Timah Targetkan Eksplorasi Tahun Ini

Ekspansi Bisnis di Myanmar

Selasa, 10/09/2013

NERACA

Jakarta – PT Timah Tbk (TINS) targetkan tahun ini untuk eksplorasi timah sebagai wujud ekspansi bisnisnya di Myanmar yang telah mendapat izin prinsip. Sehingga di tahun 2014 mendatang, perseroan sudah dapat melakukan eksploitasi.

Menurut Direktur Utama PT Timah Tbk Sukrisno, pihaknya berencana melakukan eksplorasi dalam waktu enam bulan ke depan. Hingga saat ini, utusannya yang berjumlah 8 orang telah berangkat ke Myanmar untuk mengurus tempat tinggal dan kantor. Dia juga menyatakan bahwa ekspansi perseroan ke sana bukanlah karena penugasan tetapi sebagai investor.“Karena kita sebagai investor, kita menargetkan bagaimana return cepat kembali. Namun kalau penugasan beda persoalan. Dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi bisnis ini, kami sudah mendapatkan mitra lokal dan BUMN asal Myanmar”, jelas dia di Jakarta, Senin (9/9).

Dia menjelaskan bahwa untuk mitra lokal di sana akan dimulai saat perseroan melakukan eksploitasi, sedangkan BUMN dari Myanmar yang bergerak di bidang mining akan menjadi rekan kerja dengan partisipasi sekitar 5-10%. Ekspansi Timah ke Myanmar diproyeksikan menelan investasi sekitar Rp 2 triliun.

Nantinya, ekspansi perseroan ke Myanmar akan melalui dua anak usahanya yang bergerak di bidang smelter dan pertambangan untuk menggarap lahan timah. Disebutkan, nama anak usahanya yakni PT Timah Myanmar Mining yang bertanggung jawab di pertambangan dan PT Timah Myanmar untuk smelternya. Dimana kedua anak usaha ini, murni 100% penanaman modal asing dan bukan perusahaan patungan. Untuk pembagian keuntungannya, perseroan berharap pembagian profit sharing diharapkan bisa diperoleh persentase komposisi sebesar 80:20.

Sebagai informasi, perseroan juga menargetkan hingga akhir tahun harga timah dapat menembus US$25 ribu per metrik ton. Dengan adanya target harga ini, perseroan tidak khawatir dengan penurunan volume penjulan. Selain itu, Sukrisno juga menegaskan bahwa kenaikan harga timah ini membuat pendapatan perseroan stabil, “Kecenderungan peningkatan terlihat dari harga timah perseroan yang melonjak dari US$19 ribu per metrik ton hingga saat ini mencapai US$22.600 per metrik ton sehingga turunnya volume penjualan akan ter-cover,”paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Agung Nugroho menjelaskan, pihaknya juga telah melakukan pinjaman dana sebesar Rp3 triliun sebagai modal kerja perseroan yang di dapat dari beberapa bank baik lokal maupun asing.

Dia juga mengutarakan, setelah adanya peraturan yang mengharuskan ekspor timah melalui bursa komoditi dalam hal ini Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (BKDI) membuat jumlah ekspor perseroan menurun. Padahal sebelumnya produksi timah perseroan diekspor hingga 95%, sehingga menurut dia ada kemungkinan ekspor timah Indonesia hanya mencapai 2.000 ton setiap bulannya.

Dengan adanya peraturan ini, yang memaksa perdagangan timah harus melalui BKDI, perseroan telah menghentikan pengiriman timah dan menyatakan keadaan di luar kendali (force majeure). Hal ini disebabkan pelanggan belum menjadi anggota di BKDI, padahal pelanggan baru bisa melakukan transaksi jika sudah terdaftar sebagai anggota.(nurul)