Laba PGN Capai US$457,5 Juta

NERACA

Jakarta- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan pendapatan neto sebesar US$1,49 miliar, meningkat 26% dari US$1,18 miliar di tahun lalu. Dengan meningkatnya pendapatan tersebut, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 12% menjadi US$457,5 juta dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$409,8 juta.

Pencapaian tersebut ditopang dari meningkatnya pendapatan distribusi dan transmisi serta pendapatan anak perusahaan. Tercatat, pendapatan dari usaha distribusi dan transmisi perseroan dan anak perusahaan meningkat sebesar 26% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dengan kenaikan volume distribusi dari 800 Mmscfd menjadi 827 Mmscfd.“Peningkatan volume distribusi gas oleh PGN pada semester pertama 2013 sejalan dengan meningkatnya volume pasokan yang diperoleh dari pemasok, meskipun usaha distribusi PGN di SBU 3, Sumatera Utara mengalami penurunan.” kata Direktur Utama PGAS, Hendi Prio Santoso dalam keterangan resminya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, turunnya distribusi perseroan di SBU 3, Sumatera Utara disebabkan penurunan alamiah di sumur gas milik pemasok. Ke depan, perseroan akan tetap melanjutkan upaya untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia enegi yang handal dan memberikan nilai tambah melalui usaha upstream, midstream, dan downstream.

Selain itu, perseroan juga akan meningkatkan kapasitas perusahaan dalam industri hulu minyak dan gas bumi melalui penyertaan atau akuisisi terhadap blok-blok minyak dan gas bumi. Hingga Juni 2013, perseroan melalui anak perusahaan, PT Saka Energi Indonesia telah melakukan penyertaan di 3 blok minyak dan gas bumi Indonesia, antara lain Blok Ketapang di Jawa Timur sebesar 20%, Blok Bangkanai di Kalimantan Tengah sebesar 30%, dan blok Pangkah di Jawa Timur sebesar 25%.

Dari sisi beban pokok pendapatan, sambung dia, kenaikan harga beli gas dari pemasok mulai 1 September 2012 dan 1 April 2013 mempengaruhi beban pokok pendapatan semester pertama 2013 sebesar 71% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kondisi ekonomi global juga mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan semester pertama 2013. Termasuk kebijakan ekonomi jepang untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi yang mempengaruhi pelemahan nilai tukar mata uang Yen.

Mulai membaiknya perekonomian Amerika Serikat yang diikuti penguatan nilai tukar mata uang dolar, juga berpengaruh terhadap pendapatan selisih kurs dan transaksi dari kegiatan usaha perseroan dalam mata uang asing. “Pelemahan mata uang asing terhadap mata uang dolar memberikan keuntungan selisih kurs (neto) sebesar US$ 68,2 juta.” ujarnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Laba Bersih Hartadinata Tumbuh 28,4%

NERACA Jakarta – Sepanjang kuartal tiga 2017, PT Hartadinata Abadi Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 95 miliar atau naik…

PTBA Raup Laba Bersih Rp 2,63 Triliun - Buah Hasil Efisiensi

NERACA Jakarta – Kerja keras PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menekan efisiensi, berbuah manis. Pasalnya, perusahaan batubara plat merah ini…

BNI Syariah Bukukan Laba Rp246 miliar

      NERACA   Jakarta - BNI Syariah membukukan laba bersih Rp246 miliar pada triwulan III-2017, tumbuh 14,6 persen…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sidang Dugaan Monopoli Aqua - Saksi Ahli : Praktik Monopoli Mutlak Dilarang

Dari sidang lanjutan atas dugaan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan PT Tirta Investama dan PT Balina …

Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - KAI Tawarkan Kupon Bunga Hingga 8%

NERACA Jakarta – Danai pengembangan ekspansi bisnisnya dan termasuk peremajaan armada, PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana menerbitkan obligasi I…

Laba Bersih Hartadinata Tumbuh 28,4%

NERACA Jakarta – Sepanjang kuartal tiga 2017, PT Hartadinata Abadi Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 95 miliar atau naik…