Industri Tempe-Tahu Pangkas Separuh Volume Produksi

Nilai Rupiah Melemah, Harga Kedelai Melambung

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta - Para perajin tahu-tempe di Indonesia mulai merasakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) yang berimbas pada harga kedelai impor. Harga kedelai sebagai bahan baku utama produksi tahu dan tempe naik signifikan sehingga memaksa industri kecil di sektor itu mengalami pemangkasan produksi.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Euis Saedah menjelaskan, selama ini 70% impor kedelai diserap produsen tahu dan tempe, sisanya oleh industri susu. Tahun lalu total impor kedelai 1,6 juta ton dan sebagian besar diserap produksi tahu serta tempe. "Hingga akhir tahun, kebutuhan nasiohal kedelai mencapai 2,5 juta ton," paparnya saat dihubungi Neraca, Selasa (27/8).

Untuk, mengatasi kenaikan harga kedelai tersebut, lanjut Euis, pemerintah akan mengatur tata niaga impor kedelai. Tata niaga impor kedelai bisa diatur dengan pembebasan bea masuk agar harga kedelai tidak mengalami lonjakan yang tinggi.

Euis juga berharap ada informasi yang jelas dari importir mengenai lonjakan harga kedelai. Karena ketiadaan informasi mengenai kenaikan harga kedelai, produsen tahu dan tempe kesulitan mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan biaya produksinya.

Sementara itu, sebanyak 10 ribu lebih perajin tahu dan tempe mengurangi jumlah produksinya setiap hari hampir 30-40%. "Jadi dari 115.000 perajin tahu dan tempe itu 10% (11.500 perajin) melakukan perlambatan produksi dari biasanya per hari mereka bisa produksi 100 kg kini hanya 50 kg saja," ungkapnya.

Perajin yang paling banyak melakukan pengurangan produksi antaralain di Aceh dari 300 perajin hanya 100 pengrajin yang berproduksi normal. Begitupula dengan daerah lain seperti di Musi Banyuasin (Palembang), Kulonprogo (Yogyakarta). Bahkan banyak juga di antara perajin yang melakukan aksi demo terkait dampak mahalnya harga kedelai impor seperti yang terjadi di Aceh dan Kulonprogo.

"Harga kedelai itu tergantung daerahnya seperti di DKI Jakarta harganya itu Rp 8.500-8.700/kg, di Kulonprogo sudah 9.200/kg di Cilacap juga sama. Musi Banyuasin lebih dari Rp 9.000/kg harga normal itu kalau rupiah tidak melemah hanya Rp 7.500-7.700/kg," tuturnya.

Pengusaha tahu tempe di Kampung Rengas, Tipar Cakung, Cilincing, Jakarta Utara mengeluhkan kenaikan harga kacang kedelai karena melemahnya nilai tukar Rupiah. Biaya produksi yang meningkat membuat pendapatan menurun drastis.

"Memang pendapatan berkurang, paling terasa sekali, apalagi dengan harga kacang kedelai. Biaya produksi kita hanya bisa menutup modal produksi selanjutnya," ujar Cahyono bin Said

Cahyono menuturkan, untuk tiga hari, dia membutuhkan 50.000 kilogram kedelai sebagai bahan baku produksi tempe. Saat ini, kacang kedelai impor dijual dengan harga Rp 900.000 per kwintal.

Akibat kenaikan harga kedelai yang tak wajar dan telah menembus angka Rp 9000/Kg, produsen tempe dan tahu di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, akan melakukan mogok produksi massal selama tiga hari.

Aksi mogok ini dilakukan agar pemerintah melakukan langkah strategis mengendalikan harga kedelai impor. Aksi mogok produksi ini pernah dilakukan tahun 2012 lalu saat harga kedelai impor melonjak tajam dan tak terkendali.

Walaupun begitu, kapan mogok produksi 3 hari akan dilakukan, para produsen dan pengrajin tahu tempe, masih melihat perkembangan harga kedelai dalam satu dua hari ini sekaligus melihat langkah pemerintah untuk mengatasinya.

Mogok Produksi

Sekretaris Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) Suyanto, keputusan mogok produksi massal selama 3 hari yang akan dilakukan para produsen dan pengrajin tahu tempe di DKI Jakarta ini, merupakan hasil keputusan rapat Puskopti (Pusat Koperasi Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) DKI Jakarta.

"Sudah diputuskan dalam rapat kemarin, kami akan mogok produksi. Kapan akan dimulainya belum ditentukan, karena keputusan ini akan kami bawa ke rapat Gakopti (Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) terlebih dahulu," kata Suyanto.

Selain itu, kata Suyanto pihaknya masih melihat perkembangan dalam satu dua hari ini sekaligus melihat adakah langkah serius pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

Aksi mogok produksi ini, kata Suyanto, terpaksa dilakukan pihaknya karena hingga saat ini pemerintah masih belum melakukan langkah strategis untuk menekan kenaikan harga kedelai yang diprediksi akan terus terjadi hingga Oktober nanti.

Pemerintah terutama Badan Urusan Logistik (Bulog) seharusnya segera merealisasikan Peraturan Presiden nomor 32 tahun 2013 tentang penugasan kepada Bulog untuk Pengamanan harga dan Penyaluran Kedelai serta Permendag nomor 26/M-DAG/PER/5/2013 yang menyatakan harga beli kedelai kepada petani dipatok Rp 7.000 dan harga kepada pengrajin sebesar Rp 7.450.