Naikkan atau Turunkan Prestasi Akademik Anak?

Menonton TV

Sabtu, 07/09/2013

Televisi bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Satu sisi merugikan, di sisi lain menguntungkan. Meskipun banyak menonton televisi dinilai beresiko menurunkan kemampuan otak anak-anak, televisi juga memiliki keuntungan yang justru mendorong minat anak untuk belajar

NERACA

Hampir sebagian besar anak menghabiskan waktunya di rumah untuk menonton televisi. Seiring pertumbuhan teknologi yang demikian pesatnya, anak-anak lebih senang menonton televisi ketimbang bermain di luar. Selain itu, sikap orang tua yang membatasi anak beraktivitas di luar dengan alasan keamanan atau kesehatan juga merupakan faktor pemicu kebiasaan ini.

Lantas seperti apa korelasi antara televisi dengan kemampuan akademik anak? Sudah menjadi rahasia umum bahwa televisi memiliki dampak buruk yang mengancam bagi anak. Layaknya makanan cepat saji, jika tidak ada batasan yang jelas, banyak menonton televisi memiliki risiko gaya hidup tidak sehat pula.

Lebih jauh lagi, dari sejumlah penelitian menyebutkan bahwa pengaruh terlalu sering menonton televisi bagi anak-anak, diantaranya adalah memengaruhi perkembangan otak. Bagi balita di bawah 3 tahun, terlalu sering melihat televisi akan mengalami gangguan bicara, menghambat kemampuan membaca secara verbal maupun pemahaman, serta menghambat kemampuan berekspresi melalui tulisan.

Sedangkan pada usia 5-10 tahun, terlalu sering menonton televisi akan berefek pada peningkatan agresivitas serta kekerasan dan tidak mampu membedakan antara realita atau kenyataan dengan imajinasi atau khayalan.

Anggota lembaga badan perkembangan mentalitas Inggris, British Psychological Society, Dr Aric Sigman mengungkapkan, anak-anak yang berusia di bawah tiga tahun sebaiknya hanya sedikit atau tidak ada waktu untuk menonton televisi setiap hari, anak berusia tiga hingga tujuh tahun seharusnya boleh menonton televisi tidak lebih dari 90 menit, sedangkan untuk remaja hingga usia 18 tahun sebaiknya hanya boleh menonton televisi maksimal dua jam setiap hari.

“Anak-anak yang dibiasakan memiliki televisi di kamar tidur cenderung tidak atau belum bisa membaca pada usia 6 tahun,” tambah dia.

Dorong Minat Belajar

Meskipun menonton televisi mempunyai pengaruh negatif, namun mempunyai keuntungan, sebagai media edukasi justru mendorong minat anak untuk belajar. Kontradiktif dengan pemahaman selama ini yang cenderung menyalahkan televisi karena menurunkan kemampuan otak anak, penelitian yang dilakukan oleh University of London menyimpulkan bahwa anak-anak yang menonton televisi 3 jam atau lebih dalam sehari ternyata mendapatkan manfaat lebih banyak dalam kemampuan akademik dibandingkan rekan sebayanya yang menonton televisi kurang dari 1 jam perhari.

Menurut Dr Alice Sullivan, akademisi senior di Instititute of Education universitas tersebut, manfaat pendidikan dari menonton telvisi sudah dinilai secara rendah. "Menonton televisi bahkan membantu anak-anak belajar mengenai kosa kata yang lebih luas ketimbang yang diperoleh di rumah," kata dia

Selain itu, riset yang dilakukan para peneliti dari University of London ini juga menyatakan bahwa aturan yang ditetapkan para orangtua yang diharapkan bisa membantu perkembangan akademik anak, misalnya menetapkan jam makan dan tidur yang teratur, ternyata hanya memberikan sedikit pengaruh.

Dalam penelitian yang membandingkan anak-anak dari kelas sosial yang sama, waktu makan tertentu hanya memberikan manfaat sekitar 6 minggu dalam hal kemampuan menulis dan membaca sementara mengatur jam tidur memberikan hanya 2 bulan lebih awal manfaat.

Analisis ini menyimpulkan bahwa, kelas sosial dan pendidikan khusus para orangtua merupakan faktor dominan dalam mengetahui seberapa baik anak-anak maju secara akademis. Diketahui bahwa anak-anak yang para orangtuanya mempunyai penghasilan tetap dan bagus ternyata satu tahun lebih cepat belajar dibandingkan anak-anak yang orang tuanya bekerja di sektor informal dan kurang keahlian.

Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Sociology menggunakan data 11 ribu anak-anak Inggris yang diikuti perkembangannya sejak lahir, sebagai bagian dari projek jangka panjang yang disebut Millenium cohort Study.