Gapura Prima Agendakan Buyback Saham

NERACA

Jakarta – Jika emiten properti seperti PT Intiland Development Tbk (DILD) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) tidak akan melakukan pembelian saham kembali atau buyback, sebaliknya PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) berencana melakukan buyback. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (29/8).

Kata Sekretaris Perusahaan PT Perdana Gapuraprima Tbk, Rosihan Saad, langkah buyback itu mengingat kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Akan tetapi perseroan belum dapat menjelaskan lebih detil mengenai buyback itu. \"Masih dibicarakan minggu depan,”ujarnya.

Pada perdagangan saham Kamis kemarin, saham GPRA berada di level Rp141 per saham atau naik 3,67%. Saham GPRA di level tertinggi Rp141 per saham dan level terendah Rp130 per saham. Nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp256,41 juta. Frekuensi perdagangan saham sekitar 109 kali.

Sementara OJK telah memberikan lampu hijau pada perusahaan plat merah yang ingin melakukan buy back. Proses selanjutnya, yakni tergantung dana masing-masing perusahaan, “Saya hanya menyediakan aturannya. Pokoknya Tergantung kocek masing-masing,”kata ketua OJK Muliaman D Hadad.

Dia menuturkan, OJK belum memantau perusahaan mana saja yang melakukan buy back. Meski demikian, kebijakan tersebut memang tergantung dari aksi perusahaan sendiri. “Kita terus sosialisasi ke para emiten, ya kemarin kita juga panggilin jadi takut ada yang belum paham, udah kita selesaikan,\" ujar Muliaman.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito membantah, bila buy back saham yang dilakukan oleh perusahaan BUMN akan merugikan negara, termasuk emitan BUMN itu sendiri, “Hal itu tidak akan terjadi, bahkan langkah itu akan baik mendorong IHSG untuk menguat dan juga baik bagi perusahaan BUMN yang sudah melantai di pasar modal,”tegasnya.

Menurutnya, sejauh ini banyak pemberitaan yang menggambarkan adanya ketidakpahaman tentang kebijakan buy back saham. Pada akhirnya banyak yang melakukan kesalahan karena tidak memahami secara komprehensif kebijakan yang diharapkan dapat mengangkat kembali kinerja IHSG, “Banyak pihak tak pahami buy back saham dengan baik sehingga komentar diluar koridor. Buy back saham itu hanya dilakukan oleh emiten atas saham emiten bersangkutan. Setiap manajemen melihat harga saham di pasar lebih rendah dari riil pasti mereka putuskan buy back, nanti ketika butuh modal mereka akan jual lagi, “paparnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Urban Jakarta Bidik Penjualan Rp 240 Miliar - Harga IPO Rp 1000-1250 Per Saham

NERACA Jakarta – Tren pengembangan proyek properti berbasis transit oriented development (TOD) cukup menjanjikan kedepannya, apalagi pembangunan LRT yang digarap…

TOTO Bagikan Dividen Rp 10 Per Saham

PT Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO) bakal bagi-bagi dividen tunai dari laba tahun buku 2018 kepada pemegang saham. Emiten yang…

UOB Kay Hian Holding Beli 5% Saham YELO - Miliki Prospek Bisnis Bagus

NERACA Jakarta –Keyakinan memiliki prospek pasar bisnis yang cukup menjanjikan, perdagangan saham PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) banyak aktif…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perdagangan Saham DIGI Disuspensi

Lantaran terjadi peningkatan harga saham yang signifikan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara atau suspensi perdagangan saham PT…

BEI Dorong Perusahaan di DIY Go Public

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong perusahaan di daerah itu baik milik swasta maupun badan usaha…

MAYA Bagi Dividen Interim Rp 223,19 Miliar

PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA) akan membagikan dividen tengah tahun sebesar Rp35 per lembar saham. Hal itu sesuai dengan…