Telkom Resmi Stock Split Saham Ratio 1: 5 - Tingkatkan Likuiditas

NERACA

Jakarta – Dampak pelemahan rupiah dan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) memaksa PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) untuk melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split).

Vice President Public Relations Telkom, Arif Prabowo mengatakan, perseroan telah melakukan pemecahan nilai nominal saham dengan ratio 1:5 pada 28 Agustus 2013, “Stock split dilaksanakan, di mana satu saham dengan nilai nominal Rp250 akan dipecah menjadi lima saham dengan nilai nominal Rp50 per saham,”ujarnya di Jakarta, Rabu (28/8).

Menurutnya, saat ini walaupun harga nominal saham Telkom Rp250 per saham, namun harga market atau harga transaksi adalah rata-rata Rp11.591 berdasarkan data 30 hari terakhir. Stock split, menurut Arif Prabowo dapat memperbesar jumlah saham yang beredar dan diharapkan mampu meningkatkan likuiditas saham.

Di samping itu, dengan pemecahan saham ini akan meningkatkan affordability dengan tujuan investor retail dapat melakukan investasi pada saham Telkom, “Langkah stock split diharapkan mampu meningkatkan transaksi perdagangan saham perseroan karena kini harganya lebih terjangkau,\" ujar Arif Prabowo.

Dia menambahkan, jika harga saham yang ditawarkan tidak terlalu tinggi maka diharapkan banyak investor yang tertarik membeli saham Telkom sehingga volume perdagangan pun akan meningkat karena saham tersebut aktif diperdagangkan dan akan semakin likuid. Hal tersebut akan diikuti dengan kenaikan return saham, sehingga saham Telkom menjadi semakin menarik di mata investor.

Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Telkom telah menyetujui pelaksanaan pemecahan saham (stock split) 1 menjadi 5. Pada hari pertama Telkom menjalankan langkah korporasi stock split, indeks saham perusahaan telekomunikasi merah putih ini mengalami kenaikan hingga 6,17% dari harga pembukaan di Rp2.025 per lembar saham menjadi Rp2.150.

Perseroan menjadwalkan pelaksanaan stock split tersebut pada 27 Agustus 2013, dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan pasar negosiasi. Lalu awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar reguler dan negosiasi pada 28 Agustus 2013. Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Arief Yahya pernah bilang, perseroan telah melakukan stress test terkait pelemahan rupiah menyusul tingginya utang perusahaan pelat merah ini dalam bentuk dollar Amerika Serikat (AS), “Ini dilakukan guna mengantisipasi terjadinya krisis,\"paparnya.

Saat ini, menurut dia, Telkom sendiri masih memiliki cadangan valuta asing sekitar US$ 100 juta. Dengan cadangan tersebut, perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu masih dapat memenuhi kewajibannya. Sebagai gambaran, porsi utang valas Telkom hanya 28% dari total utang yang ada saat ini. Khusus 2013 perseroan tidak memiliki kewajiban membayar utang valas, sehingga depresiasi rupiah tidak terlalu mempengaruhi performa perseroan.

Pada semester I-2013 ini, perseroan mencatatkan total liabilitas naik menjadi Rp 46,72 triliun dari posisi Desember 2012 sebesar Rp 44,39 triliun. (bani)

Related posts