam.

Harga jual Batik Allussan juga bervariasi, mulai dari Rp50.000 hingga Rp6,5 juta. Untuk jenis yang termahal, kain Batik Allussan berukuran 2,5 meter seharga Rp6,5 juta dan itu dalam sebulan bisa terjual 4 helai.

Dari hasil membatik, Sri Lestari bisa meraup omzet hingga Rp495 juta per bulan, hanya dari hasil penjualan di galeri-galeri miliknya. Jumlah tersebut belum memperhitungkan pemasukan dari pameran-pameran yang rutin diikutinya empat kali dalam sebulan. Rata-rata pemasukan per pameran berkisar Rp35 juta atau sekitar Rp140 juta per bulan.

Dalam menjalankan bisnisnya, Sri Lestari dibantu oleh 25 karyawan tetap, 20 pekerja freelance, dan 25 pengrajin batik binaan yang tersebar di sekitar tempat tinggalnya. Untuk karyawan tetap mendapatkan upah masing-masing Rp1 juta per bulan. Sementara itu, pendapatan pekerja freelance dan pengrajin batik plasma tergantung dari jumlah produksi.

Seperti UMKM pada umumnya, Sri juga mengalami kendala keterbatasan biaya untuk mengembangkan usahanya. Beruntung ada PT Permodalan Nasional Madani (Persero), yang fokus pada pembiayaan pengusaha kecil melalui Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM).

Dengan memanfaatkan bantuan modal PNM, kini Sri tengah mendirikan galeri baru tidak jauh dari rumahnya. Seiring dengan investasi yang dilakukan Sri, semoga batik Indonesia tetap lestari di tengah era globalisasi. [mohar]

Related posts