Gunakan Biofuel, ESDM Klaim Bisa Hemat Rp7 Triliun

NERACA

Jakarta – Pemerintah mewajibkan pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biodiesel sebesar 10% sebagai campuran solar. Dari aturan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengklaim bisa menghemat pembiayaan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp7 triliun.

\"Kita harus berani memberikan subsidi ke gas karena itu produksi dalam negeri. Subsidi BBM kita ini kan sekitar Rp 100 triliun, dengan menggunakan gas akan terkurangi biayanya. Kita terlalu banyak mengimpor BBM. Gas salah satu yang kita dorong, cadangan gas kita sangat berlimpah ruah,\" ujarnya di Jakarta, Senin (2/9).

Jero mengatakan bahwa pengurangan konsumsi BBM sangat perlu dilakukan lantaran kondisi neraca perdagangan di tahun ini mengalami defisit yang terlalu parah karena masih impor migas dan juga permasalahan pelemahan rupiah. \"Premium, solar kita impor banyak sekali, besar sekali devisa yang digunakan. Maka kita mulai, ada kekhawatiran kalau terus saja impor BBM dengan tenang-tenang saja,\" jelas dia.

Untuk itu, Ia menghimbau agar seluruh masyarakat bisa berperan aktif untuk bisa mengkonversi BBM ke BBG. Namun, ia juga menghimbau agar intansi pemerintah juga melakukan hal yang sama. \"Minggu ini TNI, minggu depan Trans Jakarta meski bertahap. Ini dilakukan agar rakyat juga merasakan, karena ini kan jangka panjang sehingga akan murah dan didukung dengan karbondioksida nya sedikit. Inilah gerakan pemerintah,\" tutur dia.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo juga mengatakan, upaya pencampuran biofuel dengan solar bisa menghemat impor solar sebanyak 1,3 juta kiloliter (kl). \"Segmen transportasi dinaikan dari 7,5% jadi 10%, ini akan dilaksanakan Pertamina dan pelaku lainnya, Kemudian biosolar pelaku PLN paling tidak 20% dicampurkan biodiesel, dan Keperluan industri non PSO, pemanfaatan biodiesel tersebut sudah menjadi keharusan,\" ujar Susilo.

Susilo menegaskan, pihaknya telah menargetkan penghematan impor solar sebesar 1,3 juta kl dari penerapan percepatan dan peningkatan mandatory pemanfaatan biodisel pada tahun 2013 atau dari September hingga Desember. Sedangkan tahun depan penghematan impor solar akan mencapai 4,4 juta kl, sehingga pada tahun depan diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar US$4.096 juta.

Mandatory tersebut akan diberlakukan untuk seluruh badan usaha pemegang izin usaha niaga umum BBM dan pengguna langsung BBM, serta badan usaha penyedia tenaga listrik. \"Pengertian dari pengguna langsung BBM adalah perorangan maupun badan usaha yang menggunakan BBM untuk kepentingan sendiri dan tidak untuk komersial,\" tukasnya.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mengaku ingin meniru Brasil yang saat ini sukses mengganti solar menjadi biofuel dari Crude Palm Oil (CPO). Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan pihaknya baru bisa memasukkan 7,5% unsur alami dalam produk solar mereka. Sementara, untuk premium, baru 2,5% memiliki kandungan ethanol.

Karen yakin, jika pemerintah memiliki kemauan politik mengubah bahan bakar minyak (BBM) fosil menjadi berbasis bio. Syaratnya, semua perusahaan migas, tak cuma Pertamina, dikenai kewajiban serupa. Termasuk industri hilir, seperti PLN.

Dari perhitungan Pertamina, seandainya biofuel menggantikan sebagian bahan baku premium dan solar, penghematan yang tercipta cukup besar. \"Misalnya bisa efektif meningkatkan kandungan 20% untuk biosolar, maka satu tahunnya Pertamina bisa tidak mengimpor 3 juta kiloliter yang senilai US$ 2,5 miliar atau Rp30 triliun. Penghematan ini yang ingin saya kejar,\" kata Karen.

Diminta Serius

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto meminta pemerintah agar terus mendorong semua usaha untuk mengembangkan bahan bakar nabati. Kadin juga meminta pemerintah mendahulukan produksi dalam negeri sehingga kebijakan ini bukan hanya berdampak bagi lingkungan saja namun sekaligus dapat dirasakan langsung oleh para petani dan para pegiat usaha renewable energy di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah pernah mengeluarkan statement untuk mendorong terkuranginya pelepasan emisi gas rumah kaca guna bisa mengurangi efek negatif dari ancaman perubahan iklim. Kali ini, pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan serupa dalam hal peningkatan pemanfaatan bahan bakar nabati khususnya penggunaan biodiesel dalam bahan bakar solar.

Suryo mengatakan, kondisi perekonomian dunia saat ini yang tidak sehat dan berimbas ke dalam negeri, ditambah dengan defisit neraca perdagangan Indonesia saat ini telah menekan rupiah hingga nilai tukar Rupiah melemah terhadap mata uang dollar Amerika dirasa perlu untuk segera disikapi secara serius.

Menurut Suryo, Kadin Indonesia secara umum menyambut baik itikad ini namun perlu mengingatkan pemerintah agar kali ini bisa lebih serius dalam arti dorongan ini tidak hanya berhenti pada himbauan saja tanpa dilengkapi solusi hubungan hulu hilir dalam implementasinya.

Kadin berharap pemerintah untuk segera menetapkan langkah-langkah praktis atas kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan ini khususnya di bidang energi dalam tataran mandatori dimana segenap mata rantai instrumen di dalam negeri benar-benar bisa diberdayakan, tidak hanya sekedar terlihat sebagai himbauan seperti yang lalu.

Related posts