Indo Premier Rilis Reksa Dana Ekuitas

Optimis Terserap Pasar

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta – Meskipun kondisi pasar modal terus bergerak fluktuatif, tidak menyurutkan PT Indo Premier Investment Management (IPIM) untuk merilis produk baru di pasar modal sebagai alternatif investasi bagi pelaku pasar modal.

Bahkan perseroan optimistis bahwa produk investasi baru di pasar modal masih diminati investor meski kondisi pasar saham sedang bergejolak, “Produk baru di pasar modal masih tetap diminati, maka itu IPIM akan meluncurkan reksa dana 'Premier Ekuitas Makro Plus'. Produk itu berbeda dengan lainnya karena menggunakan konsep makro ekonomi domestik dan global yang mempengaruhi kinerja emiten,”kata Direktur Marketing Indo Premier Investment Management, Diah Sofiyanti di Jakarta, Senin (2/9).

Dia mengatakan, strategi seleksi emiten dilakukan pada sektor-sektor yang diekspektasikan memiliki potensi imbal hasil tinggi berdasarkan pertimbangan analisa makro ekonomi."Variabel makro ekonomi digunakan karena dapat ditemui pengaruhnya pada setiap sektor dan saham. Indikator makro yang akan menjadi acuan antara lain tingkat inflasi, mata uang, tingkat suku bunga, juga tingkat pengangguran," kata dia.

Selain itu, dirinya meyakini kondisi ekonomi Indonesia yang masih memiliki potensi pertumbuhan, pasar investasi di dalam negeri masih akan diminati terutama di pasar modal."Meski pasar bergejolak, Dana Kelolaan (AUM) kita tidak banyak turun, saat ini sebesar Rp1,2 triliun dan pada akhir tahun diharapkan mencapai Rp1,5 triliun," kata dia.

Menurut Sofi, di tengah kondisi pasar keuangan yang bergejolak akan mendorong penyertaan dalam produk reksa dana menjadi lebih tinggi. Sementara itu, Presiden Direktur IPIM, John D Item menargetkan dana kelolaan produk reksana Premier Ekuitas Makro Plus sebesar Rp100 miliar dalam satu tahun."Sudah ada investor yang siap menempatkan dananya di produk baru itu, meski beberapa investor ada juga yang masih khawatir di tengah kondisi pasar yang bergejolak, padahal saat ini harganya sudah cukup murah, semoga ideks BEI segera pulih," ujar dia.

Sebagai informasi, mengakhiri perdagangan Senin awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 93,856 poin (2,24%) ke level 4.101,233. Sementara Indeks LQ45 anjlok 22,248 poin (3,17%) ke level 678,818. Aksi jual kembali marak dilakukan investor asing seiring merespon negatif neraca perdagangan Indonesia. Seluruh lapisan saham melemah dengan koreksi rata-rata lebih dari dua persen. (bani)