Kenaikan Inflasi Pengaruhi Pasar obligasi

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta- Selain pasar saham, ekspektasi kenaikan inflasi yang lebih tinggi di akhir tahun berimbas pada kinerja pasar obligasi. Salah satunya, permintaan imbal hasil (yield) yang akan terus bergerak naik sehingga penerbit mau tidak mau harus membayar biaya lebih mahal akibat suku bunga (kupon) yang diminta investor mengalami kenaikan signifikan.

Analis obligasi PT Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, kenaikan yield tidak hanya pada obligasi korporasi, namun juga obligasi pemerintah. “Investor akan meminta kenaikan yield yang diminta pada setiap lelang. Secara historis, untuk seri SPN ada kenaikan 5-10 bps untuk yield yang dimenangkan. Sementara untuk seri FR itu bervariasi mulai dari 30-70 bps.” katanya di Jakarta, Selasa (3/9).

Menurut dia, hal tersebut disebabkan investor sudah berekspektasi angka inflasi masih akan mengalami peningkatan, apalagi kemudian BI rate juga naik. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kupon sehingga dapat terserap pasar dengan baik. “Kalau dari sisi demand saat ini belum ada masalah sehingga yang dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kuponnya sehingga tetap menarik.” ucapnya.

Memang, kata dia, dengan adanya kenaikan BI rate investor konservatif akan cenderung memilih untuk memperbanyak porsinya di perbankan karena dinilai risiko lebih kecil dan terukur. Terlebih dengan kondisi pasar yang bergejolak. Namun sebenarnya, sambung dia, ini saatnya investor masuk ke pasar. “Dengan yield yang tinggi artinya harganya sangat murah. Ini saatnya masuk ke pasar dengan horizon investasi yang lebih panjang,” jelasnya.

Mahalnya biaya yang harus ditanggung penerbit obligasi, sebelumnya tampak dari realisasi rencana penerbitan obligasi PT Jasa Marga Tbk. Untuk menarik investor, Jasa Marga menawarkan obligasi dengan indikasi kupon di kisaran 8,14% hingga 10,07% untuk empat seri obligasi dalam Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan I Jasa Marga Tahap I Tahun 2013 Seri S.

Meski demikian, Fakhrul memproyeksikan, penerbitan obligasi hingga akhir tahun ini bisa mencapai Rp55 triliun. Karena bagaimanapun, penerbitan obligasi akan lebih dipilih perseroan karena waktu pembayaran temponya lebih panjang dibanding cara pencarian dana yang lain. Tercatat, ada beberapa perusahaan yang tengah memproses izin penerbitan obligasi korporasi pada semester kedua tahun ini, antara lain PT Duta Anggada Realty Tbk (DART), PT Profesional Telekomunikasi Indonesia, PT Surya Artha Nusantara Finance, dan PT Ciputra Residence.

Diperkirakan emiten tersebut akan mencatatkan obligasi di periode Agustus-Oktober 2013 dengan nilai emisi sekitar Rp5,7 triliun. Dengan adanya tambahan emiten tersebut, total emisi obligasi pada 2013 mencapai Rp50 triliun. Sementara pada semester pertama tahun ini sudah ada 45 emisi dari 40 emiten yang telah menerbitkan obligasi senilai Rp43,840 triliun. (lia)