Rupiah Jeblok, XL Malah Ngutang US$ 100 Juta - Danai Belanja Modal

NERACA

Jakarta – Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar terkoreksi tajam, tidak membuat ciut perusahaan untuk mendapatkan pinjaman dalam bentuk dolar. Hal inilah yang dilakukan PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang memperoleh pinjaman sebesar US$100 juta dari Bank of Tokyo Mitsubishi. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (27/8).

Kata Sekretaris Perusahaan PT XL Axiata Tbk, Murni Nurdini, dana pinjaman tersebut akan digunakan untuk keperluan belanja modal tahunan perseroan. Disebutkan, pinjaman tersebut memiliki jangka waktu tiga tahun tanpa jaminan,“Perjanjian kreditnya sudah dilakukan perseroan dengan penandatanganan perjanjian pada Senin kemarin. Penggunaan fasilitas kredit untuk keperluan belanja modal tahunan. Fasilitas kredit itu memiliki jangka waktu tiga tahun dan tanpa jaminan”, ujar dia.

Perseroan pada Mei sebelumnya juga mendapatkan pinjaman dari Standard Chartered Bank senilai US$50 juta dengan jangka waktu lima tahun yang mulaiberlaku sejak 13 Juni lalu. Sama halnya dengan pinjaman pada Bank of Tokyo Mitsubishi, pinjaman senilai US$50 juta digunakan untuk keperluan belanja modal tahunan juga. Pada Maret lalu, perseroan juga telah meminjam pada Bank of Tokyo-Mitsubishi senilai US$110 juta.

Sebelumnya, Head of Research PT Bahana Securities Harry Su pernah bilang, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya memberikan dampak negatif terhadap pasar saham Indonesia, tetapi juga utang perseroan dalam bentuk dolar, “Emiten yang memiliki banyak utang dolar dalam situasi saat ini akan sulit. Sebaliknya saham yang revenue-nya baik akan stabil di pasar,”ujar dia.

Pada tahun 2013 ini, PT XL Axiata Tbk menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) mencapai Rp9 triliun yang diperoleh dari pinjaman dan kas internal. Dana ini akan difokuskan untuk mengembangkan layanan data.

Hingga akhir semester pertama 2013, XL telah membelanjakan Rp 4 triliun untuk investasi dalam infrastruktur data. Sementara kinerja semester pertama 2013, XL kurang memuaskan dengan koreksi laba 54% menjadi Rp 670 miliar dibandingkan periode semester 1 tahun lalu mencapai Rp 1,46 triliun. Pendapatan bersih perseroan pada semester pertama juga hanya mengalami kenaikan 1% menjadi Rp 10,3 triliun dari posisi sebelumnya Rp 10,2 triliun. Naiknya pendapatan dipicu oleh kenaikan pendapatan layanan data sebesar 13%.

Hingga semester pertama tahun ini, perseroan memiliki liabilitas jangka panjang mencapai Rp15,06 triliun dari periode 31 Desember 2012 senilai Rp11,34 triliun. Liabilitas jangka pendek mencapai Rp8,43 triliun pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 senilai Rp8,73 triliun. (nurul)

BERITA TERKAIT

Wallex Bidik Remitansi US$ 10 Juta Perbulan - Resmi Beroperasi di Indonesia

NERACA Jakarta - Setelah beroperasi di Singapura, Wallex Technologies (Wallex.Asia) merambah bisnisnya di Indonesia. Sebelum menjalankan kegiatannya, perusahaan teknologi finansial…

Cadangan Devisa Naik US$400 Juta

    NERACA   Jakarta - Cadangan devisa Indonesia naik sekitar 400 juta dolar AS menjadi 115,2 miliar dolar AS…

Laporan Belanja Pajak, Langkah Maju "Good Governance"

Oleh: Andi Zulfikar, Staf KPP Pratama Bantaeng Ditjen Pajak *)             Sebuah langkah maju dilakukan pemerintah dengan menerbitkan Laporan Belanja…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Investor Pasar Modal di Kalsel Capai 22,26%

Direktur Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 9 Kalimantan, M Nurdin Subandi mengatakan, jumlah investor pasar modal di Kalimantan Selatan…

BEI Catatkan Rekor Baru Emiten Terbanyak

NERACA Jakarta – Tahun 2018 menjadi catatan sejarah bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, sepanjang tahun ini ada 50…

Pendapatan Toba Bara Tumbuh 43,95%

Di kuartal tiga 2018, PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) membukukan pendapatan sebesar US$ 304,10 juta, naik 43,95% dari periode…