Tambak Percontohan Gairahkan Budidaya Udang - Target Produksi 608.000 Ton di 2013

NERACA

Pekalongan – Program tambak percontohan yang menjadi bagian dari agenda revitalisasi tambak untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya kini mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Model tambak percontohan yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menggairahkan usaha budidaya udang. Hal ini terbukti dengan keberhasilan tambak percontohan yang berada di Desa Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

“Jadi untuk tambak kita gunakan lahan-lahan yang idle (terbengkalai), karena di Jawa Tengah ini lahannya sangat luas. Di Pekalongan saja ada sekitar 800 hektar yang idle. Kita tidak akan menambah luasan, tapi kita akan menghidupkan kembali tambak-tambak yang idle ini untuk kita manfaatkan,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, di Kota Pekalongan, Sabtu (31/8).

Tambak yang dulunya terbengkalai, saat ini sudah mampu berproduksi dan dikelola oleh masyarakat sekitar lokasi tambak. “Tahun ini target kita 608.000 ton. Untuk Jawa Tengah dari 608.000 itu paling sekitar 20%. Kita harapkan kita bisa lebih, karena luas lahannya cukup banyak,” imbuhnya.

Program tambak percontohan di wilayah area terbengkalai ini, menurut Slamet, dimaksudkan untuk menstimulasi para pembudidaya untuk ikut serta dan meningkatkan produksi. “Kita akan menghidupkan kembali yang idle. Dana pemerintah sangat terbatas, tidak akan bisa membuat semua itu hidup. Yang akan mencontoh adalah masyarakat. Keuangannya adalah perbankan. Yang akan melakukan masyarakat. Pemerintah kan terbatas dananya,” papar Slamet.

Namun, menurut Slamet, program revitalisasi tambak berikut tambak percontohan ini tidak melulu dilakukan di budidaya air payau di wilayah pesisir. Namun, budidaya air laut dan air tawar juga menjadi sasaran dari peningkatan produksi perikanan budidaya nasional.

“Mereka pun kita perhatikan. Kayak lele, patin, rumput laut, nila, tetap kita perhatikan. Untuk di air tawar, problemnya adalah pakan. Sehingga kita bisa menekan dan mengefisiensikan pakan ini. Mereka pun kita bantu, kita bina. Kita berikan mesin pelet untuk pembudidaya air tawar,” ujarnya.

Program revitalisasi tambak ini, menurut dia, juga disertai dengan kewajiban para petambak dalam penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). “Pembudidaya harus berpedoman pada CBIB, harus disiplin pada penggunaan SOP-nya. Harus ada CBIB, yaitu satu pengelolaan bio security-nya. Kedua, penggunaan benurnya, benihnya, harus bebas virus. Benihnya atau benurnya harus unggul, yang pertumbuhannya cepat. Yang berikutnya adalah mitigasi penyakit. Ke depannya kita tidak berpedoman mengobati penyakit, tapi mencegah penyakit. Teknik produksi kita tingkatkan dengan teknologi,” sebutnya.

Tingkatkan Produksi

Menurut Slamet, pengembangan budidaya di tambak-tambak idle akan meningkatkan produktivitas lahan, menggairahkan kembali usaha budidaya udang, meningkatkan produksi udang dan sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petambak di sekitarnya. “Apalagi saat ini, udang kembali menjadi primadona dengan harga yang cukup tinggi dan tingkat keberhasilan budidaya yang bagus,” ungkapnya.

Pemanfaatan dan pengembangan tambak idle/terlantar di Desa Degayu, Kota Pekalongan telah dilaksanakan sejak tahun 2011 oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara bekerja sama dengan Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian Kota Pekalongan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Tengah. Saat ini Bank Indonesia (BI) telah mendukung pengembangan usaha ini melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

“Pengembangan usaha budidaya udang di suatu wilayah memerlukan adanya sinergi, kerjasama dan koordinasi semua pemangku kepentingan di wilayah tersebut. Tanpa adanya sinergi, mustahil usaha tersebut dapat berkembang,” tambah Slamet.

Pada awalnya, di tahun 2011, BBPBAP Jepara melaksanakan diseminasi kegiatan budidaya udang vaname di tambak seluas 1 ha. Teknologi yang diterapkan adalah Sistem Budidaya Udang Tertutup (Closed System : tanpa melakukan pembuangan air), dengan biosecurity yang ketat, seperti menggunakan benih bebas virus, pemasangan pagar di sekeliling tambak dan juga penggunaan plastic mulsa di dasar tambak.

“Saat ini usaha budidaya udang di daerah ini telah berkembang menjadi kurang lebih 30 ha dan dikelola oleh tiga kelompok dengan pengawalan teknis tetap dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui UPT BBPBAP Jepara, melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Ini menunjukkan bahwa gairah masyarakat untuk berbudidaya udang telah meningkat dan hal ini didukung oleh pemerintah daerah setempat,” ungkap Slamet.

Sampai dengan bulan Agustus 2013, telah dilakukan tiga kali siklus budidaya. Pada siklus ketiga yaitu periode Maret – Agustus 2013, dari 3,8 ha tambak yang diusahakan, dengan penebaran benih 300 ribu ekor, berhasil dipanen udang sebanyak 4 ton dengan ukuran sekitar 65 - 67 ekor/kg.

“Ini bukti bahwa tambak yang dulunya terbengkalai tanpa hasil, saat ini telah menghasilkan udang dengan produktivitas yang cukup membanggakan dan menggembirakan. Keberhasilan ini merupakan keberhasilan bersama dan harus tetap dipertahankan untuk mendukung pencapaian peningkatan produksi udang,” tutup Slamet.

Related posts